Materi Pembelajaran 15
Ringkasan
Materi ini memberikan pandangan strategis mengenai evolusi kewirausahaan di tengah percepatan teknologi dan perubahan demografis global.
Pembahasan mencakup tren kewirausahaan masa depan yang berfokus pada keberlanjutan dan digitalisasi, dinamika perdagangan internasional, serta analisis mendalam terhadap perilaku konsumen Generasi Z dan Alpha. Materi ini juga mengeksplorasi peran transformatif AI dan teknologi canggih dalam model bisnis modern, serta menekankan pentingnya pembelajaran seumur hidup (lifelong learning) sebagai strategi adaptasi utama bagi wirausahawan masa depan.Kata Kunci
Kewirausahaan Masa Depan, Globalisasi, Generasi Z,
Generasi Alpha, Kecerdasan Buatan (AI), Ekonomi Sirkular, Perdagangan
Internasional, Adaptasi Strategis.
I. Tren Kewirausahaan Masa Depan
Dunia kewirausahaan sedang mengalami pergeseran paradigma
dari fokus murni pada profit menuju "Keseimbangan Triple Bottom Line"
(People, Planet, Profit).
1.1 Ekonomi Sirkular dan Green Entrepreneurship
Wirausahawan masa depan tidak lagi memandang limbah sebagai
akhir, melainkan sebagai input. Model bisnis berbasis langganan (subscription)
dan penggunaan kembali material menjadi standar industri untuk menekan jejak
karbon.
1.2 Hiper-Personalisasi
Dengan dukungan data besar (Big Data), tren masa
depan bergerak menuju produk dan layanan yang dibuat khusus untuk individu,
bukan lagi produksi massal yang seragam.
II. Kewirausahaan Global dan Perdagangan Internasional
Globalisasi tidak lagi terbatas pada perusahaan
multinasional besar. Era "Born Global" telah tiba, di mana startup
kecil dapat langsung mengakses pasar internasional sejak hari pertama.
2.1 E-Commerce Lintas Batas (Cross-border)
Infrastruktur logistik digital dan sistem pembayaran global
memungkinkan UMKM di Indonesia menjual produk langsung ke konsumen di Eropa
atau Amerika tanpa perantara tradisional.
2.2 Tantangan Geopolitik dan Lokalisasi
Meskipun pasar bersifat global, wirausahawan harus
beradaptasi dengan tren "Glocalization"—berpikir global namun
bertindak lokal. Ini mencakup kepatuhan terhadap regulasi data antarnegara
(seperti GDPR) dan adaptasi budaya terhadap konten pemasaran.
III. Perilaku Konsumen Generasi Z dan Alpha
Memahami konsumen masa depan adalah kunci keberlanjutan
bisnis. Generasi Z (lahir 1997-2012) dan Generasi Alpha (lahir 2010-an-2025)
memiliki ekspektasi yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya.
3.1 Karakteristik Generasi Z
- Digital
Natives: Mereka tidak mengenal dunia tanpa internet.
- Value-Driven:
Mereka cenderung memboikot merek yang tidak memiliki sikap sosial atau
lingkungan yang jelas.
- Authenticity:
Mereka lebih mempercayai micro-influencer dan ulasan jujur daripada
iklan selebritas besar.
3.2 Karakteristik Generasi Alpha
- Screenagers
& AI-Involved: Mereka tumbuh dengan asisten suara (Alexa/Siri) dan
berinteraksi di ruang virtual seperti Roblox atau Metaverse.
- Phygital
Experience: Mereka mengharapkan integrasi mulus antara dunia fisik dan
digital (Physical + Digital).
IV. Peran Teknologi Canggih dan Kecerdasan Buatan (AI)
AI bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan mitra strategis
dalam setiap fungsi bisnis.
4.1 Generative AI dalam Operasional
Penggunaan AI untuk otomatisasi layanan pelanggan
(Chatbots), pembuatan konten pemasaran otomatis, hingga analisis prediksi stok
barang secara real-time.
4.2 Blockchain dan Keamanan Data
Teknologi Decentralized Finance (DeFi) dan Smart
Contracts mulai digunakan untuk mengamankan transaksi internasional dan
memastikan transparansi rantai pasok.
V. Adaptasi Berkelanjutan dan Pembelajaran Seumur Hidup
Di era di mana pengetahuan teknis bisa menjadi usang dalam
waktu 2-3 tahun, kemampuan untuk "belajar cara belajar" adalah aset
terpenting.
5.1 Reskilling dan Upskilling
Wirausahawan harus terus memperbarui keterampilan mereka,
terutama di bidang literasi data, kepemimpinan empati, dan pemikiran sistem.
5.2 Resiliensi Mental
Dunia yang VUCA (Volatile, Uncertain, Complex, Ambiguous)
menuntut ketangguhan mental. Kegagalan dipandang sebagai data, bukan akhir dari
karier.
VI. Kesimpulan
Masa depan kewirausahaan ditentukan oleh kemampuan manusia
untuk bersinergi dengan teknologi canggih tanpa kehilangan sentuhan kemanusiaan
dan kepedulian lingkungan. Dominasi konsumen Generasi Z dan Alpha menuntut
transparansi, etika, dan pengalaman digital yang mulus. Globalisasi tidak lagi
tentang ukuran perusahaan, melainkan tentang ketangkasan adaptasi. Hanya
wirausahawan yang berkomitmen pada pembelajaran seumur hidup dan integrasi AI
yang etis yang akan mampu memimpin pasar global yang semakin kompleks dan
kompetitif.
VII. Glosarium (20 Istilah)
- AI-Native:
Perusahaan yang sejak awal didirikan dengan AI sebagai inti proses
bisnisnya.
- Blockchain:
Sistem pencatatan transaksi digital yang terdesentralisasi dan sangat
aman.
- Born
Global: Perusahaan rintisan yang menyasar pasar internasional sejak
awal berdiri.
- Circular
Economy: Model produksi dan konsumsi yang melibatkan berbagi, menyewa,
menggunakan kembali, dan mendaur ulang.
- Cross-border
E-commerce: Perdagangan online antarnegara secara langsung.
- Data-Driven
Decision Making: Pengambilan keputusan berdasarkan analisis data
faktual.
- Deep
Tech: Startup berbasis penemuan ilmiah atau inovasi teknik yang
signifikan.
- Digital
Nomad: Wirausahawan yang bekerja secara jarak jauh dari berbagai
lokasi di dunia.
- Glocalization:
Adaptasi produk global agar sesuai dengan hukum dan budaya lokal.
- Hyper-personalization:
Penggunaan AI untuk memberikan pengalaman unik bagi setiap pelanggan.
- Lifelong
Learning: Pengembangan diri secara berkelanjutan di luar pendidikan
formal.
- Metaverse:
Ruang virtual kolektif yang menggabungkan realitas fisik dan digital.
- Micro-influencer:
Kreator konten dengan pengikut kecil namun memiliki tingkat keterlibatan
tinggi.
- Phygital:
Gabungan antara pengalaman fisik dan digital.
- Predictive
Analytics: Penggunaan data historis untuk memprediksi kejadian masa
depan.
- Remote
Work: Sistem kerja tanpa harus hadir secara fisik di kantor.
- Smart
Contract: Kontrak digital yang berjalan secara otomatis di jaringan
blockchain.
- Social
Commerce: Aktivitas belanja yang terjadi langsung di dalam platform
media sosial.
- Triple
Bottom Line: Kerangka bisnis yang mengukur kesuksesan lewat dampak
Sosial, Lingkungan, dan Finansial.
- VUCA:
Kondisi dunia yang bergejolak, tidak pasti, kompleks, dan membingungkan.
VIII. Pertanyaan Pemantik
- Mengapa
keberlanjutan (sustainability) kini menjadi syarat mutlak untuk
mendapatkan investasi?
- Bagaimana
sebuah toko kecil di desa bisa menjadi pemain global di era internet?
- Apa
yang akan terjadi pada bisnis konvensional jika mereka gagal memahami
keinginan Generasi Alpha?
- Apakah
AI akan menggantikan peran wirausahawan atau justru memperkuatnya?
- Mengapa
"keaslian" (authenticity) lebih dihargai daripada
"kesempurnaan" oleh Gen Z?
- Apa
risiko terbesar dari model bisnis yang terlalu bergantung pada platform
pihak ketiga (seperti TikTok/Instagram)?
- Bagaimana
cara membangun kepercayaan pelanggan dalam perdagangan internasional tanpa
tatap muka?
- Sejauh
mana etika harus berperan dalam penggunaan data pelanggan oleh AI?
- Mengapa
gelar sarjana saja tidak lagi cukup untuk menjadi wirausahawan sukses di
masa depan?
- Bagaimana
konsep "Metaverse" akan mengubah cara kita berbelanja di tahun
2030?
IX. Pertanyaan Reflektif
- Apakah
saya sudah memiliki keterampilan yang relevan untuk bersaing di pasar
kerja 5 tahun ke depan?
- Seberapa
sering saya melakukan unlearn (meninggalkan kebiasaan lama) untuk
mempelajari hal baru?
- Jika
saya memulai bisnis hari ini, apakah produk saya akan memberikan dampak
positif bagi bumi?
- Bagaimana
reaksi saya terhadap kegagalan teknologi dalam operasional bisnis saya?
- Apakah
saya lebih fokus pada gaya hidup wirausaha atau nilai yang diciptakan oleh
usaha saya?
- Sejauh
mana saya membiarkan AI membantu pengambilan keputusan pribadi saya?
- Apakah
saya sudah cukup toleran terhadap perbedaan budaya saat berinteraksi di
pasar global?
- Bagaimana
saya menjaga keseimbangan antara produktivitas digital dan kesehatan
mental?
- Siapkah
saya jika model bisnis saya saat ini tiba-tiba menjadi usang karena
inovasi baru?
- Apa
warisan (legacy) yang ingin saya tinggalkan melalui bisnis yang
saya bangun?
X. Daftar Pustaka
Buku Teks
1. Schwab,
K. (2017). The Fourth Industrial Revolution. Currency.
- Diamandis,
P. H., & Kotler, S. (2020). The Future Is Faster Than You Think.
Simon & Schuster.
- McCrindle,
M. (2021). Generation Alpha: Understanding Our Children and Helping
Them Thrive. Hachette.
- Osterwalder,
A., & Pigneur, Y. (2010). Business Model Generation. Wiley.
- Galloway,
S. (2022). Adrift: America in 100 Charts (Relevant for global
trends). Portfolio.
Jurnal Internasional
1. Acs,
Z. J., et al. (2017). "The digital entrepreneurship ecosystem." Small
Business Economics.
- Nambisan,
S. (2017). "Digital entrepreneurship: Toward a digital technology
perspective of entrepreneurship." Entrepreneurship Theory and
Practice.
- George,
G., et al. (2021). "Digital sustainability and
entrepreneurship." Journal of Management Studies.
- Belk,
R. (2023). "Artificial Intelligence and the future of consumer
behavior." Journal of Consumer Research.
- Priporas,
C. V., et al. (2017). "Generation Z consumers' expectations of
interactions in smart retailing." Computers in Human Behavior.
- Knight,
G. A., & Cavusgil, S. T. (2004). "Innovation, organizational
capabilities, and the born-global firm." Journal of International
Business Studies.
- Zupic,
I., & Čater, T. (2015). "Bibliometric methods in management
and organization." Organizational Research Methods.
- Kraus,
S., et al. (2019). "Digital transformation in business and
management." Review of Managerial Science.
- Verhoef,
P. C., et al. (2021). "Digital transformation: A
multidisciplinary reflection and research agenda." Journal of
Business Research.
- Duan,
Y., et al. (2019). "Artificial intelligence for decision making
in the era of Big Data – survey and challenges." International
Journal of Information Management.
Hashtag
#MasaDepanKewirausahaan #GlobalEntrepreneur #GenZConsumer
#GenAlpha #ArtificialIntelligence #AIBusiness #CircularEconomy #Glocalization
#SustainableBusiness #DigitalTransformation #FutureTrends #EntrepreneurLife
#LifelongLearning #CrossBorderTrade #Innovation #BlockchainBusiness
#MetaverseEntrepreneur #TechTrends #SmartRetail #GreenEconomy

Nama: AripTeguhSuharto
BalasHapusKode Bisnis: AE-004
Pertanyaan pemantik
1)Mengapa keberlanjutan (sustainability) kini menjadi syarat mutlak untuk mendapatkan investasi?
2)Bagaimana sebuah toko kecil di desa bisa menjadi pemain global di era internet?
3)Apa yang akan terjadi pada bisnis konvensional jika mereka gagal memahami keinginan Generasi Alpha?
4)Apakah AI akan menggantikan peran wirausahawan atau justru memperkuatnya?
5)Mengapa "keaslian" (authenticity) lebih dihargai daripada "kesempurnaan" oleh Gen Z?
6)Apa risiko terbesar dari model bisnis yang terlalu bergantung pada platform pihak ketiga (seperti TikTok/Instagram)?
7)Bagaimana cara membangun kepercayaan pelanggan dalam perdagangan internasional tanpa tatap muka?
8)Sejauh mana etika harus berperan dalam penggunaan data pelanggan oleh AI?
9)Mengapa gelar sarjana saja tidak lagi cukup untuk menjadi wirausahawan sukses di masa depan?
10)Bagaimana konsep "Metaverse" akan mengubah cara kita berbelanja di tahun 2030?
Jawaban:
1. Karena investor semakin fokus pada ESG (Environmental, Social, Governance). Bisnis berkelanjutan dianggap lebih tahan risiko jangka panjang, patuh regulasi, dan memiliki reputasi baik, sehingga peluang gagal lebih kecil.
2. Dengan memanfaatkan e-commerce, media sosial, logistik global, dan branding digital. Internet menghapus batas geografis sehingga produk lokal bisa menjangkau pasar internasional jika dikemas dan dipasarkan dengan tepat.
3.Bisnis tersebut berisiko kehilangan relevansi dan pasar. Generasi Alpha tumbuh dengan teknologi, personalisasi, dan kecepatan; bisnis yang kaku dan tidak digital akan ditinggalkan.
4. AI memperkuat wirausahawan, bukan menggantikan. AI membantu analisis data, efisiensi operasional, dan pengambilan keputusan, sementara kreativitas, visi, dan keberanian tetap peran manusia.
