DESIGN THINKING

Design thinking adalah metodologi desain yang memberikan
pendekatan berbasis solusi untuk memecahkan masalah. Design thinking ini sangat
berguna dalam mengatasi masalah kompleks dengan memahami kebutuhan manusia yang
terlibat, dengan membingkai ulang masalah, dengan cara yang berpusat pada
manusia, dengan menciptakan banyak ide dalam sesi brainstorming, dan dengan
mengadopsi pendekatan langsung dalam pembuatan ide prototipe dan pengujian.

1. Emphatize
Tahap pertama ialah untuk mendaptkan pemahaman empatik dari
masalah yang ingin dipecahkan. Pada tahap ini dilakukan pendekatan terhadap
customer kita. Apa sebenarnya yang diinginkan oleh mereka. Hal ini dapat
dilakukan terjun langsung ke lapangan bertemu dengan mereka melakukan wawancara
dan dapat juga bertindak seolah menjadi mereka. Agar permasalahan customer yang
benar-benar ingin diselesaikan dapat berjalan dengan lancar.
Output : Output dari Tahap Emphatize ini adalah data,
insight, user persona, etc yang membuat kita dapat membuat sebuah produk yang
benar benar dibutuhkan dan menyelesaikan permasalahan user kita.
2. Define
Informasi yang telah dikumpulkan selama tahap Empathize,
dianalisis dan disintensis untuk menentukan masalah inti yang akan
diidentifikasi. Tahap define ini akan sangat membantu untuk menyelesaikan
masalah customer karena telah dilakukan penetapan masalah.
Output : Output dari tahap Define ini adalah problem
statement, rumusan masalah. Dan akan sangat membantu untuk menyelesaikan
masalah customer karena telah dilakukan penetapan masalah.
3. Ideate
Tahap ini merupakan tahap untuk menghasilkan ide. Semua
ide-ide akan ditampung guna penyelesain masalah yang telah ditetapkan pada
tahap define. Penting untuk mendapatkan ide sebanyak mungkin atau solusi
masalah di awal fase ide. Untuk tahap akhir ialah penyelidikan dan pengujian
ide-ide tadi untuk menemukan cara terbaik untuk memecahkan masalah atau
menyediakan elemen yang diperlukan untuk menghindari masalah-masalah yang
nantinya terjadi.
Menurut Aurora Harley, ada tiga pondasi dalam proses
ideation, diantaranya adalah:
- Ide tidak di evaluasi
Setiap anggota tim bebas untuk mengemukakan gagasan kepada
tim. Anggota tim yang lain mencoba memberikan ruang kepada rekannya untuk
berpendapat, tidak memandang sebelah mata, dan terburu-buru dalam menilai atau
mengevaluasi.
- Setiap ide didokumentasikan
Gagasan atau ide yang beredar dalam sesi
diskusi/brainstorming harus didokumentasikan. Biasanya menggunakan kertas
tempel dimana masing-masing anggota tim menuliskan ide-idenya ke dalam kertas
kemudian di tempel. Lebih baik lagi semua proses tersebut kemudian di
dokumentasikan dalam bentuk gambar atau video.
- Kolaborasi memacu
ide beragam
Anggota tim mendapatkan kesempatan untuk mengemukakan
ide-ide kreativ nya (semua ide adalah unik dan kreativ). Jika hal itu dilakukan
secara kelompok, maka akan menghasilkan ide yang banyak dan beragam.
Mengizinkan orang lain untuk membagikan ide di lingkungan yang terbuka memiliki
manfaat salah satunya adalah dapat membangun tim dan memperkuat dukungan untuk
desain akhir.
Output : Output dari tahap Ideate ini adalah sketsa, flow,
diagram, mind-map, concept. Dan dapat Meningkatkan potensi inovasi dari solusi
yang dibuat serta Menyatukan perspektif dan kekuatan anggota tim.
4. Prototype
Pada tahap ini akan dihasilkan sejumlah versi produk yang
murah dan diperkecil, atau fitur khusus yang ditemukan dalam produk, sehingga
dapat menyelidiki solusi masalah yang dihasilkan pada tahap sebelumnya.
Prototype ini dapat diuji dalam tim sendiri, atau ke beberapa orang lain.
Ketika ada masukan maka dilakukan pebaikan lagi pada prototype ini, sehingga
dihasilkan prototype yang benar-benar bagus.
Output : Prototype yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan
yang muncul saat dalam mengembangkan produk. Bisa jadi memvalidasi, ketergunaan
produk, efisiensi, dan lainnya.
5. Test
Dilakukannya pengujian dan evaluasi terhadap produk kepada
masyarakat dan hasilnya akan dilakukan perubahan dan penyempurnaan untuk
menyingkirkan solusi masalah dan mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang
produk dan penggunanya.
Nah, pada kelima tahap ini jika ada kegagalan disalah satu
tahap dapat kembali ke tahap yang memungkinkan itu dapat diperbaiki. Contoh
pada tahap Ideate tidak menghasilkan penyelesaian masalah, maka dapat kembali
lagi ke tahap Emphatize.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar