Tampilkan postingan dengan label @U33-ANDI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @U33-ANDI. Tampilkan semua postingan

Maret 29, 2022

INOVASI DAN KREATIVITAS MERUPAKAN KUNCI PENTING DALAM PENGEMBANGAN BERWIRAUSAHA

 

INOVASI DAN KREATIVITAS MERUPAKAN KUNCI PENTING DALAM PENGEMBANGAN BERWIRAUSAHA

Oleh : Andi Apriansah Polii ( @U33-Andi )

 

PENDAHULUAN

Dalam perkembangan zaman yang begitu cepat, dunia bergerak begitu sangat cepat dan dinamis, dunia menuntut kita untuk terus bergerak memberikan perubahan perubahan kecil dan berdampak besar bagi kita maupun di lingkungan kita sendiri. Sekarang manusia dengan mudah dapat mengakses berbagai kebutuhan yang diinginkan tanpa harus melewati prosedur yang panjang dan berbelit[1]belit. Di era milenial ini kegiatan manusia dipenuhi oleh akses yang cepat dan saling terhubung dimulai dari akses komunikasi yang tak terbatas yang saling terhubung dan sekarang juga manusia dengan sangat dimudahkan oleh beberapa kemudahan yang dihadirkan oleh perkembangan zaman yang begitu cepat ini, manusia sekarang dengan mudah dapat mengakses hampir semua kebutuhannya, sekarang hadir pasar pasar online yang dulu kita kenal dengan pasar tradisional atau pasar swalayan maupun pasar yang langsung bertatap muka antara penjual dan pembeli tetapi pada era ini kita mengetahui dengan seksama bahwa manusia dimudahkan dengan hadirnya toko online seperti Shopee, Lazada, Tokopedia dan lain sebagainya ditambah lagi kehadiran alat transportasi modern yang milenial dan serba terhubung dan terkoneksi seperti Go-jek, Grab dan lain sebagainya dan juga manusia juga semakin mudah dalam mengakses makanan siap saji seperti Go-food dan beberapa jenis yang lainnya. Pada zaman sekarang, betapa beruntungnya manusia memiliki teknologi yang begitu cerdas yang memudahkan seluruh aktivitas manusia itu sendiri. Hadirnya beberapa perusahaan-perusahaan tersebut diatas merupakan hasil kerja keras inovasi dan kreativitas dari orang-orang yang selalu menggali potensi dalam dirinya. Perusahaan-perusahaan di atas merupakan perusahaan yang sudah lama ada di tengah-tengah masyarakat tetapi dengan ilmu pengetahuan dan pembaharuan, perusahaan perusahaan tersebut atau usaha-usaha tersebut diubah fungsinya dan diubah mekanismenya untuk lebih mendekatkan diri kepada konsumen sehingga konsumen dengan nyaman dan dengan mudah dapat mengakses kebutuhannya setiap hari.

PEMBAHASAN

Peran inovasi dalam kewirausahaan sangatlah penting. Tanpa adanya inovasi, suatu usaha bisnis tidak akan bisa berjalan ketika menghadapi tantangan. Inovasi sendiri dapat diartikan sebagai salah satu upaya atau kegiatan mengembangkan atau memaksimalkan sumber daya yang ada. Sumber daya tersebut bisa berupa modal, pemikiran bahkan hubungan kerja sama dengan orang lain. Dengan adanya inovasi, seorang usahawan dapat memaksimalkan usahanya. Selain inovasi, dalam berwirausaha juga diperlukan adanya sifat kreatif. Sifat kreatif ini memiliki pengertian yang hampir sama dengan inovasi. Namun pada sifat kreatif, pengusaha menggunakan sumber daya yang belum ada atau menemukan cara baru. Sedangkan pada inovasi sudah ada sumber daya, tinggal memaksimalkan atau menggunakan sumber daya tersebut secara maksimal. Kunci utama seseorang setelah memutuskan untuk menjadi entrepreneur ialah berpikir kreatif. Tanpa kreatifitas mimpi anda hanyalah angan-angan saja. Anda akan menemui banyak kendala ketika memulai menjadi entrepreneur, bahkan ketika anda belum mulai memutuskan untuk menjadi entrepreneur.

Berpikir kreatif harus memiliki dasar pola pikir kreatif. Hal ini dapat membantu memecahkan permasalahan guna menemukan solusinya. Berpikir kreatif memiliki banyak manfaatbagi kita atau dalam berwirausaha. Kegunaan Pola Pikir Kreatif Menurut Hendro, (2011:105),

kegunaan pola pikir kreatif yaitu : 1. Menemukan gagasan, ide, peluang, dan inspirasi baru. 2. Mengubah masalah atau kesulitan dan kegagalan menjadi sebuah pemikiran yang cemerlang untuk langkah selanjutnya. 3. Menemukan solusi yang inovatif. 4. Menemukan suatu kejadian yang belum pernah dialami atau yang pernah ada hingga menjadi sebuah penemuan baru. 5. Menemukan teknologi baru. 6. Mengubah keterbatan yang ada sebelumnya menjadi sebuah kekuatan atau keunggulan. Dalam perkembangan usaha yang begitu pesat, para entrepreneur dituntut untuk terus berinovasi dan kreatif dalam memunculkan ide-ide baru dalam suatu produk yang ingin dihasilkan, permintaan konsumen yang banyak serta unik membuat entrepreneur harus mampu menjawab kebutuhan tersebut.

Jadi dalam hal tersebut para entrepreneur harus memiliki inovasi dan kreativitas dalam dirinya sehingga sesuatu yang dihasilkan dapat menjawab kebutuhan konsumen. Peran inovasi dan kreativitas telah banyak meramba dunia usaha saat ini, seperti halnya usaha transportasi, dahulu kita mengenal jasa transportasi dengan sebutan “Ojek Pangkalan”, dengan kesusahan dan keresahan yang dialami oleh Nadiem Makarim (Mantan CEO Go-Jek) dalam mengakses jasa ojek pangkalan, maka Nadiem mulai berpikir sesuatu yang baru yang belum pernah ada sebelumnya, yakni menciptakan aplikasi berbasis online untuk mengakses jasa ojek, lalu dengan kemampuan dan tekad yang besar mantan CEO gojek tersebut berhasil menciptakan suatu hal baru dalam dunia usaha jasa transportasi yakni “GO-JEK”. Aplikasi tersebut berfungsi untuk menjawab permintaan konsumen yang dapat mengakses jasa ojek dengan mudah dan cepat. Dari hal tersebut Inovasi timbul dari permasalahan mengakses ojek pangkalan yang begitu sulit dikarenakan kita harus ke pangkalan ojek untuk mendapatkan jasa transportasi. Dari permasalahan tersebut dibuatlah suatu aplikasi On-line yakni Go-jek untuk kebutuhan konsumen sehingga mudah dan cepat untuk mengakses jasa ojek tanpa tidak harus ke pangkalan ojek lagi, tinggal pesan melalui aplikasi dan menunggu di tempat beberapa saat, hingga tukang ojek datang dan diantar sesuai aplikasi tujuan. Kreativitas yang timbul yaitu penggunaan alat teknologi yakni memanfaatkan Hp (smart phone) untuk mengakses jasa transportasi on[1]line. Kreativitas lainnya yang timbul yakni membuka lapangan pekerjaan, banyak masyarakat yang dulunya tak mempunyai pekerjaan merasa terbantu dengan hadirnya Go-jek, karena memiliki pendapatan yang tetap tiap bulannya dan ditambah lagi bonus yang diberikan selama bekerja. Jadi peran inovasi dan kreativitas sangatlah penting dan menjadi kunci dalam pengembangan berwirausaha karena mampu menjawab permasalahan yang ada, mengubah suatu masalah menjadi pemikiran yang cemerlang, hadirnya terobosan-terobosan baru, serta mampu mengubah keterbatasan yang ada, sesuatu yang tak mungkin menjadi sesuatu kekuatan dan keunggulan.

Faktor-faktor Pendukung Keberhasilan Inovasi Menurut James Brian Quinn Hendro, (2011:122)

faktor-faktor pendukung untuk tercapainya keberhasilan penerapan kemampuan inovatif adalah sebagai berikut: a. Harus Berorientasi Pasar Banyak inovasi yang sekedar pemecahan masalah kreatif tetapi tidak bersifat dan mempunyai keunggulan bersaing di pasar. Hubungan inovasi dengan pasar yang didalamnya ada 5C, yaitu Competitor (pesaing), Competition (persaingan), Change of Competition “perubahan persaingan”, Change Drive (penentuan arah perubahan), dan Customer Behavior (perilaku konsumen). b. Mampu Meningkatkan Nilai Tambahan Perusahaan Ada nilai tambah (value added) sehingga bisa menjadi pendongkrak pertumbuhan dan perkembangan perusahaan. c. Punya Unsur Efisiensi Dan Efektivitas Tanpa 2E yaitu faktor fisiensi dan faktor efektivitas dari sebuah inovasi yang ditemukan maka inovasi tersebut tidak mempunyai arti atau dampak yang berarti bagi kemajuan perusahaan d. Harus Sejalan Dengan Visi Dan Misi Perusahaan Inovasi harus sejalan dengan visi dan misi perusahaan agar tidak menyimpang dari arah pertumbuhan usaha. e. Harus Bisa Ditingkatkan Lagi Inovasi harus bisa di inovasikan lagi sehingga terjadi inovasi yang berkelanjutan hingga menumbuhkan perusahaan menjadi lebih baik dan lebih berkembang. Dari kelima faktor-faktor pendukung keberhasilan Inovasi tersebut kunci utama dipegang oleh seorang Entrepreneur yang harus berani mengambil suatu tindakan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan memanejerialkan para bawahan untuk memaksimalkan potensi yang ada pada diri mereka sehingga pelaksanaan suatu pemecahan masalah dapat berlangsung dengan baik.

Kesimpulan

Di dalam persaingan dunia usaha yang sangat ketat para entrepreneur dituntut untuk terus bergerak ke arah yang lebih baik, terus untuk menggali potensi dan terus untuk memunculkan ide-ide dan gagasan yang baru dan unik. Aktivitas usaha sangat memerlukan orang-orang yang inovatif, kreatif dan cepat tanggap terhadap setiap perubahan. Inovasi dan kreativitas sangat berperan penting dan telah banyak merubah wajah perindustrian dan usaha di tanah air maupun di manca negara. Inovasi hadir untuk menjawab setiap permasalahan yang ada sehingga mampu memberikan terobosan-terobosan baru di dalam perusahaan, dan perindustrian, dan kreativitas hadir dengan menjawab permasalahan yang ada dengan memberikan pikiran-pikiran baru, terampil, berorintasi berbeda dari orang lain. Inovasi dan kreativitas hendak dan harus dimiliki oleh setiap entrepreneur agar mampu bersaing dengan pesaing yang lain, dan juga mampu menjawab setiap permintaan konsumen yang unik dan beragam. Jika ingin bertahan di pasar, seorang entrepreneur harus mampu memunculkan produk yang baru disertai sentuhan yang unik di dalam produknya tersebut dan itu tidak terlepas dari kemampuan inovasi dan kreativitas yang dimiliki oleh setiap entrepreneur dalam memunculkan ide, pemikiran, gagasan, terobosan serta orientasi yang berbeda dibanding orang lain. Oleh karena itu Inovasi dan Kreativitas dalam pengembangan berwirausaha sangatlah penting.

 

DAFTAR PUSTAKA

Hadiyati, Ernani. 2012. Kreativitas Dan Inovasi Pengaruhnya Terhadap Pemasaran Kewirausahaan Pada Usaha Kecil, Vol. 1, No. 3, September, 135-151. Malang : Universitas Gajayana.

Ir. Hendro M.M. 2011. Dasar-dasasr Kewirausahaan. Jakarta, Erlangga.

Ramdhan, Hendry E. 2012. Bisnis Kreatif di Rumah. Jakarta : Penebar Plus* (Penebar Swadaya Grup)

Redaksi Indonesia Cerdas. 2009. Untung Besar Modal 2 Juta. Indonesia Cerdas (Anggota Ikapi). Yogyakarta

Sa’ud, Udin Saefudin. 2008. Inovasi Pendidikan. Bandung : Alfabeta

 Suryana, 2003. Kewirausahaan Pedoman Praktis Kiat Dan Proses Menuju Sukses. Salemba empat. Jakarta

Maret 22, 2022

EFEKTIVITAS PENGEMBANGAN POTENSI DIRI DAN ORIENTASI WIRAUSAHA DALAM MENINGKATKAN SIKAP WIRAUSAHA

EFEKTIVITAS PENGEMBANGAN POTENSI DIRI DAN ORIENTASI WIRAUSAHA DALAM MENINGKATKAN SIKAP WIRAUSAHA

Oleh : Andi Apriansah Polii (@U33-ANDI)

Pendahuluan

Kewirausahaan merupakan salah satu penopang pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Perannya begitu sentral bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia. Salah satu upaya pemerintah untuk menumbuh- kembangkan jumlah pewirausaha, dilaku- kan sejak bangku sekolah. Penyempurna- an kurikulum pendidikan dengan dike- luarkannya Kurikulum 2013, yaitu dengan adanya Pendidikan Prakarya dan Kewira- usahaan yang diwajibkan sebagai penera- pan kurikulum baru tersebut di level se- tingkat SMA, membawa misi bahwa se- yogyanya generasi muda Indonesia memi- liki keterampilan dan mampu untuk man- diri dengan jiwawirausaha.