5. Gen Z menghargai kejujuran, transparansi, dan cerita nyata. Konten yang terlalu sempurna dianggap tidak manusiawi dan kurang dapat dipercaya.
6. Risikonya adalah kehilangan kontrol. Perubahan algoritma, kebijakan, atau pemblokiran akun dapat langsung menghancurkan bisnis yang tidak punya kanal sendiri.
7. Melalui reputasi digital, review pelanggan, sertifikasi, transparansi informasi, sistem pembayaran aman, dan layanan pelanggan responsif.
8. Etika harus menjadi fondasi utama. Data harus digunakan secara transparan, aman, dan dengan persetujuan pengguna agar tidak melanggar privasi dan kepercayaan publik.
9. Karena dunia bisnis menuntut keterampilan praktis, adaptasi cepat, literasi digital, dan pembelajaran berkelanjutan, bukan hanya teori akademik.
10. Metaverse memungkinkan pengalaman belanja virtual imersif, seperti mencoba produk secara digital, interaksi real-time dengan penjual, dan toko virtual tanpa batas fisik.
Nama : Fauzaan Fatih Darmawan
BalasHapusKode Pebisnis : AE07
Jawaban Pemantik :
1. Keberlanjutan menjadi syarat investasi karena investor ingin memastikan bisnis mampu bertahan dalam jangka panjang, meminimalkan risiko lingkungan dan sosial, serta memiliki reputasi yang baik di mata pasar.
2. Sebuah toko kecil di desa dapat menjadi pemain global dengan memanfaatkan internet, e-commerce, dan media sosial untuk memasarkan produk ke luar negeri tanpa batas geografis.
3. Bisnis konvensional yang gagal memahami keinginan Generasi Alpha akan kehilangan relevansi karena generasi ini sangat digital, cepat beradaptasi, dan mengutamakan pengalaman.
4. AI tidak menggantikan wirausahawan, tetapi memperkuat perannya dengan membantu analisis data, otomatisasi proses, dan pengambilan keputusan yang lebih efisien.
5. Gen Z lebih menghargai keaslian karena mereka menyukai brand yang jujur, transparan, dan terasa nyata dibandingkan tampilan yang terlalu sempurna.
6. Risiko terbesar dari ketergantungan pada platform pihak ketiga adalah hilangnya kontrol bisnis akibat perubahan algoritma, aturan, atau pemblokiran akun.
7. Kepercayaan pelanggan internasional tanpa tatap muka dapat dibangun melalui transparansi informasi, reputasi, ulasan pelanggan, dan sistem transaksi yang aman.
8. Etika harus berperan besar dalam penggunaan data oleh AI agar privasi pelanggan terlindungi dan kepercayaan terhadap bisnis tetap terjaga.
9. Gelar sarjana saja tidak lagi cukup karena wirausahawan juga memerlukan keterampilan praktis, kreativitas, pengalaman, dan kemampuan beradaptasi.
10. Konsep metaverse akan mengubah cara berbelanja dengan menghadirkan pengalaman belanja virtual yang lebih interaktif, imersif, dan realistis.
Jawaban Reflektif :
1. Saya sudah memiliki beberapa keterampilan yang relevan, namun saya menyadari perlunya terus belajar agar tetap mampu bersaing di masa depan.
2. Saya cukup sering melakukan unlearn dengan meninggalkan kebiasaan lama yang kurang efektif untuk mempelajari hal-hal baru.
3. Jika memulai bisnis hari ini, saya ingin menciptakan produk yang tidak hanya menguntungkan tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan.
4. Saya menghadapi kegagalan teknologi dengan sikap terbuka, menjadikannya sebagai evaluasi untuk meningkatkan operasional bisnis.
5. Saya lebih fokus pada nilai dan manfaat yang diciptakan oleh usaha saya daripada sekadar gaya hidup sebagai wirausaha.
6. Saya membiarkan AI membantu dalam pengambilan keputusan, namun keputusan akhir tetap saya tentukan secara sadar.
7. Saya berusaha bersikap toleran dan menghargai perbedaan budaya saat berinteraksi di pasar global.
8. Saya menjaga keseimbangan antara produktivitas digital dan kesehatan mental dengan mengatur waktu dan prioritas.
9. Saya berusaha selalu siap menghadapi perubahan dengan terus belajar dan berinovasi dalam model bisnis.
10. Saya ingin meninggalkan warisan berupa bisnis yang bermanfaat, bertanggung jawab, dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Nama : Muthazam Al Syakhih
BalasHapusKode : AE16
1. Keberlanjutan (Sustainability) Sebagai Syarat Investasi
Keberlanjutan kini adalah manajemen risiko finansial jangka panjang. Investor besar (ESG Funds) memandang perusahaan yang tidak berkelanjutan sebagai aset berisiko tinggi (high-risk asset) karena potensi denda regulasi, dampak krisis iklim, dan tuntutan hukum. Memiliki skor ESG yang baik adalah kunci untuk mengakses modal besar dan menunjukkan daya tarik jangka panjang.
2. Toko Kecil Desa Menjadi Pemain Global
Internet memungkinkan toko desa menjual nilai unik atau keaslian (niche) ke pasar global. Mereka menggunakan media sosial untuk membangun narasi (storytelling) yang menarik konsumen internasional. Bantuan dari platform e-commerce (seperti Shopify, Etsy) dan logistik pihak ketiga (3PL) yang terjangkau menghilangkan hambatan geografis dan operasional.
3. Nasib Bisnis yang Gagal Memahami Generasi Alpha
Generasi Alpha akan menjadi konsumen dominan tahun 2030-an. Bisnis konvensional yang kaku akan kehilangan relevansi digital karena Alpha mengharapkan pengalaman phygital (gabungan fisik-digital) yang mulus, menuntut transparansi etika yang absolut, dan menyukai model bisnis berbasis langganan atau freemium.
4. Peran AI dalam Kewirausahaan
AI tidak menggantikan wirausahawan, melainkan memperkuatnya (augmentation). AI mengambil alih tugas analitis, operasional, dan prediksi yang memakan waktu. Ini membebaskan wirausahawan untuk fokus pada esensi: visi, inovasi, memecahkan masalah kompleks, dan membangun tim/budaya. Wirausahawan masa depan adalah kurator AI yang cerdas.
5. Mengapa Gen Z Menghargai Keaslian (Authenticity)
Gen Z lelah dengan "kesempurnaan" yang direkayasa di media sosial. Mereka mencari hubungan tulus dengan merek. Keaslian (menunjukkan kekurangan, kejujuran, dan proses di balik layar) menciptakan ikatan emosional dan loyalitas yang jauh lebih dalam daripada citra merek yang kaku dan dipoles.
6. Risiko Ketergantungan Platform Pihak Ketiga
Ketergantungan pada platform seperti TikTok/Instagram berisiko karena kehilangan kontrol total. Perubahan algoritma mendadak dapat menghancurkan jangkauan organic dan trafik dalam semalam. Selain itu, bisnis tidak memiliki data pelanggan secara langsung, membuat mereka rentan dan harus terus membayar platform untuk iklan.
7. Membangun Kepercayaan Perdagangan Internasional Tanpa Tatap Muka
Kepercayaan dibangun melalui verifikasi, keamanan, dan transparansi. Kuncinya adalah menggunakan layanan escrow (pembayaran ditahan hingga barang tiba) dan mendapatkan sertifikasi/rating pihak ketiga yang kredibel. Komunikasi proaktif dan transparansi penuh tentang asal-usul produk juga sangat vital.
8. Peran Etika dalam Penggunaan Data Pelanggan oleh AI
Etika harus menjadi filter utama dalam penggunaan data AI. Ini mencakup pemberian persetujuan yang diinformasikan (informed consent), memastikan algoritma bebas dari bias diskriminatif, dan menetapkan batasan yang jelas agar AI tidak digunakan untuk memanipulasi kerentanan psikologis pelanggan.
9. Gelar Sarjana Bukan Lagi Jaminan Sukses Wirausaha
Kewirausahaan modern menuntut lebih dari sekadar teori akademis. Wirausahawan harus memiliki Kecerdasan Digital (menguasai alat dan data baru), Kecerdasan Emosional (EQ) untuk kepemimpinan, dan mentalitas Pembelajaran Berkelanjutan karena pengetahuan usang dengan cepat di era teknologi ini.
10. Konsep Metaverse Mengubah Cara Belanja di 2030
Metaverse mengubah belanja dari transaksi 2D menjadi pengalaman 3D yang imersif dan sosial. Anda akan mencoba produk digital pada avatar, berbelanja bersama teman secara virtual, dan membeli aset digital (NFT) yang seringkali terhubung dengan versi fisiknya (phygital commerce).
Nama: Dias Kurniawan
BalasHapusKode: AE10
Artikel ini sangat menarik dan relevan untuk kondisi kewirausahaan saat ini! Fokus pada adaptasi teknologi seperti AI dan digitalisasi memang tepat karena di era 2025 teknologi bukan sekadar alat bantu, tapi sudah menjadi strategic partner dalam bisnis, terutama untuk analisis data, automasi operasional, dan ekspansi pasar global.
Menurut saya, poin tentang kewirausahaan global dan kemampuan UMKM untuk langsung masuk pasar internasional (“Born Global”) penting banget — hal ini juga didukung oleh tren digital dan e-commerce yang makin kuat di mana startup kecil pun bisa menjual produk ke luar negeri tanpa perantara besar.
Selain itu, pembahasan tentang perilaku konsumen Generasi Z dan Alpha sangat relevan. Generasi ini memang mengutamakan authenticity, nilai sosial, dan pengalaman digital yang mulus — jadi wirausahawan perlu memahami dan menyesuaikan produk/layanan mereka dengan preferences ini supaya tetap kompetitif.
Saran saya: mungkin artikel bisa tambah dengan contoh nyata startup lokal yang berhasil menerapkan strategi ini, supaya pembaca semakin mudah memahami aplikasinya di dunia usaha nyata.
Kesimpulan: artikel ini memberikan gambaran masa depan kewirausahaan yang dinamis — dimana keberlanjutan, teknologi, dan pembelajaran terus-menerus menjadi kunci sukses.
Nama: Salsabila Hesa Khalilah
BalasHapusKode: AE46
Jawaban Pertanyaan Pemantik
1. Karena investor kini tidak hanya menilai keuntungan finansial, tetapi juga risiko jangka panjang. Bisnis yang tidak ramah lingkungan atau sosial dianggap berisiko tinggi terhadap regulasi, reputasi, dan keberlanjutan pasar. Sustainability menjadi indikator bahwa bisnis mampu bertahan dan bertanggung jawab di masa depan.
2. Melalui digitalisasi. Dengan e-commerce, media sosial, dan logistik global, batas geografis hampir hilang. Toko kecil dapat menjangkau pasar internasional jika memiliki produk unik, branding kuat, dan kemampuan memanfaatkan platform digital secara strategis.
3. Bisnis tersebut berisiko ditinggalkan pasar. Generasi Alpha tumbuh dengan teknologi, mengutamakan pengalaman digital, kecepatan, personalisasi, dan nilai. Ketidakmampuan beradaptasi akan membuat bisnis kehilangan relevansi.
4. AI lebih cenderung memperkuat peran wirausahawan. AI membantu analisis data, efisiensi operasional, dan pengambilan keputusan, tetapi kreativitas, empati, visi, dan keberanian mengambil risiko tetap menjadi peran manusia.
5. Karena Gen Z lebih menghargai kejujuran dan transparansi dibanding citra palsu. Mereka tumbuh di era media sosial yang penuh manipulasi, sehingga keaslian membangun kepercayaan dan kedekatan emosional dengan merek.
6. Ketergantungan tinggi membuat bisnis rentan terhadap perubahan algoritma, kebijakan, atau bahkan penutupan platform. Kontrol terhadap data pelanggan dan hubungan langsung dengan konsumen menjadi sangat terbatas.
7. Melalui reputasi digital, transparansi informasi, sistem pembayaran aman, ulasan pelanggan, sertifikasi resmi, serta komunikasi yang konsisten dan profesional.
8. Etika harus menjadi fondasi utama. Penggunaan data harus transparan, berbasis izin, dan melindungi privasi pelanggan. Tanpa etika, kepercayaan publik akan hilang meskipun teknologinya canggih.
9. Karena dunia bisnis berubah cepat. Selain pengetahuan akademik, dibutuhkan keterampilan praktis seperti adaptasi teknologi, pemecahan masalah, kreativitas, komunikasi, dan pembelajaran berkelanjutan.
10. Metaverse memungkinkan pengalaman belanja virtual yang imersif, seperti mencoba produk secara digital dan berinteraksi langsung dengan merek dalam ruang virtual, sehingga belanja menjadi lebih personal dan interaktif.
Pertanyaan Reflektif
1. Saya masih perlu terus mengembangkan keterampilan digital, berpikir kritis, dan kemampuan adaptasi agar tetap relevan dengan perubahan dunia kerja.
2. Saya perlu lebih sadar untuk meninggalkan kebiasaan lama yang tidak efektif dan terbuka terhadap cara kerja serta teknologi baru.
3. Idealnya, bisnis yang saya bangun tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga meminimalkan dampak lingkungan dan memberi nilai sosial.
4. Kegagalan teknologi seharusnya dilihat sebagai pembelajaran, bukan hambatan akhir, dengan fokus pada solusi dan mitigasi risiko.
5. Nilai yang diciptakan seharusnya menjadi fokus utama, karena gaya hidup hanyalah konsekuensi dari dampak nyata yang dihasilkan.
6. AI sebaiknya menjadi alat bantu, bukan penentu utama. Keputusan akhir tetap harus melibatkan pertimbangan etika dan nilai pribadi.
7. Toleransi budaya adalah keterampilan penting yang perlu terus dilatih agar mampu bekerja dan berbisnis secara global.
8. Dengan menetapkan batas penggunaan teknologi, menjaga waktu istirahat, dan menyadari pentingnya kesejahteraan psikologis.
9. Kesiapan menghadapi perubahan menuntut fleksibilitas, pembelajaran berkelanjutan, dan keberanian berinovasi ulang.
10. Saya ingin meninggalkan bisnis yang bermanfaat, beretika, dan memberi dampak positif bagi masyarakat serta lingkungan.
Nama : Farrel Edviant Batubara
BalasHapusKode Pebisnis : AE36
Jawaban Pemantik
1. Keberlanjutan menjadi faktor penting bagi investor karena mereka ingin bisnis tetap stabil dalam jangka panjang, memiliki risiko lingkungan dan sosial yang rendah, serta citra yang positif.
2. Toko kecil di desa dapat menembus pasar global dengan memanfaatkan internet, platform e-commerce, dan media sosial sehingga produk dapat dijual ke berbagai negara tanpa hambatan jarak.
3. Jika bisnis konvensional tidak memahami kebutuhan Generasi Alpha, mereka akan tertinggal karena generasi ini sangat akrab dengan teknologi dan menuntut pengalaman yang cepat serta menarik.
4. AI bukan untuk menggantikan wirausahawan, melainkan membantu meningkatkan kinerja melalui pengolahan data, otomatisasi, dan dukungan dalam pengambilan keputusan.
5. Generasi Z lebih menyukai keaslian karena mereka tertarik pada merek yang jujur, terbuka, dan apa adanya dibandingkan citra yang dibuat terlalu sempurna.
6. Ketergantungan pada platform pihak ketiga berisiko karena bisnis dapat kehilangan kendali jika terjadi perubahan kebijakan, algoritma, atau pembatasan akun.
7. Kepercayaan konsumen internasional dapat dibangun tanpa pertemuan langsung dengan menyediakan informasi yang jelas, menjaga reputasi, menampilkan ulasan, dan menggunakan sistem pembayaran yang aman.
8. Etika sangat penting dalam pemanfaatan data oleh AI agar privasi pelanggan tetap terlindungi dan kepercayaan terhadap bisnis tidak hilang.
9. Memiliki gelar sarjana saja belum cukup karena wirausahawan juga perlu keterampilan nyata, kreativitas, pengalaman, dan kemampuan beradaptasi.
10. Metaverse berpotensi mengubah pola belanja dengan menghadirkan pengalaman virtual yang lebih interaktif dan mendekati kondisi nyata.
---
Jawaban Reflektif
1. Saya sudah memiliki beberapa kemampuan yang mendukung, namun saya menyadari pentingnya terus belajar agar tidak tertinggal.
2. Saya sering melakukan unlearn dengan meninggalkan cara lama yang kurang efektif dan mempelajari pendekatan baru.
3. Jika memulai bisnis saat ini, saya ingin menciptakan usaha yang tidak hanya menghasilkan keuntungan tetapi juga berdampak baik bagi lingkungan.
4. Ketika menghadapi kegagalan teknologi, saya menjadikannya sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki sistem bisnis.
5. Saya lebih mengutamakan nilai dan manfaat usaha dibandingkan sekadar citra gaya hidup sebagai pengusaha.
6. AI saya manfaatkan sebagai alat bantu, namun keputusan akhir tetap berada di tangan saya.
7. Saya berusaha menghormati perbedaan budaya dan bersikap terbuka saat berinteraksi di pasar internasional.
8. Saya menjaga keseimbangan antara aktivitas digital dan kesehatan mental dengan mengatur waktu secara bijak.
9. Saya selalu berusaha siap menghadapi perubahan dengan terus belajar dan mengembangkan inovasi bisnis.
10. Saya ingin meninggalkan warisan berupa bisnis yang bertanggung jawab, bermanfaat, dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Nama:Refialdi Febrian
BalasHapusAE:20
Jawaban Pertanyaan Pemantik
1. Karena investor global semakin mempertimbangkan ESG (Environmental, Social, Governance). Bisnis yang berkelanjutan dinilai lebih tahan risiko jangka panjang, patuh regulasi, dan memiliki reputasi yang baik, sehingga lebih aman dan menguntungkan bagi investor.
2. Melalui cross-border e-commerce, pemasaran digital, logistik global, dan platform pembayaran internasional. Dengan internet, skala usaha tidak lagi ditentukan oleh lokasi, melainkan oleh nilai produk dan strategi digital.
3. Bisnis tersebut berisiko ditinggalkan pasar, karena Generasi Alpha menuntut pengalaman digital, personalisasi, dan integrasi fisik-digital. Tanpa adaptasi, bisnis akan dianggap usang.
4.AI tidak menggantikan, tetapi memperkuat wirausahawan. AI menangani analisis dan otomatisasi, sementara manusia tetap unggul dalam visi, empati, kreativitas, dan etika pengambilan keputusan.
5.Karena Gen Z mengutamakan kejujuran dan transparansi. Mereka lebih percaya proses nyata dan nilai moral merek daripada citra sempurna yang dibuat-buat.
6.Risiko utamanya adalah ketergantungan algoritma, perubahan kebijakan sepihak, kehilangan data pelanggan, dan hilangnya kontrol terhadap brand serta distribusi.
7.Dengan transparansi informasi, sistem pembayaran aman, ulasan pelanggan, sertifikasi, teknologi blockchain, serta layanan pelanggan yang responsif dan konsisten.
8.Etika harus menjadi fondasi utama, meliputi persetujuan pengguna, perlindungan privasi, keamanan data, dan penggunaan data secara bertanggung jawab untuk menghindari penyalahgunaan.
9.Karena ilmu formal cepat usang. Keberhasilan kini ditentukan oleh kemampuan belajar berkelanjutan, adaptasi teknologi, dan pengalaman praktis, bukan hanya ijazah.
10. Belanja akan menjadi immersive, interaktif, dan phygital, di mana konsumen bisa mencoba produk secara virtual, berinteraksi sosial, dan bertransaksi di ruang digital 3D.
Jawaban Pertanyaan Reflektif
1.Relevansi keterampilan harus terus dievaluasi, terutama literasi digital, data, kreativitas, dan kemampuan adaptasi teknologi.
2. Unlearn penting agar tidak terjebak pola lama. Tanpa unlearn, inovasi akan terhambat dan keputusan menjadi tidak relevan.
3. Bisnis masa depan idealnya mengurangi limbah, efisiensi sumber daya, dan mendukung ekonomi sirkular.
4.Kegagalan seharusnya diperlakukan sebagai data pembelajaran, bukan kegagalan personal.
5. Nilai yang diciptakan bisnis lebih berkelanjutan daripada sekadar citra gaya hidup wirausaha.
6. AI sebaiknya menjadi alat pendukung, bukan pengganti penuh penilaian manusia.
7. Toleransi budaya sangat penting untuk membangun kepercayaan dan keberhasilan di pasar internasional.
8. Dengan manajemen waktu, batasan penggunaan teknologi, dan kesadaran akan kesehatan mental.
9.Kesiapan ditunjukkan melalui fleksibilitas, inovasi berkelanjutan, dan kemauan berubah.
10.Warisan ideal adalah bisnis yang memberi dampak positif sosial, ekonomi, dan lingkungan, bukan hanya keuntungan finansial.
Nama : Nafian Firda Cahayani
BalasHapusKode Pebisnis : AE50
Pertanyaan Pemantik
1. Mengapa keberlanjutan (sustainability) kini menjadi syarat mutlak untuk mendapatkan investasi?
Karena investor melihat keberlanjutan sebagai indikator daya tahan bisnis jangka panjang. Perusahaan yang tidak ramah lingkungan dianggap berisiko tinggi, rawan regulasi, dan kurang menarik bagi konsumen modern yang peduli dampak sosial.
2. Bagaimana sebuah toko kecil di desa bisa menjadi pemain global di era internet?
Melalui pemanfaatan e-commerce, media sosial, dan layanan logistik internasional, toko kecil dapat memasarkan produknya ke berbagai negara tanpa perlu membuka cabang fisik. Citra merek digital yang kuat dan cerita produk yang menarik mampu menjangkau pasar dunia.
3. Apa yang akan terjadi pada bisnis konvensional jika mereka gagal memahami keinginan Generasi Alpha?
Bisnis tersebut bisa kehilangan daya saing, tertinggal dari para pesaing, bahkan berpotensi tidak bertahan. Generasi Alpha terbiasa dengan dunia digital, layanan personal, serta interaksi berbasis teknologi sehingga usaha yang tidak bertransformasi akan sulit menarik minat mereka.
4. Apakah AI akan menggantikan peran wirausahawan atau justru memperkuatnya?
AI tidak mampu menggantikan kreativitas serta visi manusia, namun dapat mengambil alih pekerjaan yang berulang. Wirausahawan yang memanfaatkan AI justru dapat bekerja lebih efektif, cepat, dan inovatif.
5. Mengapa "keaslian" (authenticity) lebih dihargai daripada "kesempurnaan" oleh Gen Z?
Karena Gen Z hidup di era banjir informasi sehingga mampu membedakan mana yang autentik dan mana yang dibuat-buat. Mereka cenderung lebih menyukai brand yang jujur, terbuka, serta menampilkan sisi manusiawi dibanding yang terlihat terlalu sempurna.
6. Apa risiko terbesar dari model bisnis yang terlalu bergantung pada platform pihak ketiga (seperti TikTok/Instagram)?
Perubahan kebijakan, algoritma, atau sistem monetisasi platform dapat berdampak langsung pada bisnis. Jika akun dibatasi, terkena blokir, atau platform kehilangan popularitas, bisnis bisa kehilangan akses ke konsumennya.
7. Bagaimana cara membangun kepercayaan pelanggan dalam perdagangan internasional tanpa tatap muka?
Kunci utamanya adalah transparansi, seperti menyediakan sertifikasi, ulasan pelanggan, sistem pembayaran aman (escrow), menjaga kualitas produk, pelayanan cepat, serta menampilkan bukti proses produksi. Kepercayaan muncul dari bukti nyata, bukan sekadar klaim.
8. Sejauh mana etika harus berperan dalam penggunaan data pelanggan oleh AI?
Etika wajib menjadi dasar utama. Data boleh dimanfaatkan untuk pengembangan bisnis, namun privasi pelanggan harus tetap dijaga, digunakan hanya dengan izin, serta dianonimkan bila diperlukan.
9. Mengapa gelar sarjana saja tidak lagi cukup untuk menjadi wirausahawan sukses di masa depan?
Karena persaingan menuntut lebih dari sekadar pengetahuan akademik. Kemampuan interpersonal, penguasaan teknologi, kreativitas, pengalaman praktis, serta jaringan relasi menjadi faktor penting dalam mencapai keberhasilan.
10. Bagaimana konsep "Metaverse" akan mengubah cara kita berbelanja di tahun 2030?
Metaverse akan menghadirkan pengalaman belanja yang lebih imersif, di mana pelanggan dapat mencoba produk secara virtual, menghadiri peragaan busana digital, menjelajahi toko 3D, hingga berinteraksi dengan avatar brand. Fokus belanja bukan hanya pada transaksi, melainkan pengalaman.
Nama : Dadan Hamdan Fatihin
BalasHapusKode Pebisnis : AE02
1. Mengapa keberlanjutan (sustainability) kini menjadi syarat mutlak untuk mendapatkan investasi?
Karena investor tidak lagi hanya menilai keuntungan jangka pendek, tetapi juga risiko jangka panjang. Bisnis yang tidak berkelanjutan berisiko terkena regulasi lingkungan, krisis sumber daya, dan penolakan konsumen. Konsep ESG (Environmental, Social, Governance) kini menjadi indikator utama karena terbukti meningkatkan stabilitas dan reputasi perusahaan.
2. Bagaimana sebuah toko kecil di desa bisa menjadi pemain global di era internet?
Internet menghilangkan batas geografis. Dengan e-commerce, media sosial, logistik global, dan pembayaran digital, toko desa dapat menjangkau pasar internasional. Kunci utamanya adalah keunikan produk, storytelling, branding digital, dan konsistensi kualitas.
3. Apa yang akan terjadi pada bisnis konvensional jika mereka gagal memahami keinginan Generasi Alpha?
Bisnis tersebut akan kehilangan relevansi. Generasi Alpha tumbuh dengan teknologi, AI, dan pengalaman digital. Mereka mengutamakan personalisasi, kecepatan, interaksi visual, dan nilai sosial. Bisnis yang kaku dan lambat beradaptasi akan ditinggalkan.
4. Apakah AI akan menggantikan peran wirausahawan atau justru memperkuatnya?
AI tidak menggantikan wirausahawan, tetapi memperkuatnya. AI membantu analisis data, efisiensi operasional, dan prediksi pasar. Namun kreativitas, empati, visi, dan pengambilan risiko tetap merupakan peran manusia yang tidak bisa digantikan mesin.
5. Mengapa "keaslian" (authenticity) lebih dihargai daripada "kesempurnaan" oleh Gen Z?
Karena Gen Z terbiasa dengan informasi transparan dan real-time. Mereka lebih percaya pada brand yang jujur, apa adanya, dan manusiawi, daripada citra sempurna yang terasa dibuat-buat. Keaslian menciptakan koneksi emosional dan kepercayaan.
6. Apa risiko terbesar dari model bisnis yang terlalu bergantung pada platform pihak ketiga (seperti TikTok/Instagram)?
Risiko terbesarnya adalah kehilangan kendali. Perubahan algoritma, kebijakan, atau penutupan akun dapat langsung menghancurkan bisnis. Selain itu, data pelanggan dikuasai platform, bukan pemilik bisnis.
7. Bagaimana cara membangun kepercayaan pelanggan dalam perdagangan internasional tanpa tatap muka?
Dengan transparansi, reputasi digital, sertifikasi, ulasan pelanggan, jaminan keamanan pembayaran, dan layanan pelanggan responsif. Konsistensi kualitas dan komunikasi yang jelas juga sangat menentukan.
8. Sejauh mana etika harus berperan dalam penggunaan data pelanggan oleh AI?
Etika harus menjadi batas utama. Data pelanggan harus digunakan secara transparan, aman, dengan persetujuan, dan untuk manfaat pelanggan, bukan manipulasi. Pelanggaran etika akan merusak kepercayaan dan bisa berujung sanksi hukum.
9. Mengapa gelar sarjana saja tidak lagi cukup untuk menjadi wirausahawan sukses di masa depan?
Karena dunia bisnis berubah cepat. Yang dibutuhkan adalah skill praktis, kemampuan adaptasi, literasi digital, pemikiran kritis, dan pembelajaran seumur hidup. Gelar akademik tanpa kemampuan eksekusi tidak lagi kompetitif.