Mata pelajaran kewirausahaan bukan- lah hal yang baru bagi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). SMK didirikan sebagai lembaga pendidikan yang bertanggung jawab untuk menciptakan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan, keterampilan, dan keahlian dalam bidang tertentu. Berdasarkan keahlian tersebut, lulusan diharapkan dapat menempati pe- kerjaan yang sesuai dengan bidang keahli- an dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja. Namun, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2013), jumlah lulusan SMK yang berwirausaha hanya sekitar 3% dari jumlah keseluruhan lulusannya. Sebagian besar (72%)memu- tuskan untuk berkecimpung di dunia industri.Datainitentu saja bukanlah data yang menggembirakan karena tidak sesuai dengan tujuan semula dalam mencetak wirausahawan muda. Siswa SMK berada pada tahap perkembangan remaja. Salah satu tugas perkembangan remaja adalah menyiap- kan karir dan masa depannya (Hurlock, 2002). Menurut teori perkembangan yang dikemukakan oleh Super dan Crites (1965), siswa SMK Kelas XII berada pada tahap eksplorasi periode kristalisasi. Pada masa ini remaja mulai mengidentifikasi- kan kesempatan dan tingkat pekerjaan yang sesuai serta mengimplementasikan pilihan karir dengan memilih pendidikan dan pelatihan yang sesuai, untuk akhirnya memilih pekerjaan yang sesuai dengan pilihannya. Pada tahap ini juga, individu berupaya untuk mencari kejelasan atau melakukan klarifikasi tentang apa yang ingin kerjakan. Belajar tentang peluang jenis pekerjaan dan belajar keterampilan yang diperlukan untuk masuk ke pekerjaan yang diminati. Selain itu, mereka mulai merealisasikan kemam- puannya, minat-minat dan nilai yang dimilikinya termasuk salah satunya pada kegiatan berwirausaha.

Seyogyanya upaya pengembangan potensi kewirausahaan yang memang


memiliki nilai besar bagi upaya perbaikan generasi di masa yang akan datang tidak hanya berupa mata pelajaran, namun menumbuhkan mental kewirausahaan pada siswa. Melalui motivasi otonom dalam mempelajari pengetahuan dasar, teknik, dan keterampilan dalam mengelo- la kemampuan wirausaha tersebut, maka wirausaha tidak hanya merupakan perilaku untuk kondisi masa kini namun menetap dalam diri individu sebagai modaldalam

pengembangan kemampuan wirausaha individu tersebut kelak.

Havighurst (1972) mengemukakan bahwa dalam memilih pekerjaan, siswa perlu

mengetahui dan memahami potensi yang dimiliki serta pengetahuan tentang dunia kerja yang akan mempengaruhi siswa dalam mengambil keputusan terse- but. Demikian juga dalam pengenalan wirausaha sebagai bidang karir yang dapat digeluti oleh siswa.

Diperlukan upaya eksternal untuk membantu siswa dapat lebih mengenali kemampuan dan kelebihan dirinya serta mengenalkan mental wirausaha agar sis- wa lebih siap untuk melakukan kegiatan wirausaha kelak. Oleh karenanya, peneliti menyusun program intervensi dalam upa- ya meningkatkan potensi kewirausahaan siswa. Intervensi yang dilakukan berupa pelatihan yang berisi simulasi kegiatan yang berkaitan dengan proses pengenalan diri dan orientasi wirausaha. Proses itu akan meliputi perlunya melakukan latihan yang memadai dalam mengenali diri, perlunya menetapkan tujuan yang akan diraih dan memilih strategi yang tepat untuk mencapainya, serta melakukan pertimbangan dan mempertahankan kete- kunan dalam memecahkan persoalan dalam berwirausaha.

Respon siswa pada setiap tahap kegiatan akan diproses melalui aktivitas debrief. Tujuannya adalah untuk mendo- rong siswa menyebutkan penghayatan dari hasil perilakunya. Langkah penelitian yang dilakukan terdiri atas analisis kebu- tuhan, perancangan aktivitas pelatihan, pelaksanaan pelatihan, dan pengukuran hasil pelatihan. Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini ingin mengetahui apakah program pelatihan pengenalan diri dan orientasi kewirausahaan dapat mengembangkan sikap terhadap kewira- usahaan pada siswa SMK di Jatinangor Jawa Barat?

METODE PENELITIAN

Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan bentuk applied research yang berupa implemen- tasi program intervensi berupa pelatihan yang digolongkan sebagai experiental learning. Desain penelitian yang diguna- kan dalam penelitian ini berbentuk quasi experiment, yaitu suatu rancangan peneli- tian yang digunakan untuk melihat penga- ruh dari pemberian suatu perlakuan (treatment) terhadap suatu permasalahan. Prosedur penelitian


yang digunakan dalam penelitian ini adalah nonrandomized pretest-posttest control group design. Desain ini digunakan untuk melihat peranan pemberian program pelatihan pengembangan potensi kewirausahaan sebagai suatu perlakuan yang diberikan kepada kelompok penelitian. Kelompok eksperimen akan memperoleh perlakuan tersebut. Kelompok kontrol tidak mem- peroleh perlakuan. Penjelasan bagaimana penelitian ini berlangsung dengan meng- gunakan desain ini dapat dilihat pada desain sebagai berikut:

Tabel 1. Rancangan penelitian

Kelompok

Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol

Keterangan :

Prates Perlakuan

Pascates

    O1 X O2 O1 - O2

     O1 : X : O2 :

Prates dilakukan pengukuran sikap terhadap kewirausahaan Treatment, yaitu pelatihan pengembangan potensi kewirausahaan

Pascates, dilakukan kembali pengukuran sikap terhadap kewirausahaan pada subyek penelitian setelah diberikan treatment

SUbjek Penelitian

Populasi penelitian ini adalah siswa SMK X di Jatinangor Jawa Barat dari semua jurusan, yaitu teknik otomotif, teknik kendaraan ringan, teknik sepeda motor, dan teknik jaringan komputer. Masing-masing jurusan terwakili sebagai subjek penelitian. Subjek dipilih dengan teknik cluster random sampling. terdiri atas dua kelompok. Kelompok eksperi- men adalah siswa yang mendapatkan pelatihan sebanyak 147 orang, dan kelompok kontrol adalah siswa yang tidak mendapatkan pelatihan sebanyak 91 orang.

Metode PengUmpUlan Data

Skala yang digunakan untuk pe- ngumpulan data adalah skala sikap terha- dap kewirausahaan. Sikap terhadap kewira- usahaan meliputi achievement, personal control, innovation, dan self esteem (Robinson, Stimpson, Huefner, & Hunt, 1991). Skala sikap yang telah diujicobakan kepada siswa SMK. Hasilnya 31 aitem lolos. Hasil analisis aitem menunjukkan koefisien realiabilitas skala, yaitu 0,967.

Intervensi

Berdasarkan studi pendahuluan me- ngenai intensi wirausaha yang disebarkan dalam rangka membuat rancangan inter- vensi, maka diperoleh hasil bahwa meski pelajaran kewirausahaan


adalah pelajaran yang diwajibkan pada siswa SMK namun secara umum, sebagian besar peserta kurang memiliki semangat untuk menjala- ni wirausaha kelak. Motivasi untuk meng- gali potensi diri yang dapat menunjang kegiatan wirausaha juga rendah. Berdasar- kan hal ini, peneliti bermaksud untuk membuat program pelatihan yang dapat meningkatkan motivasi mereka dalam menggali potensi diri dan mengembang- kan intensi untukberwirausaha.

Tujuan utama yang ingin dicapai dalam pelatihan ini meliputi proses perta- ma terjadinya regulasi teridentifikasi seba- gai tahap awal munculnya motivasi oto- nom, yaitu conscious valuing of entre- preneurial activiy. Saat siswa menghayati bahwa setiap tahap dalam proses belajar itu penting untuk dilakukan, maka diha- rapkan proses kedua (self-endorsement of the goal) pun dapat tumbuh nantinya. Dengan demikian, tujuan utama aktivitas pelatihan ini adalah membuat siswa menyadari akan pentingnya menggali

potensi diri dan mengembangkan intensi wirausaha.

Pencapaian tujuan berada pada level acceptance of a value dalam ranah afektif

Bloom (Krathwohl, Bloom, & Masia, 1964). Tahap ini merupakan tahapan awal dari penerimaan keberhar- gaan perilaku, fenomena, objek, dan lain sebagaimnya meskipun pada tahap ini individu belum terlalu yakin akan dapat mengambil nilai pentingnya wirausaha, tetapi mulai mempertimbangkan nilai tersebut.

Tujuan pelatihan ini dicapai melalui metode experiental learning. Tahapan experience learning yang dipilih peneliti dalam pelatihan ini adalah siklus belajar dari Pfeiffer dan Jones (1975) yang terdiri atas lima tahapan, yaitu mengalami (experiencing), menyatakan (publishing), memproses (processing), mengembang- kan prinsip (generalizing), dan menerap- kan (applying). Tahapan ini membantu peserta untuk menstrukturkan setiap pe- ngalaman belajar dalam dirinya dan me- nemukan sendiri makna dari kegiatan belajar yang dilakukannya. Berikut ini adalah kerangka intervensi dalam upaya peningkatan potensi kewirausahaan seba- gai berikut :


 - Motivasi - Teman

Gambar 1. Bagan Kerangka Intervensi

Metode Analisis Data

Metode analisis yang digunakan adalah regresi dan Mann-Whitney. Teknik analisis regresi digunakan untuk menge- tahui pengaruh empat hal pembentuk sikap terhadap wirausaha. Empat hal yang dimaksud adalah prestasi (achievement), inovasi (innovation), kontrol pribadi (personal control), dan harga diri (self esteem). Uji Mann-Whitney digunakan untuk menguji perbedaan antarasebelum dan sesudah perlakuan.

HASIL PENELITIAN

Hasil Pelatihan

Menyadari manfaat pentingnya proses belajar untuk mengembangkan potensi diri dan mengenali proses berwirausaha

  Personal:

- Pendidikan

- Pengalaman

Environment:

- Sekolah, Guru

- Orang tua

Menumbuhkan motivasi otonom untuk meningkatkan intensi berwirausaha

   Young people’s attitude towards

Entrepreneurship

   1. Achievement

2. Innovation

3. Personal Control

4. SelfEsteem

5. Leadership

6. Intuition

 Attitude Toward Entrepreneurship

 1. Pilihan Karir Berwirausaha

2. Rencana Masa Depan

  Intervensi melalui Pelatihan dengan Metode Experiental Learning :

1. Siswa menyadari bahwa dirinya memiliki potensi

2. Siswa menggunakan proses berpikir dan kemampuan memecahkan masalah untuk mempertimbangkan faktor-faktor yang dapat mempengaruhinya dalam pengambilan

keputusan akan karirnyakelak

3. Siswa mengembangkan intensi berwirausaha

 Secara umum, peserta memiliki sikap terhadap kewirausahaan yang tergolong Tinggi


(72.00%). Sebagian kecil berada pada kategori sedang, yaitu sebesar 27.43%.

 EAO

0%

28%

72%

Rendah

Sedang Tinggi

 Gambar 2. Komposisi Entrepreneurial Attitude Orientation (EAO) siswa SMK

Hal ini menunjukkan bahwa siswa memiliki sikap yang positif terhadap entrepreneurship sebagai orientasi masa depannya saat ini yang dapat dibangun dari empat dimensi, yaitu achievement, personal control, innovation, dan self esteem. Bila dilihat dari dimensi pem- bangun orientasi wirausaha tersebut, maka hal ini dapat dilihat dalamgambar sebagai berikut :

 Skor Sekolah 67,22% 67,11% 66,47%

62,79%

     Gambar 3. Dimensi Pembentuk Entrepreneurial Attitude Orientation (EAO) siswa Berdasarkan hasil analisis regresi, maka diperoleh hasil sebagai berikut :


 Gambar 4. Hasil Perhitungan Diagram Jalur EAO

EvalUasi Pelatihan

Evaluasi berdasarkan reaksi dalam penelitian ini adalah bagaimana peserta

pelatihan dalam mengikuti program pelatihan dan bereaksi terhadap program tersebut. Hasilnya adalah sebagai berikut :

Tabel 2. Aspek Evaluatif Pelatihan

ASPEK

EVALUATIF

Materi

Pelatihan Metode

Fasilitator

Waktu

Sarana Pendukung Aktivitas

NIL PERSENT AI ASE

      Untuk

mengetahui apakah materi pelatihan

84.55% 84.09%

82.75% 80.30% 82.58% 85.50%

bermanfaat bagi peserta

Untuk mengetahui apakah metode yang digunakan

menstimulasi peserta

Untuk mendapatkan umpan balik mengenai proses

fasilitasi yang telah dilakukan oleh fasilitator Untuk mengetahui apakah waktu yang digunakan

dalam pelatihan efisien

Untuk mengetahui apakah sarana pendukung yang

digunakan dalam pelatihan memadai

Untuk mengetahui apakah aktivitas yang dilakukan

selama pelatihan menyenangkan

Dengan rata-rata penilaian sebesar 83.295% menunjukkan bahwa secara umum penilaian

   

efektivitaspelatihanyang dirasakan oleh peserta berada dalam kategori baik.