10. Bagaimana konsep "Metaverse" akan mengubah cara kita berbelanja di tahun 2030?
Metaverse akan mengubah belanja menjadi pengalaman imersif: mencoba produk secara virtual, berinteraksi dengan brand dalam dunia 3D, dan berbelanja sebagai aktivitas sosial. Perpaduan VR, AI, dan ekonomi digital akan menciptakan cara baru dalam konsumsi.
Fawwaz Fatihul Ihsan
BalasHapus( AE 38 )
VIII. Jawaban Pertanyaan Pemantik
1. Karena investor ingin memastikan bisnis mampu bertahan dalam jangka panjang. Bisnis yang memperhatikan lingkungan, sosial, dan tata kelola dianggap lebih stabil, minim risiko, serta tidak mudah terkena masalah regulasi atau krisis reputasi.
2. Internet membuka akses pasar global tanpa batas lokasi. Dengan pemanfaatan e-commerce, media sosial, dan branding yang kuat, produk lokal dapat dikenal dunia dan bersaing secara internasional.
3. Bisnis akan tertinggal karena Generasi Alpha tumbuh dengan teknologi, kecepatan, dan personalisasi. Tanpa adaptasi digital, bisnis konvensional akan kehilangan minat pasar dan relevansi.
4. AI tidak menggantikan wirausahawan, tetapi membantu meningkatkan efisiensi dan kualitas keputusan. Peran manusia tetap penting dalam kreativitas, visi, dan pengambilan risiko bisnis.
5. Gen Z lebih percaya pada brand yang jujur dan apa adanya. Mereka menilai keaslian membangun hubungan emosional, sementara kesempurnaan yang dibuat-buat justru menurunkan kepercayaan.
6. Risikonya adalah kehilangan kontrol atas bisnis. Perubahan algoritma atau kebijakan platform dapat langsung menurunkan penjualan dan mengancam keberlangsungan usaha.
7. Kepercayaan dibangun melalui transparansi informasi, reputasi online, ulasan pelanggan, serta pelayanan yang konsisten dan profesional.
8. Etika sangat penting untuk melindungi privasi dan menjaga kepercayaan pelanggan. Penggunaan data yang tidak bertanggung jawab dapat merusak citra bisnis dan menimbulkan masalah hukum.
9. Karena dunia bisnis membutuhkan kemampuan adaptasi, keterampilan digital, dan pembelajaran berkelanjutan yang tidak selalu didapat dari pendidikan formal saja.
10. Metaverse memungkinkan konsumen merasakan pengalaman belanja virtual yang lebih interaktif, seperti mencoba produk secara digital sebelum membeli, sehingga meningkatkan keterlibatan pelanggan.
IX. Jawaban Pertanyaan Reflektif
1. Saya sadar bahwa dunia kerja akan terus berubah, sehingga kemampuan belajar cepat, berpikir kritis, dan melek teknologi jauh lebih penting daripada sekadar mengandalkan ilmu yang saya miliki saat ini.
2. Saya berusaha tidak terjebak pada cara lama. Ketika sesuatu tidak lagi relevan, saya belajar untuk melepaskannya dan membuka diri terhadap pendekatan baru yang lebih efektif.
3. Saya ingin membangun bisnis yang tidak hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan dan keberlanjutan jangka panjang.
4. Saya melihat kegagalan teknologi sebagai pelajaran, bukan akhir. Setiap gangguan adalah peluang untuk memperbaiki sistem dan meningkatkan ketahanan bisnis.
5. Saya memilih fokus pada nilai yang saya ciptakan. Gaya hidup hanyalah hasil, sedangkan dampak nyata bagi pelanggan adalah tujuan utama.
6. Saya memanfaatkan AI sebagai alat bantu untuk efisiensi dan analisis, namun keputusan akhir tetap saya ambil berdasarkan pertimbangan logis dan nilai pribadi.
7. Saya menyadari bahwa bisnis global menuntut sikap terbuka, empati, dan kemampuan menghargai perbedaan agar kerja sama dapat berjalan dengan baik.
8. Saya belajar bahwa produktivitas tinggi tidak ada artinya tanpa kesehatan mental. Keseimbangan menjadi kunci agar saya bisa berkembang secara berkelanjutan.
9. Saya siap beradaptasi dan berubah. Dalam dunia bisnis, bertahan bukan soal siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang paling cepat menyesuaikan diri.
10. Saya ingin meninggalkan bisnis yang bermanfaat, beretika, dan memberi dampak positif bagi masyarakat, bukan sekadar keuntungan sesaat.
Nama: Dian Alfa Rifky
BalasHapusKode: AE-03
1. Mengapa keberlanjutan (sustainability) kini menjadi syarat mutlak untuk mendapatkan investasi?
Keberlanjutan menjadi syarat utama karena investor modern memandang bisnis bukan hanya sebagai alat menghasilkan laba, tetapi sebagai entitas jangka panjang yang harus mampu bertahan di tengah perubahan global.
2. Bagaimana sebuah toko kecil di desa bisa menjadi pemain global di era internet?
Internet menghapus batas geografis dan membuka akses pasar global bagi siapa pun. Toko kecil di desa dapat berkembang secara global
3. Apa yang akan terjadi pada bisnis konvensional jika gagal memahami Generasi Alpha?
Generasi Alpha tumbuh dalam ekosistem digital sejak usia dini dan memiliki ekspektasi yang sangat tinggi terhadap pengalaman pengguna. Jika bisnis konvensional gagal memahami karakter mereka,
4. Apakah AI akan menggantikan peran wirausahawan atau memperkuatnya?
Wirausahawan yang mampu mengombinasikan kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan akan memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan.
5. Mengapa authenticity lebih dihargai daripada perfection oleh Gen Z?
Gen Z lebih menghargai merek yang berani menunjukkan proses, kegagalan, dan pembelajaran, karena dianggap lebih nyata dan dapat dipercaya.
6. Apa risiko terbesar dari model bisnis yang bergantung pada platform pihak ketiga?
Ketergantungan pada platform seperti Instagram atau TikTok membawa risiko besar, antara lain Bisnis yang tidak membangun aset sendiri (website, database pelanggan) akan kehilangan kendali atas ekosistemnya dan sangat rentan terhadap perubahan eksternal.
7. Bagaimana membangun kepercayaan pelanggan internasional tanpa tatap muka?
Reputasi digital menjadi pengganti kepercayaan tatap muka. Semakin profesional dan konsisten sebuah bisnis, semakin tinggi tingkat kepercayaan pelanggan global.
8. Sejauh mana etika harus berperan dalam penggunaan data pelanggan oleh AI?
Tanpa etika, AI dapat melanggar privasi, menciptakan diskriminasi, dan merusak kepercayaan publik, yang pada akhirnya merugikan bisnis itu sendiri.
9. Mengapa gelar sarjana tidak lagi cukup untuk menjadi wirausahawan sukses?
Gelar sarjana hanya menunjukkan penguasaan teori. Dunia wirausaha menuntut,Pengalaman, jejaring, dan kemampuan belajar berkelanjutan menjadi faktor utama kesuksesan wirausaha modern.
10. Bagaimana Metaverse mengubah cara berbelanja di tahun 2030?
Metaverse akan mengubah belanja dari aktivitas transaksional menjadi pengalaman imersif, Belanja akan menggabungkan teknologi, hiburan, dan sosial, menciptakan nilai baru bagi konsumen dan pelaku usaha.
nama : dhafa andhika pratama
BalasHapusAE018
1. Keberlanjutan (Sustainability) Sebagai Syarat Investasi
Keberlanjutan kini adalah manajemen risiko finansial jangka panjang. Investor besar (ESG Funds) memandang perusahaan yang tidak berkelanjutan sebagai aset berisiko tinggi (high-risk asset) karena potensi denda regulasi, dampak krisis iklim, dan tuntutan hukum. Memiliki skor ESG yang baik adalah kunci untuk mengakses modal besar dan menunjukkan daya tarik jangka panjang.
2. Toko Kecil Desa Menjadi Pemain Global
Internet memungkinkan toko desa menjual nilai unik atau keaslian (niche) ke pasar global. Mereka menggunakan media sosial untuk membangun narasi (storytelling) yang menarik konsumen internasional. Bantuan dari platform e-commerce (seperti Shopify, Etsy) dan logistik pihak ketiga (3PL) yang terjangkau menghilangkan hambatan geografis dan operasional.
3. Nasib Bisnis yang Gagal Memahami Generasi Alpha
Generasi Alpha akan menjadi konsumen dominan tahun 2030-an. Bisnis konvensional yang kaku akan kehilangan relevansi digital karena Alpha mengharapkan pengalaman phygital (gabungan fisik-digital) yang mulus, menuntut transparansi etika yang absolut, dan menyukai model bisnis berbasis langganan atau freemium.
4. Peran AI dalam Kewirausahaan
AI tidak menggantikan wirausahawan, melainkan memperkuatnya (augmentation). AI mengambil alih tugas analitis, operasional, dan prediksi yang memakan waktu. Ini membebaskan wirausahawan untuk fokus pada esensi: visi, inovasi, memecahkan masalah kompleks, dan membangun tim/budaya. Wirausahawan masa depan adalah kurator AI yang cerdas.
5. Mengapa Gen Z Menghargai Keaslian (Authenticity)
Gen Z lelah dengan "kesempurnaan" yang direkayasa di media sosial. Mereka mencari hubungan tulus dengan merek. Keaslian (menunjukkan kekurangan, kejujuran, dan proses di balik layar) menciptakan ikatan emosional dan loyalitas yang jauh lebih dalam daripada citra merek yang kaku dan dipoles.
6. Risiko Ketergantungan Platform Pihak Ketiga
Ketergantungan pada platform seperti TikTok/Instagram berisiko karena kehilangan kontrol total. Perubahan algoritma mendadak dapat menghancurkan jangkauan organic dan trafik dalam semalam. Selain itu, bisnis tidak memiliki data pelanggan secara langsung, membuat mereka rentan dan harus terus membayar platform untuk iklan.
7. Membangun Kepercayaan Perdagangan Internasional Tanpa Tatap Muka
Kepercayaan dibangun melalui verifikasi, keamanan, dan transparansi. Kuncinya adalah menggunakan layanan escrow (pembayaran ditahan hingga barang tiba) dan mendapatkan sertifikasi/rating pihak ketiga yang kredibel. Komunikasi proaktif dan transparansi penuh tentang asal-usul produk juga sangat vital.
8. Peran Etika dalam Penggunaan Data Pelanggan oleh AI
Etika harus menjadi filter utama dalam penggunaan data AI. Ini mencakup pemberian persetujuan yang diinformasikan (informed consent), memastikan algoritma bebas dari bias diskriminatif, dan menetapkan batasan yang jelas agar AI tidak digunakan untuk memanipulasi kerentanan psikologis pelanggan.
9. Gelar Sarjana Bukan Lagi Jaminan Sukses Wirausaha
Kewirausahaan modern menuntut lebih dari sekadar teori akademis. Wirausahawan harus memiliki Kecerdasan Digital (menguasai alat dan data baru), Kecerdasan Emosional (EQ) untuk kepemimpinan, dan mentalitas Pembelajaran Berkelanjutan karena pengetahuan usang dengan cepat di era teknologi ini.
10. Konsep Metaverse Mengubah Cara Belanja di 2030
Metaverse mengubah belanja dari transaksi 2D menjadi pengalaman 3D yang imersif dan sosial. Anda akan mencoba produk digital pada avatar, berbelanja bersama teman secara virtual, dan membeli aset digital (NFT) yang seringkali terhubung dengan versi fisiknya (phygital commerce)
Fatima Aliya Nargis (AE24)
BalasHapusVIII. Jawaban Pertanyaan Pemantik
1. Mengapa keberlanjutan (sustainability) kini menjadi syarat mutlak?
Karena investor kini menggunakan standar ESG (Environmental, Social, and Governance). Bisnis yang merusak lingkungan dianggap berisiko tinggi secara hukum dan reputasi. Selain itu, sumber daya alam makin terbatas; bisnis yang tidak berkelanjutan tidak akan memiliki bahan baku untuk beroperasi di masa depan.
2. Bagaimana toko desa menjadi pemain global?
Melalui Digital Leaps. Dengan platform e-commerce lintas batas, media sosial untuk pemasaran niche, dan infrastruktur logistik yang terintegrasi, toko desa bisa menjual keunikan lokal (misal: kerajinan tangan spesifik) langsung ke kolektor di luar negeri tanpa perlu distributor besar.
3. Apa yang terjadi jika bisnis konvensional gagal memahami Gen Alpha?
Mereka akan mengalami "Irrelevansi Total". Gen Alpha tidak membedakan dunia fisik dan digital. Jika sebuah bisnis tidak bisa hadir secara "phygital" (misal: tidak ada interaksi di ruang virtual atau tidak mendukung AI), mereka tidak akan dianggap ada oleh generasi ini.
4. Apakah AI akan menggantikan atau memperkuat wirausahawan?
Memperkuat. AI akan mengambil alih tugas-tugas administratif, pengolahan data, dan rutinitas teknis. Ini justru membebaskan wirausahawan untuk fokus pada hal yang tidak dimiliki AI: visi kreatif, empati manusia, negosiasi tingkat tinggi, dan pengambilan keputusan etis.
5. Mengapa "keaslian" lebih dihargai daripada "kesempurnaan" oleh Gen Z?
Gen Z tumbuh di era hoaks dan filter media sosial yang berlebihan. Mereka jenuh dengan pencitraan. Mereka lebih menghargai brand yang berani menunjukkan sisi manusiawi, kegagalan, dan nilai-nilai nyata karena itu membangun kepercayaan (trust).
6. Risiko terbesar bergantung pada platform pihak ketiga (TikTok/IG)?
Ketidakpastian Algoritma. Anda membangun rumah di tanah sewaan. Jika platform mengubah aturan atau memblokir akun Anda, seluruh akses ke pelanggan bisa hilang dalam semalam. Bisnis yang kuat harus memiliki database pelanggan sendiri (seperti website atau daftar email).
7. Cara membangun kepercayaan internasional tanpa tatap muka?
Menggunakan teknologi Blockchain untuk transparansi rantai pasok, sistem pembayaran Escrow (rekening bersama), ulasan pelanggan yang terverifikasi, serta sertifikasi internasional yang diakui.
8. Sejauh mana etika berperan dalam data pelanggan oleh AI?
Sangat krusial. Etika bukan lagi pilihan, tapi pondasi. Penggunaan data tanpa transparansi akan memicu boikot massal. Perusahaan harus memastikan AI mereka tidak diskriminatif dan menghormati privasi (prinsip Privacy by Design).
9. Mengapa gelar sarjana saja tidak cukup?
Karena kecepatan perubahan teknologi melampaui kurikulum pendidikan formal. Keterampilan teknis (hard skills) kini memiliki "masa kadaluarsa" yang singkat. Wirausahawan sukses butuh Lifelong Learning dan kemampuan adaptasi yang tidak selalu diajarkan di bangku kuliah.
10. Bagaimana Metaverse mengubah belanja di tahun 2030?
Belanja akan menjadi pengalaman Imersif. Anda tidak lagi hanya melihat foto baju di layar HP, tapi mencoba baju tersebut lewat avatar Anda di toko virtual, merasakan suasananya, dan berkonsultasi dengan asisten virtual sebelum barang fisiknya dikirim ke rumah.
Nama : Ridwan Arifin Prasetyo(41324010025)-(AE23)
BalasHapusI.Pertanyaan Pemantik (Versi Ringkas)
1. Mengapa keberlanjutan menjadi syarat utama investasi?
Karena keberlanjutan menunjukkan kemampuan bisnis mengelola risiko jangka panjang dan menciptakan nilai yang stabil.
2. Bagaimana toko kecil di desa bisa menjadi pemain global?
Dengan memanfaatkan teknologi digital, e-commerce, dan pemasaran online.
3. Dampak bagi bisnis konvensional jika gagal memahami Generasi Alpha?
Bisnis berisiko kehilangan relevansi dan ditinggalkan pasar.
4. Apakah AI menggantikan wirausahawan?
Tidak, AI berperan sebagai alat pendukung untuk meningkatkan efisiensi dan pengambilan keputusan.
5. Mengapa keaslian lebih dihargai daripada kesempurnaan oleh Gen Z?
Karena keaslian membangun kepercayaan dan kedekatan emosional.
6. Risiko ketergantungan pada platform pihak ketiga?
Hilangnya kontrol bisnis akibat perubahan kebijakan atau algoritma platform.
7. Cara membangun kepercayaan dalam perdagangan internasional tanpa tatap muka?
Melalui transparansi, reputasi digital, dan sistem transaksi yang aman.
8. Peran etika dalam penggunaan data AI?
Sebagai dasar perlindungan privasi dan kepercayaan pelanggan.
9. Mengapa gelar sarjana saja tidak cukup?
Karena dunia usaha menuntut keterampilan praktis dan kemampuan adaptasi.
10. Dampak metaverse terhadap belanja di masa depan?
Menciptakan pengalaman belanja virtual yang lebih imersif dan interaktif.
IX. Pertanyaan Reflektif
1. Apakah saya telah memiliki keterampilan yang relevan untuk bersaing di pasar kerja lima tahun ke depan?
Pertanyaan ini menuntut evaluasi terhadap kemampuan teknis, digital, dan soft skills yang dimiliki saat ini.
2. Seberapa sering saya melakukan unlearn untuk mempelajari hal baru?
Kemampuan melepaskan pola lama dan menerima pengetahuan baru menjadi kunci adaptasi di era perubahan cepat.
3. Jika saya memulai bisnis hari ini, apakah produk saya memberikan dampak positif bagi lingkungan?
Refleksi ini berkaitan dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan dalam kegiatan ekonomi.
4. Bagaimana reaksi saya terhadap kegagalan teknologi dalam operasional bisnis?
Kesiapan menghadapi kegagalan menunjukkan ketangguhan dan kemampuan manajemen risiko.
5. Apakah saya lebih berfokus pada gaya hidup wirausaha atau nilai yang diciptakan oleh usaha saya?
Pertanyaan ini menekankan perbedaan antara orientasi citra dan orientasi dampak nyata.
6. Sejauh mana saya membiarkan AI membantu pengambilan keputusan pribadi?
Diperlukan keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan kemandirian berpikir.
7. Apakah saya cukup toleran terhadap perbedaan budaya di pasar global?
Toleransi budaya merupakan kompetensi penting dalam bisnis internasional.
8. Bagaimana saya menjaga keseimbangan antara produktivitas digital dan kesehatan mental?
Produktivitas berkelanjutan hanya dapat dicapai jika kesehatan mental tetap terjaga.
9. Apakah saya siap jika model bisnis saya menjadi usang akibat inovasi baru?
Kesiapan berinovasi dan bertransformasi menjadi indikator ketahanan bisnis.
10. Warisan (legacy) apa yang ingin saya tinggalkan melalui bisnis yang saya bangun?
Pertanyaan ini mendorong pemikiran jangka panjang mengenai kontribusi sosial dan nilai yang ditinggalkan.
Ilham Yusuf AE28
BalasHapus- Pertanyaan Pemantik
1. Keberlanjutan sebagai Syarat Investasi
Investor modern kini menggunakan kriteria ESG (Environmental, Social, and Governance). Bisnis yang tidak berkelanjutan dianggap berisiko tinggi karena potensi regulasi pemerintah di masa depan, kelangkaan sumber daya, dan penolakan konsumen. Keberlanjutan bukan lagi sekadar "aksi sosial", melainkan strategi mitigasi risiko jangka panjang.
2. Toko Desa Menjadi Pemain Global
Internet telah meruntuhkan batasan geografis. Dengan platform e-commerce dan logistik yang terintegrasi, toko desa dapat mengakses pasar global asalkan memiliki Unique Selling Proposition (USP) yang kuat—misalnya produk kerajinan tangan otentik atau komoditas lokal yang langka.
3. Ancaman bagi Bisnis Konvensional vs. Gen Alpha
Generasi Alpha (lahir 2010-2024) adalah digital natives murni. Jika bisnis gagal memahami mereka, bisnis tersebut akan kehilangan relevansi. Gen Alpha menghargai interaksi yang imersif, gamifikasi, dan keterlibatan sosial dalam berbelanja. Tanpa adaptasi, bisnis konvensional akan dianggap "kuno" dan ditinggalkan.
4. Peran AI bagi Wirausahawan
AI tidak akan menggantikan wirausahawan, tetapi wirausahawan yang menggunakan AI akan menggantikan mereka yang tidak menggunakannya. AI memperkuat peran manusia dalam hal analisis data cepat dan otomasi tugas rutin, sehingga wirausahawan bisa fokus pada visi kreatif dan empati pelanggan.
5. Keaslian (Authenticity) vs. Kesempurnaan
Gen Z tumbuh di tengah filter media sosial yang berlebihan. Mereka merasa lelah dengan citra yang "terlalu dipoles". Keaslian—termasuk menunjukkan proses di balik layar atau kegagalan—membangun koneksi emosial yang lebih jujur dan dapat dipercaya dibandingkan kampanye iklan yang kaku.
6. Risiko Ketergantungan pada Platform Pihak Ketiga
Risiko terbesarnya adalah "Digital Sharecropping". Jika platform mengubah algoritma atau memblokir akun Anda, seluruh bisnis bisa runtuh dalam semalam. Bisnis yang cerdas menggunakan media sosial sebagai saluran distribusi, tetapi tetap membangun aset mandiri seperti daftar email atau situs web pribadi.
7. Membangun Kepercayaan Internasional Tanpa Tatap Muka
Kepercayaan dibangun melalui transparansi dan bukti digital. Ini mencakup ulasan pelanggan yang terverifikasi, sertifikasi internasional, kebijakan pengembalian yang jelas, serta penggunaan sistem pembayaran pihak ketiga yang aman (escrow).
8. Etika dalam Penggunaan Data oleh AI
Etika harus menjadi fondasi utama. Penggunaan data tanpa transparansi akan merusak reputasi. Batasannya adalah pada persetujuan (consent) dan tujuan penggunaan; AI harus digunakan untuk memberikan nilai tambah bagi pelanggan, bukan sekadar memanipulasi perilaku mereka demi keuntungan sepihak.
9. Mengapa Gelar Sarjana Saja Tidak Cukup?
Dunia bisnis berubah lebih cepat daripada kurikulum akademis. Wirausahawan masa depan membutuhkan "Power Skills" seperti adaptabilitas, kecerdasan emosional, kemampuan belajar mandiri (lifelong learning), dan jejaring strategis yang seringkali tidak diajarkan secara mendalam di ruang kelas.
10. Belanja di Metaverse Tahun 2030
Metaverse akan mengubah belanja dari "melihat layar" menjadi "mengalami". Konsumen bisa mencoba pakaian secara virtual pada avatar mereka yang akurat secara fisik atau mengunjungi toko virtual di belahan dunia lain secara instan, menggabungkan kenyamanan belanja online dengan pengalaman sensorik belanja fisik.
Nama:Muhamad Davit Basiron
BalasHapusAE27
1.Mengapa keberlanjutan (sustainability) kini menjadi syarat mutlak untuk mendapatkan investasi?
Karena investor tidak lagi hanya mengejar keuntungan jangka pendek, tetapi juga keamanan jangka panjang. Bisnis yang merusak lingkungan, mengeksploitasi tenaga kerja, atau tidak transparan berisiko terkena regulasi, boikot konsumen, dan krisis reputasi. Sustainability menjadi indikator bahwa bisnis mampu bertahan, patuh hukum, dan diterima sosial dalam jangka panjang.
2. Bagaimana sebuah toko kecil di desa bisa menjadi pemain global di era internet?
Internet menghilangkan batas geografis. Melalui marketplace global, media sosial, dan logistik internasional, toko kecil bisa menjangkau pelanggan luar negeri tanpa harus membuka cabang fisik. Kunci utamanya adalah branding digital, kualitas produk, storytelling lokal, dan sistem distribusi yang efisien.
3. Apa yang akan terjadi pada bisnis konvensional jika mereka gagal memahami keinginan Generasi Alpha?
Mereka akan kehilangan relevansi. Generasi Alpha tumbuh dengan teknologi, interaktivitas, kecepatan, dan personalisasi. Jika bisnis tidak adaptif terhadap pengalaman digital, nilai sosial, dan kepraktisan yang diinginkan generasi ini, maka bisnis akan ditinggalkan dan tergantikan oleh pemain yang lebih inovatif.
4. Apakah AI akan menggantikan peran wirausahawan atau justru memperkuatnya?
AI tidak menggantikan wirausahawan, tetapi mengganti tugas-tugas teknisnya. Keputusan strategis, kreativitas, empati terhadap pasar, dan keberanian mengambil risiko tetap manusiawi. AI memperkuat wirausahawan dengan menyediakan analisis data, prediksi pasar, dan otomatisasi operasional.
5. Mengapa "keaslian" (authenticity) lebih dihargai daripada "kesempurnaan" oleh Gen Z?
Karena Gen Z sangat sensitif terhadap manipulasi dan pencitraan palsu. Mereka lebih menghargai brand yang jujur, transparan, dan manusiawi meskipun tidak sempurna. Keaslian menciptakan hubungan emosional dan kepercayaan, sedangkan kesempurnaan sering diasosiasikan dengan kepalsuan.
6. Apa risiko terbesar dari model bisnis yang terlalu bergantung pada platform pihak ketiga?
Risiko utamanya adalah ketergantungan dan kehilangan kendali. Perubahan algoritma, kebijakan platform, atau pemblokiran akun dapat langsung menghancurkan bisnis. Selain itu, data pelanggan bukan milik bisnis, melainkan milik platform.
7. Bagaimana cara membangun kepercayaan pelanggan dalam perdagangan internasional tanpa tatap muka?
Dengan transparansi, ulasan pelanggan, sertifikasi, sistem pembayaran aman, layanan pelanggan responsif, dan konsistensi kualitas. Trust dibangun bukan dari janji, tetapi dari pengalaman yang konsisten.
8. Sejauh mana etika harus berperan dalam penggunaan data pelanggan oleh AI?
Etika harus menjadi fondasi utama. Penggunaan data harus berbasis persetujuan, perlindungan privasi, dan tujuan yang jelas. Tanpa etika, AI bisa menjadi alat eksploitasi yang merusak kepercayaan publik dan legitimasi bisnis.
9. Mengapa gelar sarjana saja tidak lagi cukup untuk menjadi wirausahawan sukses di masa depan?
Karena dunia berubah lebih cepat daripada kurikulum. Yang dibutuhkan adalah kemampuan belajar cepat, adaptasi teknologi, jejaring, kreativitas, dan kecerdasan emosional. Gelar hanya bukti formal, bukan bukti kompetensi dinamis.
10. Bagaimana konsep "Metaverse" akan mengubah cara kita berbelanja di masa depan?
Metaverse memungkinkan belanja menjadi pengalaman imersif: pelanggan bisa "masuk" ke toko virtual, mencoba produk dalam bentuk avatar, dan berinteraksi sosial sebelum membeli. Belanja tidak lagi sekadar transaksi, tetapi pengalaman digital sosial.
Nama:Desta aditya
BalasHapusAE15
1. Mengapa keberlanjutan (sustainability) kini menjadi syarat mutlak untuk mendapatkan investasi?
Karena investor tidak lagi hanya melihat keuntungan jangka pendek, tetapi juga risiko jangka panjang. Bisnis yang tidak ramah lingkungan atau sosial berisiko terkena regulasi, boikot konsumen, dan krisis reputasi. Sustainability menunjukkan bahwa bisnis mampu bertahan, bertanggung jawab, dan stabil di masa depan.
2. Bagaimana sebuah toko kecil di desa bisa menjadi pemain global di era internet?
Internet menghapus batas geografis. Dengan e-commerce, media sosial, dan logistik global, toko kecil bisa menjual produk ke luar negeri. Kuncinya adalah cerita produk, kualitas, branding digital, dan pemanfaatan platform online seperti marketplace dan media sosial.