PEMBAHASAN

Hasil penelitian ini secara keselu- ruhan memberikan gambaran bahwa pada dasarnya siswa memiliki sikap yang positif terhadap wirausaha. Hal ini dapat dilihat bahwa skor rata-rata yang diperoleh siswa berada pada kategori tinggi (72%). Sikap ini dipengaruhi oleh faktor personal dan lingkungan. Pada sisi personal, empat di- mensi pembangun sikap terhadap wira- usaha memiliki peranan mutlak dalam membentuk sikap tersebut. Dimensi pem- bangun sikap terhadap wirausaha yang terdiri atas achievement, innovation, personal control, dan self esteem secara bersama-sama membentuk sikap terhadap wirausaha (Robinson dkk, 1991). Bila dilihat secara parsial, maka diketahui bahwa aspek achievement merupakan faktoryangpalingbesarmembentuk sikap terhadap wirausaha (0.324). Selain paling besar, jumlahnya juga lebih dominan dibandingkan dimensi lain (67.22%) meski terpaut tipis dengan aspek innova- tion sebesar 67.11%.

Berdasarkan analisis dimensi-dimen- si pembangun Sikap terhadap Wirausaha, meski berada dalam kategori tinggi namun yang cukup memiliki perbedaan adalah derajat Self Esteem yang dimiliki oleh sis- wa yang cenderung lebih rendah daripada dimensi-dimensi pembangun Sikap terha- dap Wirausaha lainnya. Rasa percaya diri ini adalah sumber dari rasa yakin terha- dap kemampuan diri, kemampuan mem- bangun optimisme, dan kemampuan un- tuk memacu diri untuk segera bangkit dari kegagalan. Hal ini juga yang menjadi fokus dari bahasan akan materi pelatihan Pengenalan Potensi Diri dan Orientasi Kewirausahaan yang menjadi intervensi dari asesmen yang dilakukan.

Tujuan pendidikan sekolah mene- ngah kejuruan adalah meningkatkan ke- cerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya. Ber- dasar hal tersebut dapat diketahui bahwa lulusan SMK selain mengisi lowongan pekerjaan yang ada di dunia usaha dan

industri, lulusan SMK juga mampu beker- ja secara mandiri, dalam hal ini berwira- usaha. Namun saat ini, pendidikan keju- ruan masih sangat berorientasi pada pe- nyiapan keahlian untuk mengisi kebutuh- an tenaga kerja pada sektor formal, pada- hal lapangan kerja yang terbuka luas pada sektor informal memiliki potensi yang lebih besar untuk menyerap lulusan SMK. Mata pelajaran Kewirausahaan ber- tujuan agar peserta didik dapat mengak- tualisasikan diri dalam perilaku wirausa- ha. Isi mata pelajaran Kewirausahaan difokuskan pada perilaku wirausaha seba- gai fenomena empiris yang


terjadi di lingkungan peserta didik. Berkaitan dengan hal tersebut, peserta didik dituntut lebih aktif untuk mempelajariperistiwa- peristiwa ekonomi yang terjadi di lingkungannya. Pembelajaran kewirausa- haan dapat menghasilkan perilaku wira- usaha dan jiwa kepemim-pinan, yang sangat terkait dengan cara mengelola usaha untuk membekali peserta didik agar dapat berusaha secara mandiri. Akan tetapi, pada kenyataannya, matapelajaran kewirausahaan lebih banyak memberkan pengetahuan wirausaha bukan pada bagaimana menumbuhkan keingin-an dan kemampuan wirausaha siswa. Pada pelaksanaannya matapelajaran kewi- rausahaan lebih banyak teori dan melaku- kan prakarya bukan melakukan kewira- usahaan itu sendiri. Pengujian statistik membuktikan bahwa tidak terdapat perbedaan dari jenis jurusan sekolah yang berbeda dengan sikap siswa terhadap wirausaha.

Pelatihan Pengembangan Potensi Diri dan Peningkatan Potensi Kewira- usahaan dilakukan agar dapat menum- buhkan intensi siswa untuk berwirausaha, sehingga ketika lulus dari SMK siswa mau dan mampu untuk berwirausaha.

Berdasarkan hasil analisa deskriptif, maka diketahui bahwa Orientasi Wira- usaha yang dimiliki oleh siswa berada dalam golongan Tinggi (4.61) dengan jumlah siswa yang memiliki Orientasi Wirausaha Tinggi adalah sebesar 72%. Artinya siswa memiliki sikap yang positif terhadap wirausaha, baik dari segi kemungkinan pengembangan karir ke depan, kesempatan memperoleh pengeta- huan baru, maupun kesempatan memper- oleh pengalaman baru.

Sebagai remaja yang didorong oleh lingkungan eksternal dirinya, maka peran sekolah, guru, maupun pendidikan kewira- usahaan yang didapat di sekolah adalah penting. Wirausaha mengacu pada orang yang melaksanakan proses penciptaan kesejahteraan dan nilai tambah. Jadi, jika para ingin menjadi wirausaha, maka siswa harus mempunyai sifat keberanian, kete- ladanan, dan berani mengambil risiko yang bersumber pada kemampuan sen- diri. Wirausaha tidak semata-mata dimoti- vasi oleh financial incentive, tetapi oleh keinginan untuk melepaskan diri dari lingkungan yang tidak diinginkannya. Di samping itu wirausaha ingin menemukan arti baru bagi kehidupannya. Selain itu, untuk menjalankan kewirausahaan dan menjadi seorang wirausahawan diperlu- kan motivasi yang kuat dalam diri indi-

vidu. Tidak semua orang memiliki moti- vasi yang sama untuk menjadi pengusaha. Sebagian orang menginginkan dirinya menjadi bos sendiri, ingin mencari uang dan kekayaan sebanyak-banyaknya, atau ada pula yang hanya ingin melakukan kegiatan yang biasa-biasa saja, namun sebagian lain cukup serius untuk mengi- kuti jejak orang-orang sukses, walaupun ada juga yang sekedar ikut-ikutan. Proses termotivasinya pun tidak semua orang sama. Ada yang karena faktor kebetulan, ajakan teman, memanfaatkan bakat, kete- rampilan, atau pendidikan yang dipero- lehnya, dan karena memahami apa yang


dibutuhkan orang lain.

Kewirausahaan dapat pula didorong oleh seseorang yang menjalankan wira- usaha,

karena telah memberikan inspirasi dan minat untuk berwirausaha. Dorongan atau pemicu lainnya datang dari teman sepergaulan, lingkungan keluarga, saha- bat, dan teman yang selalu yang mendis- kusikan gagasan, atau karena adanya pengalaman bisnis kecil-kecilan yang ber- hasil sehingga termotivasi untuk membe- sarkannya. Hasil penelitian deskriptif, me- nunjukkan bahwa latar belakang keluarga yang juga memiliki profesi sebagai pewirausaha memiliki hubungan yang positif terhadap sikap siswa terhadap kewirausahaan. Siswa dengan keluarga yang berprofesi sebagai wirausahawan memiliki sikap positif yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang tidak memiliki orang tua yang berprofesi seba- gai wirausahawan. Namun tidak demikian dengan pengaruh jurusan yang berbeda


dalam SMK. Meski siswa terdiri dari jurusan Teknik Kendaraan Ringan, Teknik Sepeda Motor, dan Teknik Kom-puter dan Jaringan namun tidak terdapat perbedaan sikap terhadap kewirausahaan. Artinya seluruh jurusan sudah memiliki kesetaraan dalam menempatkan mata pelajaran kewirausahaan. Seluruh jurusan memiliki komposisi sikap terhadap ke- wirausahaan yang relatif sama. Selain itu, tidak ada pengaruh dari jenis kelamin yang berbeda ataupun usia yang berbeda dengan sikap terhadap wirausaha yang ditampilkan. Artinya, tidak ada pengertian bahwa laki-laki lebih memiliki sikap yang positif terhadap kewirausahaan ataupun yang lebih tua usianya memiliki sikap yang lebih positif. Kondisi lingkungan tempat profesi orangtualah yang lebih memberikan pengaruh terhadap sikap pada wirausaha. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kewirausahaan bukan- lah suatu hal yang dilahirkan, melainkan dibangun.

Siswa SMK memang memiliki po- tensi untuk menjadi seorang wirausaha- wan, namun pada kenyataannya, siswa SMK hanya dipersiapkan untuk menjadi karyawan di sektor industri, pariwisata, atau perkantoran. Pelatihan Pengembang- an Potensi Diri dan Orientasi Kewira- usahaan terbukti memiliki pengaruh ter- hadap sikap kewirausahaan siswa. Hasil pascates siswa memiliki skor yang lebih tinggi dibandingkan dengan hasil prates. Dengan z output sebesar -2.224 yang lebih besar daripada z tabel, maka Ho ditolak. Hal ini memberikan kesim-pulan bahwa

pelatihan memberikan efek yang nyata dalam meningkatkan pema-haman siswa terhadap potensi diri dan mengembangkan orientasi wirausahanya. Pelatihan terbukti menambah pengeta-huan, sikap dan keterampilan yang dijiwai oleh semangat wirausaha mandiri. Hal ini juga meningkatkan motivasi otonom untuk menambah pengetahuan dan menambah pengalaman untuk dapat terus belajar dan membuka orientasi masa depan siswa untuk dapat berwirausaha.

Pembuktian hipotesis dalam peneli- tian ini juga memberikan kesimpulan, bahwa terdapat perbedaan pada siswa yang mendapatkan pelatihan dan siswa yang tidak mendapatkan pelatihan Pengembangan Potensi Diri dan Orientasi Wirausaha pada siswa kelas XII SMK. Siswa yang mendapatkan pelatihan memi- liki sikap yang lebih positif terhadap kewirausahaan dibandingkan dengan siswa yang tidak mendapatkan pelatihan. Namun sikap yang lebih positif saja belum cukup menjamin akan keber- langsungan niat siswa untuk berwira- usaha. Hal yang perlu diwaspadai adalah Self Esteem yang cenderung tidak setinggi aspek lainnya, sehingga mudah goyah dalam mengambil keputusan dan kurang dapat menjaga rasa optimisme dalam diri. Dengan demikian, peran pendidikan kewirausahaan di sekolah memerlukan penekanan tidak hanya pada aspek keterampilan siswa dalam berkarya namun juga menekankan pada soft competency siswa dalam berwirausaha, terutama dari menjaga rasa percaya diri,


kontrol diri, inovasi, maupun dorongan untuk terus berprestasi.

Sebagai pendorong, sekolah dan guru dapat memberikan contoh yang konkrit

bagaimana melakukan wirausaha, bagaimana menumbuhkan motivasi dan kreatifitas berwirausaha siswa. Siswa juga perlu dirangsang untuk ditumbuhkan kreativitasnya, dengan memberinya ruang untuk bergerak tidak hanya sekedar mengikuti text book. Belum munculnya motivasi dalam diri siswa untuk melaku- kan wirausaha, hal ini dipengaruhi oleh belum adanya rangsangan untuk berwira- usaha, menganggap bahwa berwirausaha tidak akan sukses, takut untuk rugi, ataupun kurang memiliki masa depan. Anggapan ini juga yang perlu untuk diperbaiki.

SIMPULAN DAN SARAN

SimPULAN

Pertama: Siswa memiliki sikap posi- tif terhadap wirausaha (entrepreneu-rial attitude orientation). Sikap terhadap wirausaha ini tergolong tinggi dan dimiliki oleh sebagian besar (72%) siswa kelas XII SMK.

Kedua: Dimensi achievement me- miliki sumbangan paling besar dalam membentuk sikap terhadap wirausaha (0,324), diikuti oleh personal Control (0,283), innovation (0,280), lalu self

esteem (0,227).

Ketiga: Pelatihan Pengembangan Potensi Diri dan Orientasi Wirausaha

berpengaruh pada Sikap terhadap Wira-

usaha pada siswa Kelas XII SMK.Pelatihan memberikan efek yang nyata dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap potensi diri dan mengembangkan orientasi wirausahanya. Pelatihan yang dilakukan dapat menambah pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dijiwai oleh semangat wirausaha mandiri.

Keempat: Terdapat perbedaan yang signifikan pada sikap terhadap berwira- usaha pada siswa yang mendapatkan pelatihan maupun siswa yang tidak mendapatkan pelatihan Pengembangan Potensi Diri dan Orientasi Wirausaha. Siswa yang mendapatkan pelatihan memi- liki sikap terhadap wirausaha yang lebih positif dibandingkan dengan siswa yang tidak mendapatkan pelatihan.

Keenam: Pelatihan yang diberikan memiliki rata-rata penilaian evaluasi sebe- sar 83.295% menunjukkan bahwa secara umum penilaian efektivitas pelatihan yang dirasakan oleh peserta berada dalam kate- gori baik. Materi pelatihan bermanfaat bagi peserta, dengan metode, fasilitator, waktu, sarana pendukung, dan aktivitas yang dilakukan memadai dalam menstimulasi siswa untuk meningkatkan pemahaman akan potensi diri dan


mengembangkan orientasi kewirausahaannya.

Saran

Pertama: Peningkatan sikap terha- dap wirausaha dapat dilakukan dengan menanamkan kebutuhan untuk berpres- tasi, melakukan inovasi, melakukan kontrol diri, dan memiliki rasa percaya diri dalam melakukannya. Kedua: Kesempatan untuk melaku- kan praktik wirausaha diperlukan untuk mengasah softskill siswa. Pembentukan unit praktek kerja, seperti tempat pencucian motor untuk umum, bengkel, warung komputer, jasa service komputer dan kendaraan ringan, dan lain-lain diperlukan untuk menambah pengalaman siswa dalam mengasah softskill, seperti menumbuhkan rasa percaya diri, kebu- tuhan untuk berprestasi, serta berinovasi, sehingga siswa tidak hanya diberikan penekanan pendidikan pada aspek peningkatan keterampilansemata.