3. Apa yang akan terjadi pada bisnis konvensional jika mereka gagal memahami keinginan Generasi Alpha?
Bisnis tersebut akan ditinggalkan pasar. Generasi Alpha tumbuh dengan teknologi, mengutamakan kecepatan, personalisasi, digital experience, dan nilai sosial. Bisnis yang tidak beradaptasi akan dianggap tidak relevan.
4. Apakah AI akan menggantikan peran wirausahawan atau justru memperkuatnya?
AI tidak menggantikan wirausahawan, tetapi memperkuatnya. AI membantu analisis data, efisiensi operasional, dan pemasaran. Namun visi, kreativitas, empati, dan pengambilan keputusan strategis tetap membutuhkan manusia.
5. Mengapa "keaslian" (authenticity) lebih dihargai daripada "kesempurnaan" oleh Gen Z?
Gen Z menghargai kejujuran dan transparansi. Mereka lebih percaya brand yang tampil apa adanya daripada yang terlihat sempurna tapi palsu. Keaslian membangun koneksi emosional dan kepercayaan.
6. Apa risiko terbesar dari model bisnis yang terlalu bergantung pada platform pihak ketiga (seperti TikTok/Instagram)?
Risikonya adalah ketergantungan penuh. Perubahan algoritma, kebijakan, atau pemblokiran akun bisa langsung menurunkan penjualan. Bisnis kehilangan kontrol data pelanggan dan brand ownership.
7. Bagaimana cara membangun kepercayaan pelanggan dalam perdagangan internasional tanpa tatap muka?
Dengan transparansi informasi, sistem pembayaran aman, ulasan pelanggan, sertifikasi, layanan pelanggan responsif, serta konsistensi kualitas produk dan pengiriman.
8. Sejauh mana etika harus berperan dalam penggunaan data pelanggan oleh AI?
Etika harus menjadi fondasi utama. Data harus digunakan secara izin (consent), aman, tidak disalahgunakan, dan transparan. Tanpa etika, AI bisa merusak kepercayaan publik dan melanggar hukum.
9. Mengapa gelar sarjana saja tidak lagi cukup untuk menjadi wirausahawan sukses di masa depan?
Karena dunia bisnis berubah cepat. Wirausahawan butuh skill praktis seperti adaptasi teknologi, kreativitas, komunikasi, problem solving, dan pembelajaran berkelanjutan—bukan hanya teori akademik.
10. Bagaimana konsep "Metaverse" akan mengubah cara kita berbelanja di tahun 2030?
Metaverse memungkinkan konsumen mencoba produk secara virtual, berinteraksi di toko digital 3D, dan berbelanja dengan pengalaman imersif. Belanja tidak lagi sekadar transaksi, tetapi pengalaman sosial dan digital.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusNama: Farizh Harsya Fadhillah
BalasHapusNim: 41324010033
(AE 30)
Jawaban Pertanyaan Pemantik:
• Investasi & Sustainability: Karena investor menghindari risiko jangka panjang dan pasar masa depan menuntut bisnis ramah lingkungan.
• Toko Desa Global: Memanfaatkan e-commerce lintas batas dan logistik digital untuk menjangkau pasar luar negeri.
• Mengabaikan Gen Alpha: Bisnis akan dianggap usang dan ditinggalkan karena tidak menawarkan pengalaman digital (phygital).
• AI Menggantikan?: Tidak, AI justru memperkuat sebagai mitra strategis untuk efisiensi, sementara manusia fokus pada empati.
• Authenticity: Gen Z skeptis pada kesempurnaan palsu iklan; mereka lebih percaya kejujuran dan transparansi.
• Risiko Platform: Ketergantungan tinggi pada perubahan algoritma dan ketidakpastian regulasi aplikasi.
• Kepercayaan Global: Dibangun lewat transparansi data, Blockchain, dan rekam jejak digital yang jelas.
• Etika AI: Sangat krusial demi menjaga privasi pelanggan dan menghindari boikot sosial.
• Gelar Tidak Cukup: Karena teknologi berubah cepat; kemampuan belajar hal baru (lifelong learning) lebih berharga daripada ijazah lama.
• Metaverse: Mengubah belanja menjadi pengalaman imersif yang menggabungkan dunia fisik dan virtual secara mulus.
Jawaban Pertanyaan Reflektif:
• Skill: Saya harus terus upskilling literasi digital agar tetap relevan.
• Unlearn: Harus sering membuang cara lama demi mengadopsi inovasi yang lebih efisien.
• Dampak Positif: Produk saya sebisa mungkin harus minim limbah atau mendukung ekonomi sirkular.
• Reaksi Kegagalan: Tetap tenang, anggap eror teknologi sebagai data untuk perbaikan sistem.
• Gaya vs Nilai: Fokus menciptakan solusi nyata bagi orang lain, bukan sekadar gaya hidup bos.
• Peran AI: Gunakan AI untuk analisis data, tapi keputusan etis tetap pakai hati nurani.
• Toleransi: Wajib peka budaya lokal (glocalization) agar diterima pasar global.
• Kesehatan Mental: Disiplin membatasi waktu online agar tidak burnout.
• Siap Pivot: Harus siap banting setir model bisnis kapan saja jika tren berubah.
• Legacy: Ingin mewariskan bisnis yang profit tapi juga memanusiakan manusia dan menjaga bumi.
Nama:Farel Sebastian
BalasHapusAE25
1. Mengapa keberlanjutan (sustainability) kini menjadi syarat mutlak untuk mendapatkan investasi?
Karena investor melihat keberlanjutan sebagai indikator risiko jangka panjang. Bisnis yang merusak lingkungan, mengabaikan sosial, atau tata kelola yang buruk (ESG) lebih rentan terhadap regulasi, boikot konsumen, dan krisis reputasi. Sustainability = bisnis lebih stabil, tahan krisis, dan relevan di masa depan.
2. Bagaimana sebuah toko kecil di desa bisa menjadi pemain global di era internet?
Melalui:
E-commerce & media sosial (marketplace, Instagram, TikTok)
Brand story yang unik (lokal, tradisional, autentik)
Logistik global yang kini lebih terjangkau
Internet menghapus batas geografis; yang penting bukan lokasi, tapi nilai dan visibilitas.
3. Apa yang akan terjadi pada bisnis konvensional jika gagal memahami Generasi Alpha?
Bisnis akan ditinggalkan. Generasi Alpha tumbuh dengan AI, visual interaktif, dan kecepatan tinggi. Jika bisnis tetap:
lambat,
tidak digital,
tidak personal,
maka mereka akan kalah dari brand yang lebih adaptif dan relevan.
4. Apakah AI akan menggantikan peran wirausahawan atau justru memperkuatnya?
AI memperkuat, bukan menggantikan.
AI unggul di:
analisis data,
otomatisasi,
efisiensi.
Namun wirausahawan tetap dibutuhkan untuk:
visi,
kreativitas,
empati,
pengambilan keputusan etis.
5. Mengapa “keaslian” (authenticity) lebih dihargai daripada “kesempurnaan” oleh Gen Z?
Karena Gen Z:
terbiasa dengan konten nyata (real-time, behind the scenes),
mudah mendeteksi kepalsuan,
lebih percaya manusia yang jujur daripada brand yang terlalu “dipoles”.
Keaslian membangun kepercayaan emosional.
6. Apa risiko terbesar dari model bisnis yang terlalu bergantung pada platform pihak ketiga (TikTok/Instagram)?
Perubahan algoritma mendadak
Akun bisa diblokir tanpa peringatan
Tidak memiliki data pelanggan sendiri
Artinya: bisnis tidak sepenuhnya punya kendali atas masa depannya.
7. Bagaimana cara membangun kepercayaan pelanggan dalam perdagangan internasional tanpa tatap muka?
Dengan:
transparansi (harga, kebijakan, identitas bisnis),
review & testimoni,
sertifikasi & payment escrow,
komunikasi cepat dan profesional.
Kepercayaan dibangun lewat konsistensi, bukan pertemuan fisik.
8. Sejauh mana etika harus berperan dalam penggunaan data pelanggan oleh AI?
Etika harus menjadi batas utama.
AI boleh cerdas, tapi:
data harus dengan izin,
tidak manipulatif,
tidak melanggar privasi.
Tanpa etika, kepercayaan publik akan hilang → bisnis runtuh.
9. Mengapa gelar sarjana saja tidak lagi cukup untuk menjadi wirausahawan sukses?
Karena dunia bisnis berubah cepat. Yang dibutuhkan:
kemampuan belajar mandiri,
adaptasi teknologi,
problem solving,
pengalaman nyata.
Gelar penting, tapi skill, mindset, dan eksekusi jauh lebih menentukan.
10. Bagaimana konsep Metaverse akan mengubah cara kita berbelanja di tahun 2030?
Belanja akan menjadi:
immersive (masuk ke toko virtual),
interaktif (mencoba produk digital),
sosial (belanja sambil berinteraksi).
Belanja bukan sekadar transaksi, tapi pengalaman.
Ridho Fiambri Putra
BalasHapusAE 21
Pertanyaan Pemantik
1. Mengapa keberlanjutan (sustainability) kini menjadi syarat mutlak untuk mendapatkan investasi?
Karena investor tidak lagi hanya mengejar keuntungan jangka pendek, tetapi juga keamanan jangka panjang. Bisnis yang tidak berkelanjutan berisiko terkena regulasi, krisis lingkungan, dan penolakan konsumen. Sustainability menunjukkan bahwa bisnis tahan risiko, bertanggung jawab, dan siap bertumbuh jangka panjang.
2. Bagaimana sebuah toko kecil di desa bisa menjadi pemain global di era internet?
Melalui digitalisasi dan platform online. Dengan e-commerce, media sosial, dan logistik global, lokasi tidak lagi menjadi hambatan. Kunci utamanya adalah produk unik, branding kuat, dan pemasaran digital yang tepat sasaran.
3. Apa yang akan terjadi pada bisnis konvensional jika gagal memahami keinginan Generasi Alpha?
Bisnis tersebut akan ditinggalkan pasar. Generasi Alpha tumbuh dengan teknologi, AI, dan personalisasi tinggi. Jika bisnis tidak adaptif terhadap kecepatan, digital experience, dan nilai sosial, maka akan kalah oleh bisnis yang lebih relevan.
4. Apakah AI akan menggantikan peran wirausahawan atau justru memperkuatnya?
AI tidak menggantikan wirausahawan, tetapi memperkuatnya. AI membantu analisis data, efisiensi operasional, dan pengambilan keputusan. Namun kreativitas, visi, dan keberanian mengambil risiko tetap menjadi peran manusia.
5. Mengapa “keaslian” (authenticity) lebih dihargai daripada “kesempurnaan” oleh Gen Z?
Karena Gen Z menghargai kejujuran dan realitas, bukan pencitraan palsu. Mereka lebih percaya brand yang transparan, jujur, dan memiliki cerita nyata, dibandingkan brand yang terlihat sempurna tapi tidak autentik.
6. Apa risiko terbesar dari model bisnis yang terlalu bergantung pada platform pihak ketiga?
Risiko terbesarnya adalah kehilangan kendali. Perubahan algoritma, kebijakan platform, atau akun yang diblokir dapat langsung menghentikan bisnis. Oleh karena itu, bisnis harus membangun aset sendiri seperti database pelanggan dan website.
7. Bagaimana cara membangun kepercayaan pelanggan dalam perdagangan internasional tanpa tatap muka?
Dengan reputasi digital: ulasan pelanggan, sertifikasi, transparansi informasi, sistem pembayaran aman, dan layanan pelanggan responsif. Kepercayaan dibangun dari konsistensi dan kredibilitas, bukan pertemuan fisik.
8. Sejauh mana etika harus berperan dalam penggunaan data pelanggan oleh AI?
Etika harus menjadi batas utama. Data pelanggan harus digunakan secara transparan, aman, dan dengan persetujuan. Penyalahgunaan data dapat merusak kepercayaan dan reputasi bisnis, bahkan jika secara teknologi memungkinkan.
9. Mengapa gelar sarjana saja tidak lagi cukup untuk menjadi wirausahawan sukses di masa depan?
Karena dunia bisnis menuntut skill praktis, seperti problem solving, adaptasi teknologi, komunikasi, dan kreativitas. Gelar akademik penting, tetapi harus didukung oleh pengalaman, mindset, dan kemampuan belajar berkelanjutan.
10. Bagaimana konsep Metaverse akan mengubah cara kita berbelanja di tahun 2030?
Metaverse memungkinkan pengalaman belanja virtual dan imersif, seperti mencoba produk dalam dunia digital sebelum membeli. Konsumen tidak hanya membeli barang, tetapi juga pengalaman dan interaksi, menggabungkan dunia fisik dan digital.
nama : Dwi Kurniawan
BalasHapusKode : AE29
pematik
1. Investasi & Keberlanjutan: Investor kini menggunakan metrik ESG (Environmental, Social, Governance) karena bisnis yang berkelanjutan dianggap memiliki risiko jangka panjang yang lebih rendah dan ketahanan yang lebih baik terhadap regulasi masa depan.
2. Toko Desa Jadi Global: Melalui e-commerce dan media sosial, toko kecil bisa melakukan pemasaran lintas batas. Kuncinya adalah spesialisasi produk (niche) dan logistik yang terintegrasi.
3. Nasib Bisnis Konvensional: Jika gagal memahami Gen Alpha, bisnis akan menjadi relevan hanya bagi pasar yang menyusut dan akhirnya mati karena gagal beradaptasi dengan konsumen yang sangat melek digital, visual, dan menuntut interaksi instan.
4. AI & Wirausahawan: AI tidak menggantikan wirausahawan, melainkan memperkuatnya. AI menangani tugas teknis dan data, sementara wirausahawan fokus pada visi, empati, dan pengambilan keputusan strategis.
5. Keaslian vs. Kesempurnaan: Gen Z tumbuh di era filter yang berlebihan; mereka merasa lelah dengan citra palsu. Authenticity membangun koneksi manusiawi dan kepercayaan yang tidak bisa diberikan oleh konten yang terlalu dipoles.
6. Risiko Pihak Ketiga: Risikonya adalah "Digital Sharecropping"—perubahan algoritma mendadak atau penutupan akun bisa mematikan bisnis dalam semalam karena Anda tidak memiliki data pelanggan secara mandiri.