Ketiga: Upaya yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan kemampuan wira- usaha siswa dapat diberikan dengan memberikan pelatihan mengenai penge- nalan potensi diri dan orientasi wira- usaha, maupun mengundang motivator atau contoh sukses pengusaha muda yang merintis usaha wirausaha agar siswa memiliki wawasan baru dalam upaya berwirausaha.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. (2013). Data Badan Pusat Statistik 2013. http://bps.go.id

Brown, D. (2002). Career Choice and Development Fourth Edition. San Francisco: John Wiley & Sons, Inc.

Dit PSMK. (2006). Penyelenggaraan Seko- lah Menengah Kejuruan Bertaraf Internasional.

KementrianPendidikandanKebudayaan: http://referensi.data.kemdikbud.go.i d Drucker, P.F. (1996). Konsep Kewira- usahaan Era Globalisasi. Jakarta: Erlangga

Havighurst,J.(1972).TheDevelopmental Tasks and Education.

Hurlock, E.B (2002). Psikologi Perkem- bangan. 5th edition. Erlanga: Jakarta. Krathwohl, D.R., Bloom, B.S., & Masia,


B.B. (1964).Taxonomy of educatio- nal objectives: The classificationof educational goals. Handbook II: The affectivedomain. New York: David McKay.

Kirkpatrick, D.L. (2007). Evaluating Training Program : The Four Level. 3rd edition. San Fransisco : Berrett- Koehler Publishers, Inc

Meredith, G.G. (2000). Kewirausaha- anTeoridanPraktek.Seri Manajemen No. 97.PT. Jakarta: Pustaka Binaman Pessindo.

Maret 16, 2022

KREATIVITAS DAN INOVASI DALAM BERWIRAUSAHA

 KREATIVITAS DAN INOVASI DALAM BERWIRAUSAHA

Oleh : Andi Apriansah Polii @U33-ANDI

ABSTRAK

Saat Saat ada Pandemi Covid 19 di Indonesia pada tahun 2020 diperlukan wirausaha-wirausaha yang cukup kuat untuk meningkatkan perekonomian suatu negara. Wirausaha harus dapat bersaing dan selalu bisa untuk menaikkan produktivitasnya. Salah satu caranya adalah dengan kreativitas dan inovasi. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui Kreativitas dan Inovasi mendukung kegiatan dan aktivitas melakukan berwirausaha. Meteode penelitan menggunakan Penelitan kualitatif dengan pendekan kajian literature, dimana data yang diambil berdasarkan dari penelitian sebelumnya. Hasil penelitian membuktikan bahwa dengan kreativitas dan inovasi sangat membantu kegiatan kewirausahaan terkhusus pada masa pandemic corona atau covid-19 ini.

A. PENDAHULUAN

Pada awal tahun 2020 ini semua negara di dunia disibukkan oleh pandemi Covid 19. Hal tersebut menyebabkan banyak negara fokus pada bagaimana caranya untuk mengatasi masalah tersebut. Sehingga masalah ekonomi dan masalah lainnya menjadi prioritas kesekian. Pada sektor ekonomi akan mengalami resesi. Ekonomi Indonesia mengalami kontraksi hingga minus 5,3% pada kuartai II -2020, begitu pula negara-negara lainnya. Di sektor UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) terdampak pula adanya pandemi tersebut. Apalagi setelah diterapkan PSBB (Pembatasan Sosial Bersekala Basar) di perbagai kota di Indonesia omzet penjualan mengalami penurunan yang sangat drastis. Sehingga hal ini menuntut pelaku usaha (wirausaha) untuk membuat cara-cara baru dalam menjual hasil produknya, seperti penjualan dengan online dan sebagainya. Jadi wirausaha harus lebih kreatif dan inovatif dalam membuat produk dan atau jasanya untuk memenuhi kebutuhan dan keingnan konsumen. Pengusaha dapat bekerja lebih efektif dan efisien berkat adanya kreativitas dan inovasi. Dengan demikian diharapkan akan terus ada pengembangan produk dan jasa yang baru. Sehingga pengusaha itu dapat menemukan peluang baru dalam menjalankan bisnisnya. Terutama dalam masamasa sulit seperti sekarang ini dibutuhkan kretavitas dan inovasi untuk menunjang usahanya.

B. PEMBAHASAN

Beberapa dari hasil penelitan menguatkan bahwa kreativitas dan inovasi mempunyai hubungan atau korelasi yang kuat ditunjukan dengan beberapa penelitian dibawah: Kreativitas menurut (Rusdiana, 2014) adalah sebagai keahlian untuk membuat ide-ide baru dan menemukan metode- metode baru dalam melihat suatu masalah dan peluang. Jadi kreativitas merupakan keahlian seseorang dalam membuat ide-ide atau gagasan-gagasan dengan berpikir kreatif untuk membuatsesuatu yang baru. Sehingga ide yang ditemukan tersebut dapat menyelesaikan masalah-masalah yang ada dalam masyarakat dan menciptakan peluang untuk menghasilkan laba dari usahanya tersebut. Wirausaha yang kreatif akan dapat membuat peluang menjadi sesuatau yang menghasilkan dan juga akan menciptakan lapangan pekerjaan yang baru Inovasi menurut Goman (Rusdiana, 2014) adalah penerapan secara praktis ide kreatif. Inovasi dapat diwujudkan

 

dengan adanya kreativitas yang cukup tinggi. Kreativitas adalah kemampuan untuk menerapkan sesuatu yang baru ke dalam kehidupan kita. Banyak perusahaan yang maju dan berkembang sampai detik ini karena melakukan kreativitas dan inovasi. Banyak waralaba dari luar negeri yang telah menerapkan hal ini dalam bisnisnya bertahan sampai hari ini.