7. Kepercayaan Internasional: Membangun kepercayaan dilakukan melalui sistem pembayaran aman (escrow), ulasan transparan, sertifikasi internasional, dan komunikasi responsif yang menunjukkan profesionalisme.
8. Etika Data & AI: Etika harus menjadi fondasi utama. Penggunaan data tanpa transparansi akan menghancurkan reputasi merek; AI harus digunakan untuk memberi nilai tambah bagi pelanggan, bukan sekadar eksploitasi.
9. Gelar Sarjana vs. Wirausaha: Di masa depan, adaptabilitas dan keterampilan praktis lebih penting. Perubahan dunia begitu cepat sehingga kurikulum akademis sering tertinggal dibandingkan dinamika pasar nyata.
10. Metaverse 2030: Belanja akan menjadi pengalaman imersif. Anda tidak lagi melihat foto produk, melainkan mencoba produk secara virtual (avatar) dalam ruang 3D sebelum memutuskan untuk membeli barang fisik
Nama: Cut Kinanthi Khanza Ardya Rosi
BalasHapusKode: AE48
Jawaban Pematik
1. Keberlanjutan menjadi syarat mutlak karena investor mencari bisnis yang tahan jangka panjang, bertanggung jawab secara sosial, dan mampu meminimalkan risiko lingkungan serta reputasi.
2. Toko kecil di desa bisa menjadi pemain global dengan memanfaatkan internet, media sosial, dan platform digital untuk menjangkau pasar internasional tanpa batas geografis.
3. Bisnis konvensional berisiko kehilangan relevansi dan pasar karena Generasi Alpha memiliki perilaku, nilai, dan ekspektasi yang sangat berbeda serta berbasis teknologi.
4. AI tidak sepenuhnya menggantikan wirausahawan, melainkan memperkuat peran mereka dengan membantu analisis, efisiensi, dan pengambilan keputusan.
5. Keaslian lebih dihargai oleh Gen Z karena mereka mencari transparansi, nilai nyata, dan koneksi yang jujur, bukan citra yang dibuat-buat.
6. Risiko terbesarnya adalah ketergantungan penuh pada algoritma dan kebijakan platform yang dapat berubah sewaktu-waktu tanpa kendali pelaku bisnis.
7. Kepercayaan dibangun melalui transparansi, reputasi digital, ulasan pelanggan, sertifikasi, dan komunikasi yang konsisten meski tanpa tatap muka.
8. Etika harus berperan besar agar penggunaan data pelanggan oleh AI tetap menghormati privasi, keamanan, dan hak individu.
9. Gelar sarjana saja tidak cukup karena wirausahawan masa depan dituntut memiliki keterampilan praktis, adaptif, dan pembelajaran berkelanjutan.
10. Metaverse berpotensi mengubah cara berbelanja dengan menghadirkan pengalaman virtual yang imersif, interaktif, dan personal.
Jawaban Reflektif
1. Saya sudah memiliki beberapa keterampilan dasar yang relevan, namun masih perlu terus mengembangkan kemampuan agar tetap kompetitif.
2. Saya mulai melakukan *unlearn*, meskipun belum konsisten dan masih dalam proses belajar.
3. Produk yang saya rancang akan berupaya memberikan dampak positif bagi lingkungan, meski skalanya bertahap.
4. Saya awalnya merasa panik, tetapi berusaha belajar dari kegagalan dan mencari solusi.
5. Saya lebih ingin fokus pada nilai dan dampak yang diciptakan oleh usaha saya.
6. AI saya gunakan sebagai alat bantu, sementara keputusan akhir tetap saya tentukan sendiri.
7. Saya cukup toleran terhadap perbedaan budaya, namun masih perlu meningkatkan pemahaman.
8. Saya menjaga keseimbangan dengan mengatur waktu digital dan memberi ruang untuk istirahat.
9. Saya berusaha siap dengan bersikap fleksibel dan terbuka terhadap perubahan.
10. Saya ingin meninggalkan warisan bisnis yang bermanfaat, beretika, dan berdampak positif.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusNama : Erlintang Mardika
BalasHapusKode : AE32
Jawaban pemantik
1. Sustainability penting karena investor melihat risiko jangka panjang dan ketahanan bisnis.
2. Toko desa bisa global lewat internet, marketplace, dan branding digital.
3. Bisnis konvensional akan kehilangan pasar jika tak paham Gen Alpha.
4. Al memperkuat, bukan menggantikan, peran wirausahawan.
5. Gen Z lebih percaya keaslian daripada citra sempurna yang dibuat-buat.
6. Risiko terbesar: ketergantungan algoritma dan kebijakan platform.
7. Kepercayaan dibangun lewat reputasi digital dan transparansi.
8. Etika penting agar privasi dan kepercayaan pelanggan terjaga.
9. Sarjana saja tidak cukup tanpa skill praktis dan adaptasi.
10. Metaverse membuat belanja jadi pengalaman virtual yang imersif.
Nama:Andhika Barry Yudhistira
BalasHapusAE22
1. Mengapa keberlanjutan (sustainability) kini menjadi syarat mutlak untuk mendapatkan investasi?
Keberlanjutan menjadi syarat utama karena investor tidak lagi hanya mengejar keuntungan jangka pendek, tetapi juga ketahanan bisnis jangka panjang. Bisnis yang memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (Environmental, Social, Governance / ESG) dianggap:
Lebih tahan terhadap risiko regulasi
Lebih dipercaya konsumen
Lebih stabil dalam jangka panjang
Investor melihat bisnis berkelanjutan sebagai investasi yang lebih aman dan bertanggung jawab.
2. Bagaimana sebuah toko kecil di desa bisa menjadi pemain global di era internet?
Internet menghilangkan batas geografis. Toko kecil di desa bisa:
Menjual produk melalui marketplace global
Memanfaatkan media sosial untuk branding
Menggunakan sistem logistik dan pembayaran digital
Dengan cerita produk yang kuat, kualitas konsisten, dan pemasaran digital, skala kecil tidak lagi menjadi hambatan untuk menjangkau pasar global.
3. Apa yang akan terjadi pada bisnis konvensional jika gagal memahami keinginan Generasi Alpha?
Generasi Alpha tumbuh bersama teknologi, AI, dan personalisasi. Jika bisnis konvensional gagal memahami mereka:
Produk akan dianggap tidak relevan
Brand akan kehilangan masa depan konsumennya
Bisnis berpotensi mati secara perlahan
Adaptasi terhadap teknologi, nilai, dan pengalaman digital menjadi keharusan.
4. Apakah AI akan menggantikan peran wirausahawan atau justru memperkuatnya?
AI tidak menggantikan wirausahawan, tetapi memperkuat perannya. AI dapat:
Mengotomatisasi proses
Menganalisis data pasar
Membantu pengambilan keputusan
Namun, kreativitas, empati, visi, dan keberanian mengambil risiko tetap hanya dimiliki manusia.
5. Mengapa “keaslian” (authenticity) lebih dihargai daripada “kesempurnaan” oleh Gen Z?
Gen Z tumbuh di tengah banjir konten digital. Mereka:
Lebih percaya cerita nyata daripada citra sempurna
Menolak brand yang terkesan palsu
Menghargai transparansi dan nilai sosial
Keaslian menciptakan koneksi emosional, bukan sekadar kesan visual.
6. Apa risiko terbesar dari model bisnis yang terlalu bergantung pada platform pihak ketiga (TikTok/Instagram)?
Risiko utamanya adalah ketergantungan. Bisnis bisa:
Kehilangan audiens jika algoritma berubah
Terkena pembatasan akun atau penutupan platform
Tidak memiliki kontrol penuh atas data pelanggan
Karena itu, penting membangun aset sendiri seperti website dan database pelanggan.
7. Bagaimana cara membangun kepercayaan pelanggan dalam perdagangan internasional tanpa tatap muka?
Kepercayaan dibangun melalui:
Transparansi informasi produk
Sistem pembayaran aman
Review dan testimoni
Sertifikasi dan jaminan pengiriman
Kepercayaan adalah mata uang utama dalam bisnis global digital.
8. Sejauh mana etika harus berperan dalam penggunaan data pelanggan oleh AI?
Etika harus menjadi fondasi utama, bukan pelengkap. Penggunaan data harus:
Transparan
Atas persetujuan pengguna
Dijaga keamanannya
Tanpa etika, AI dapat merusak kepercayaan dan reputasi bisnis.
9. Mengapa gelar sarjana saja tidak lagi cukup untuk menjadi wirausahawan sukses?
Karena dunia bisnis berubah sangat cepat. Wirausahawan masa depan butuh:
Keterampilan digital
Kemampuan adaptasi
Problem solving dan kreativitas
Pembelajaran sepanjang hayat
Gelar akademik penting, tetapi skill dan mentalitas jauh lebih menentukan.
10. Bagaimana konsep Metaverse akan mengubah cara kita berbelanja di tahun 2030?
Metaverse memungkinkan:
Toko virtual 3D
Mencoba produk secara digital
Interaksi sosial saat berbelanja
Belanja tidak lagi sekadar transaksi, tetapi menjadi pengalaman imersif yang menggabungkan hiburan, teknologi, dan sosial.
Nama : Rio Aris Munandar ( AE12 )
BalasHapusNim : 41324010009
Pertanyaan Pemantik
1. Mengapa sustainability penting untuk investasi?
Karena investor mencari bisnis yang tahan lama, minim risiko lingkungan, dan bertanggung jawab secara sosial.
2. Bagaimana toko desa bisa jadi pemain global?
Dengan internet, e-commerce, dan media sosial, produk lokal bisa dijual langsung ke pasar internasional.
3. Dampak jika bisnis tak paham Generasi Alpha
Bisnis akan ditinggalkan karena dianggap tidak relevan, ketinggalan teknologi, dan tidak menarik.
4. Apakah AI menggantikan wirausahawan?
Tidak, AI justru memperkuat wirausahawan dalam analisis, efisiensi, dan pengambilan keputusan.
5. Mengapa Gen Z menghargai keaslian?
Karena mereka lebih percaya pada brand yang jujur dan nyata, bukan yang terlihat sempurna tapi palsu.
6. Risiko bergantung pada platform pihak ketiga
Akun bisa diblokir, algoritma berubah, dan bisnis bisa langsung kehilangan pasar.
7.Membangun kepercayaan tanpa tatap muka
Lewat transparansi, ulasan pelanggan, sistem pembayaran aman, dan layanan yang konsisten.
8. Peran etika dalam penggunaan data AI
Sangat penting agar data tidak disalahgunakan dan kepercayaan pelanggan tetap terjaga.
9. Mengapa gelar sarjana saja tidak cukup?
Karena dunia bisnis butuh skill praktis, adaptasi cepat, dan pembelajaran berkelanjutan.
10. Dampak Metaverse pada belanja 2030
Belanja jadi lebih interaktif, virtual, dan menyerupai pengalaman dunia nyata.
Pertanyaan Reflektif
1. Kesiapan skill 5 tahun ke depan
Harus terus belajar agar tidak tertinggal teknologi dan pasar.
2. Kebiasaan unlearn dan belajar ulang
Penting untuk melepaskan cara lama yang tidak relevan.
3.Dampak bisnis pada bumi
Idealnya bisnis memberi manfaat, bukan merusak lingkungan.
4. Sikap terhadap kegagalan teknologi
Dilihat sebagai pelajaran untuk memperbaiki sistem.
5. Fokus gaya hidup atau nilai bisnis
Nilai dan dampak bisnis lebih penting daripada sekadar gaya hidup.
6. Peran AI dalam keputusan pribadi
AI membantu, tapi keputusan akhir tetap di manusia.
7. Toleransi budaya di pasar global
Sangat penting untuk menghindari konflik dan membangun kepercayaan.
8. Produktivitas digital & kesehatan mental
Perlu batasan agar tidak burnout.
9. Kesiapan menghadapi bisnis usang
Harus siap beradaptasi dan berinovasi.
10. Warisan melalui bisnis
Bisnis yang bermanfaat bagi banyak orang dan lingkungan.
NAMA; Adi Wiguno Santoso
BalasHapusAE; 09
*Jawaban Pertanyaan Pemantik
1. Mengapa keberlanjutan (sustainability) kini menjadi syarat mutlak untuk mendapatkan investasi?
Karena investor modern tidak hanya mengejar keuntungan finansial, tetapi juga ingin meminimalkan risiko jangka panjang. Bisnis yang tidak berkelanjutan berisiko menghadapi regulasi ketat, krisis reputasi, dan penurunan kepercayaan konsumen. Model bisnis berkelanjutan menunjukkan kesiapan perusahaan menghadapi masa depan dan memberikan dampak positif bagi lingkungan serta masyarakat.
2. Bagaimana sebuah toko kecil di desa bisa menjadi pemain global di era internet?
Melalui pemanfaatan teknologi digital seperti e-commerce lintas batas, media sosial, dan sistem pembayaran global. Dengan strategi pemasaran digital yang tepat, logistik yang terintegrasi, serta storytelling berbasis keunikan lokal, toko kecil dapat menjangkau konsumen internasional tanpa harus memiliki cabang fisik di luar negeri.
3. Apa yang akan terjadi pada bisnis konvensional jika mereka gagal memahami keinginan Generasi Alpha?
Bisnis tersebut berisiko kehilangan relevansi dan pangsa pasar. Generasi Alpha mengharapkan pengalaman digital yang interaktif, personal, dan terintegrasi. Tanpa adaptasi teknologi dan pendekatan phygital, bisnis konvensional akan tertinggal dan sulit bersaing.
4. Apakah AI akan menggantikan peran wirausahawan atau justru memperkuatnya?
AI tidak menggantikan wirausahawan, tetapi memperkuat peran mereka. AI berfungsi sebagai alat bantu analisis, otomasi, dan prediksi, sementara kreativitas, empati, etika, dan visi strategis tetap menjadi keunggulan manusia.
5. Mengapa “keaslian” (authenticity) lebih dihargai daripada “kesempurnaan” oleh Gen Z?
Karena Gen Z menghargai transparansi dan kejujuran. Mereka lebih percaya pada merek yang menunjukkan nilai, proses, dan cerita nyata dibandingkan citra sempurna yang terasa tidak manusiawi atau manipulatif.
6. Apa risiko terbesar dari model bisnis yang terlalu bergantung pada platform pihak ketiga?
Risiko utamanya adalah kehilangan kendali atas data pelanggan, perubahan algoritma mendadak, ketergantungan pendapatan, dan potensi pemblokiran akun. Hal ini dapat mengancam keberlangsungan bisnis secara langsung.
7. Bagaimana cara membangun kepercayaan pelanggan dalam perdagangan internasional tanpa tatap muka?
Dengan transparansi informasi, sistem pembayaran aman, ulasan pelanggan, sertifikasi resmi, kebijakan pengembalian yang jelas, serta komunikasi yang responsif dan profesional.
8. Sejauh mana etika harus berperan dalam penggunaan data pelanggan oleh AI?
Etika harus menjadi fondasi utama. Penggunaan data harus berbasis persetujuan, keamanan, dan tujuan yang jelas. Tanpa etika, AI dapat merusak kepercayaan publik dan reputasi bisnis.
9. Mengapa gelar sarjana saja tidak lagi cukup untuk menjadi wirausahawan sukses di masa depan
Karena perubahan teknologi dan pasar sangat cepat. Keberhasilan wirausaha ditentukan oleh kemampuan belajar berkelanjutan, adaptasi, dan keterampilan praktis, bukan hanya ijazah formal.
10. Bagaimana konsep Metaverse akan mengubah cara kita berbelanja di tahun 2030?
Metaverse memungkinkan konsumen mencoba produk secara virtual, berinteraksi langsung dengan merek dalam dunia digital, dan merasakan pengalaman belanja yang imersif tanpa batasan geografis.
NAMA;Adi Wiguno Santoso
BalasHapusAE ;09
*Jawaban Pertanyaan Reflektif
1. Apakah saya sudah memiliki keterampilan yang relevan untuk 5 tahun ke depan?
Saya perlu terus mengevaluasi dan meningkatkan keterampilan digital, literasi data, serta kemampuan berpikir kritis agar tetap relevan di masa depan.
2. Seberapa sering saya melakukan unlearn untuk mempelajari hal baru?
Saya harus lebih terbuka meninggalkan kebiasaan lama yang tidak efektif dan menggantinya dengan pendekatan baru yang lebih adaptif.
3. Jika saya memulai bisnis hari ini, apakah berdampak positif bagi bumi?
Bisnis idealnya tidak hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga meminimalkan dampak lingkungan dan berkontribusi pada keberlanjutan.
4. Bagaimana reaksi saya terhadap kegagalan teknologi?
Saya perlu memandang kegagalan sebagai pembelajaran dan data evaluasi, bukan sebagai kegagalan personal.
5. Apakah saya fokus pada gaya hidup atau nilai yang diciptakan?
Nilai yang diciptakan bagi pelanggan dan masyarakat harus menjadi prioritas utama dibandingkan sekadar citra wirausaha.
6. Sejauh mana saya membiarkan AI membantu keputusan pribadi?
AI sebaiknya digunakan sebagai alat bantu, bukan pengganti akal sehat, intuisi, dan nilai moral saya.
7. Apakah saya toleran terhadap perbedaan budaya global?
Dalam pasar global, saya harus terus belajar menghargai perbedaan budaya dan cara berpikir.
8. Bagaimana menjaga keseimbangan produktivitas digital dan kesehatan mental?
Dengan mengatur waktu layar, menjaga rutinitas istirahat, dan memisahkan waktu kerja serta kehidupan pribadi.
9. Siapkah saya jika model bisnis saya menjadi usang?
Saya harus siap beradaptasi, berinovasi, dan melakukan pivot ketika perubahan pasar terjadi.
10. Apa warisan (legacy) yang ingin saya tinggalkan?
Saya ingin membangun bisnis yang tidak hanya sukses secara finansial, tetapi juga memberi dampak sosial dan lingkungan yang positif.
AE36 (Randhy Febryan)
BalasHapusJawaban Pematik :
1. Karena investor semakin fokus pada ESG (Environmental, Social, Governance). Bisnis berkelanjutan dianggap lebih tahan risiko jangka panjang, patuh regulasi, dan memiliki reputasi baik, sehingga peluang gagal lebih kecil.
2. Dengan memanfaatkan e-commerce, media sosial, logistik global, dan branding digital. Internet menghapus batas geografis sehingga produk lokal bisa menjangkau pasar internasional jika dikemas dan dipasarkan dengan tepat.
3.Bisnis tersebut berisiko kehilangan relevansi dan pasar. Generasi Alpha tumbuh dengan teknologi, personalisasi, dan kecepatan; bisnis yang kaku dan tidak digital akan ditinggalkan.
4. AI memperkuat wirausahawan, bukan menggantikan. AI membantu analisis data, efisiensi operasional, dan pengambilan keputusan, sementara kreativitas, visi, dan keberanian tetap peran manusia.
5. Gen Z menghargai kejujuran, transparansi, dan cerita nyata. Konten yang terlalu sempurna dianggap tidak manusiawi dan kurang dapat dipercaya.
6. Risikonya adalah kehilangan kontrol. Perubahan algoritma, kebijakan, atau pemblokiran akun dapat langsung menghancurkan bisnis yang tidak punya kanal sendiri.
7. Melalui reputasi digital, review pelanggan, sertifikasi, transparansi informasi, sistem pembayaran aman, dan layanan pelanggan responsif.
8. Etika harus menjadi fondasi utama. Data harus digunakan secara transparan, aman, dan dengan persetujuan pengguna agar tidak melanggar privasi dan kepercayaan publik.
9. Karena dunia bisnis menuntut keterampilan praktis, adaptasi cepat, literasi digital, dan pembelajaran berkelanjutan, bukan hanya teori akademik.
10. Metaverse memungkinkan pengalaman belanja virtual imersif, seperti mencoba produk secara digital, interaksi real-time dengan penjual, dan toko virtual tanpa batas fisik.
Nama : Rizky Permana Putra (AE08)
BalasHapusNim :41324010003
Jawaban soal pemantik
1. Karena investor menilai keberlanjutan sebagai indikator ketahanan jangka panjang, kepatuhan regulasi, serta tanggung jawab lingkungan dan sosial.
2. Internet memungkinkan akses pasar global melalui e-commerce, media sosial, logistik digital, dan pemasaran tanpa batas geografis.
3. Bisnis akan kehilangan relevansi karena Generasi Alpha menuntut personalisasi, kecepatan, teknologi, dan nilai sosial.
4. AI tidak menggantikan wirausahawan, tetapi meningkatkan efisiensi pengambilan keputusan, inovasi, dan skalabilitas usaha.
5. Gen Z menghargai kejujuran, transparansi, dan nilai nyata dibanding citra buatan yang terasa tidak manusiawi.
6. Kontrol bisnis melemah karena perubahan algoritma, kebijakan sepihak, dan risiko pemblokiran akun.
7. Kepercayaan dibangun melalui reputasi digital, sistem pembayaran aman, sertifikasi, ulasan, dan transparansi informasi.
8. Etika harus menjadi batas utama agar data tidak disalahgunakan, melindungi privasi, dan menjaga keadilan pengguna.
9. Dunia usaha menuntut keterampilan adaptif, pengalaman praktis, literasi digital, serta pembelajaran berkelanjutan.
10. Metaverse menghadirkan pengalaman belanja imersif melalui interaksi virtual, simulasi produk, dan toko digital tiga dimensi.
Jawaban Pertanyaan Reflektif
1. Keterampilan relevan tercapai bila saya terus mengasah kemampuan teknis, digital, komunikasi, dan adaptasi perubahan.
2. Unlearn perlu dilakukan rutin agar pola lama tidak menghambat penguasaan pengetahuan baru.
3. Produk berdampak positif jika dirancang ramah lingkungan serta bertanggung jawab sosial.
4. Kegagalan teknologi harus dihadapi dengan evaluasi cepat, solusi alternatif, dan pembelajaran sistem.
5. Fokus utama seharusnya pada nilai nyata, bukan sekadar citra wirausaha.
6. AI layak membantu analisis, namun keputusan akhir tetap dikendalikan manusia.
7. Toleransi budaya tercermin dari sikap terbuka, empati, dan komunikasi lintas nilai.
8. Keseimbangan dijaga melalui manajemen waktu, batas layar, dan perawatan diri.
9. Kesiapan dibangun dengan inovasi berkelanjutan serta fleksibilitas strategi.
10. Warisan terbaik berupa usaha yang bermanfaat, beretika, dan memberi dampak jangka panjang.
NAMA : MUHAMMAD FAHRI (AE 35)
BalasHapusNIM : 41523010184
Pertanyaan Pemantik
1. Mengapa sustainability penting untuk investasi?
Karena investor mencari bisnis yang tahan lama, minim risiko lingkungan, dan bertanggung jawab secara sosial.
2. Bagaimana toko desa bisa jadi pemain global?
Dengan internet, e-commerce, dan media sosial, produk lokal bisa dijual langsung ke pasar internasional.
3. Dampak jika bisnis tak paham Generasi Alpha
Bisnis akan ditinggalkan karena dianggap tidak relevan, ketinggalan teknologi, dan tidak menarik.
4. Apakah AI menggantikan wirausahawan?
Tidak, AI justru memperkuat wirausahawan dalam analisis, efisiensi, dan pengambilan keputusan.
5. Mengapa Gen Z menghargai keaslian?
Karena mereka lebih percaya pada brand yang jujur dan nyata, bukan yang terlihat sempurna tapi palsu.
6. Risiko bergantung pada platform pihak ketiga
Akun bisa diblokir, algoritma berubah, dan bisnis bisa langsung kehilangan pasar.
7.Membangun kepercayaan tanpa tatap muka
Lewat transparansi, ulasan pelanggan, sistem pembayaran aman, dan layanan yang konsisten.
8. Peran etika dalam penggunaan data AI
Sangat penting agar data tidak disalahgunakan dan kepercayaan pelanggan tetap terjaga.
9. Mengapa gelar sarjana saja tidak cukup?
Karena dunia bisnis butuh skill praktis, adaptasi cepat, dan pembelajaran berkelanjutan.
10. Dampak Metaverse pada belanja 2030
Belanja jadi lebih interaktif, virtual, dan menyerupai pengalaman dunia nyata.
Pertanyaan Reflektif
1. Kesiapan skill 5 tahun ke depan
Harus terus belajar agar tidak tertinggal teknologi dan pasar.
2. Kebiasaan unlearn dan belajar ulang
Penting untuk melepaskan cara lama yang tidak relevan.
3.Dampak bisnis pada bumi
Idealnya bisnis memberi manfaat, bukan merusak lingkungan.
4. Sikap terhadap kegagalan teknologi
Dilihat sebagai pelajaran untuk memperbaiki sistem.
5. Fokus gaya hidup atau nilai bisnis
Nilai dan dampak bisnis lebih penting daripada sekadar gaya hidup.
6. Peran AI dalam keputusan pribadi
AI membantu, tapi keputusan akhir tetap di manusia.
7. Toleransi budaya di pasar global
Sangat penting untuk menghindari konflik dan membangun kepercayaan.
8. Produktivitas digital & kesehatan mental
Perlu batasan agar tidak burnout.
9. Kesiapan menghadapi bisnis usang
Harus siap beradaptasi dan berinovasi.
10. Warisan melalui bisnis
Bisnis yang bermanfaat bagi banyak orang dan lingkungan.
Afif Ahmad Afifudin (AE 40) NIM:44222010076 Pertanyaan Pemantik:
BalasHapus1.Keberlanjutan penting bagi investor karena menunjukkan bisnis tahan risiko, patuh regulasi, dan memiliki prospek jangka panjang.
2.Toko kecil bisa go global dengan memanfaatkan e-commerce, media sosial, logistik digital, dan pembayaran internasional.
3.Bisnis konvensional akan ditinggalkan jika tidak memahami Generasi Alpha yang menuntut pengalaman digital dan interaktif.
4.AI tidak menggantikan wirausahawan, tetapi memperkuatnya dengan otomatisasi dan analisis yang lebih cepat.
5.Gen Z menghargai keaslian karena lebih percaya pada brand yang jujur dan manusiawi dibanding yang terlihat sempurna.
6. Risiko terbesar ketergantungan platform adalah kehilangan pasar akibat perubahan algoritma atau kebijakan sepihak.
7.Kepercayaan internasional dibangun lewat transparansi, ulasan pelanggan, sistem pembayaran aman, dan reputasi digital.
8.Etika dalam AI wajib agar data pelanggan tidak disalahgunakan dan kepercayaan tetap terjaga.
9. Gelar sarjana tidak cukup,karena wirausahawan harus terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan teknologi.
10.Metaverse mengubah belanja menjadi pengalaman virtual yang interaktif, imersif, dan personal. Belum sepenuhnya, karena keterampilan masa depan menuntut literasi digital, adaptasi teknologi, dan pembelajaran berkelanjutan.
Pertanyaan Reflektif Berikut jawaban singkat, reflektif, dan relevan dengan materi untuk setiap pertanyaan:
1.Belum sepenuhnya, karena keterampilan masa depan menuntut literasi digital, adaptasi teknologi, dan pembelajaran berkelanjutan.
2.Masih terbatas, unlearn perlu dilakukan lebih sering agar tidak terjebak cara berpikir lama.
3.Belum tentu, perlu memastikan bisnis berkontribusi pada keberlanjutan dan tidak merusak lingkungan.
4. Kegagalan harus disikapi adaptif, sebagai bahan evaluasi dan pembelajaran, bukan hambatan.
5. Nilai yang diciptakan lebih penting, karena dampak sosial dan lingkungan menentukan keberlanjutan usaha.
6.AI sebaiknya membantu, bukan menggantikan,terutama dalam analisis dan pengambilan keputusan rasional.
7. Perlu terus ditingkatkan, karena pasar global menuntut sensitivitas budaya dan komunikasi lintas budaya.
8. Dengan batasan digital yang jelas, agar produktivitas tidak mengorbankan kesehatan mental.
9. Harus siap, karena inovasi dapat membuat model bisnis usang kapan saja.
10.Warisan berupa dampak positif, baik bagi masyarakat, lingkungan, maupun perkembangan teknologi yang etis.