Contoh sederhana adalah seorang wirausaha menjual singkong keju, setelah tes pasar pelanggan begitu menyukainya, sehingga terjual habis. Menurut Hadiyati (2011) wirausaha atau entrepreneur adalah berasal dari kata wira dan usaha. Wira artinya kesatria, gagah berani, luhur, sedangkan usaha adalah suatu kegiatan yang produktif.. Umumnya wirausaha tidak bekerja di sektor pemerintah, tetapi bekerja di perusahaan sendiri. Jadi wirausaha menciptakan usaha sendiri yang baru yang inovatif dengan risiko yang ada dan memanfaatkan peluang-peluang, serta menghadapi persaingan, sehingga usahanya tumbuh menjadi besar. Untuk mendapatkan peluang wirausaha harus mempunyai berbagai skill dan ilmu pengetahuan yaitu kemampuan untuk menghasilkan produk dan jasa baru, menghasilkan nilai tambah baru, merintis usaha baru atau teknik baru dan mengembangkan perusahaan baru (Rusdiana, 2014). Menurut Saragih, (2017) kewirausahaan adalah merupakan kemampuan kreatif dan inovatif dan teliti melihat peluang serta selalu terbuka untuk menerima setiap masukan dan perubahan yang positif yang mampu membawa usahanya terus berkembang. Mustikawati (2014) memberikan kesimpulan bahwa, melalui proses inovasi UKM (Usaha Kecil dan Menengah) Sentra Malang, terbukti mampu mengembangkan produk baru serta melakukan pengembangan pada pasar sehingga dapat bertahan hidup. Inovasi yang telah dilakukan dipergunakan sebagai dasar dalam berbisnis untuk meningkatkan keunggulan kompetif dalam jangka panjang. Penelitian Hadiyati (2011) menyimpulkan bahwa kreativitas dan inovasi berpengaruh secara simultan terhadap kewirausahaan dengan variabel inovasi yang mempunyai pengaruh yang lebih besar.

C. SIMPULAN

Dua kata yang selalu bergandengan dalam dunia bisnis yaitu kata kreativitas dan inovasi. Kreativitas yaitu berkaitan dengan ditemukannya ide-ide baru tentang suatu produk dan inovasi adalah bagaimana cara mengimplementasikan kreativitas tersebut. Sebuah produk akan di beli oleh pelanggan tergantung dari produk itu dapat memenuhi selera pelanggannya atau tidak. Misalnya bentuknya, warnanya, ukurannya, fitur-fiturnya juga harga dan pelayanannya disesuaikan dengan selera pelanggannya, Produk harus diciptakan dengan berbagai perbedaan (diferensiasi) dengan usaha sejenis, sehingga konsumen dapat memilih dan memilah mana produk yang baik menurutnya. Usaha yang dijalankan juga harus menciptakan positioning khusus untuk konsumen yang dilayaninya. Contoh untuk usaha dibidang kuliner, harus punya diferensiasi dan positioning dalam kegiatannya, seperti perbedaan dalam rasa, bentuk, warna, ukuran dan sebagainya. Dalam keadaan seperti sekarang ini seorang pengusaha juga harus dapat memanfaatkan teknologi dalam penjualan produk dan jasanya, yaitu penjualan lewat online, sehingga jangkauan pemasarannya lebih luas lagi. Maka hal tersebut akan dapat meningkatkan keuntungannya dan perusahaan bisa survive ditengah pandemi Covid 19.


DAFTAR PUSTAKA

Alma, B. (2017). Kewirausahaan untuk mahasiswa dan umum. Bandung: Alfabeta. Hadiyati, E. (2011). Kreativitas dan Inovasi Berpengaruh terhadap Kewirausahaan Usaha Kecil. Jurnal Manajemen Dan Kewirausahaan, 13(1). Mustikawati, R. I. & T. I. (2014). Orientasi Kewirausahaan,Inovasi dan Strategi Bisnis Untuk Meningkatkatkan KinerjaPerusahaan (Studi pada UKM Sentra Kabupaten Malang). Jurnal Ekonomi Modernisasi, 10(1). Rusdiana. (2014). Kewirausahaan Teori dan Praktek. Bandung: Pustaka Pustaka. Saragih, R. (2017). Membangun Usaha Kreatif, Inovatif dan Bermanfaat melalui Penerapan Kewirausahaan Sosial,. Jurnal Kewirausahaan, 3(2).


Maret 10, 2022

MEMBANGUN USAHA KREATIF MELALUI PENERAPAN KEWIRAUSAHAAN SOSIAL

     MEMBANGUN USAHA KREATIF MELALUI PENERAPAN KEWIRAUSAHAAN SOSIAL

Oleh : Andi Apriansah Polii @U33-ANDI

A. PENDAHULUAN

Mereka yang menjadi wirausaha adalah orang-orang yang mengenal potensi dan belajar mengembangkannya untuk menangkap peluang serta mengorganisasi usaha dalam mewujudkan cita-citanya. Kewirausahaan merupakan kemampuan kreatif dan inovatif, jeli melihat peluang dan selalu terbuka untuk setiap masukan dan perubahan yang positif yang mampu membawa bisnis terus bertumbuh serta memiliki nilai. Salah satu pendorong terciptanya inovasi selain perubahan dan keharusan untuk beradaptasi adalah kesadaran akan adanya celah antara apa yang ada dan apa yang seharunya ada, dan antara apa yang diinginkan oleh masyarakat dengan apa yang sudah ditawarkan ataupun dilakukan oleh pemerintah, sektor swasta maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Bisnis sebaiknya memiliki nilai dan bermanfaat. Hal ini bisa dicapai melalui kegiatan bisnis yang dilakukan dengan menerapkan konsep kewirausahaan sosial. Konsep kewirausahaan sosial telah menjadi konsep yang popular di berbagai Negara. Berbagai kalangan mulai memperbincangkan konsep kewirausahaan sosial sebagai solusi inovatif dalam menyelesaikan permasalahan sosial. Permasalahan sosial sendiri sudah menjadi permasalahan bersama sehingga penanggulangannya membutuhkan sinergi dari semua pihak. 

 B. PEMBAHASAN

Salah satu manfaat dari kewirausahaan sosial adalah untuk membangun sebuah bisnis sebagai solusi untuk permasalahan sosial ekonomi, pendidikan, lingkungan dan berbagai permasalahan yang telah menjadi tantangan dunia. Seperti yang diungkapkan Bill Drayton, seorang innovator publik yang mendirikan Ashoka Foundation menulis bahwa cara yang paling efektif untuk mempromosikan dapat merumuskan solusi inovatif yang berkelanjutan dan dapat ditiru baik nasional maupun global. Berikut adalah peran wirausaha sosial dalam perekonomian suatu Negara: • Menciptakan lapangan kerja • Mengurangi pengangguran • Meningkatkan pendapatan masyarakat • Mengombinasikan factor-faktor produksi (alam, tenaga kerja, modal dan keahlian) • Meningkatkan produktivitas nasional Menjadi wirausaha sosial tidaklah mudah. Wirausaha sosial melihat permasalahan sosial sebagai peluang usaha serta memiliki keberanian dan mengambil risiko untuk menyelesaikannya. Hal inilah yang dilakukan oleh Purba Plastik. Simpati Anas Agusta Purba pria Batak Karo adalah pemilik nama wirausaha tersebut. Usaha yang bergerak dibidang produksi biji plastik ini berdiri pada bulan Pebruari 2012 dengan mengusung merek “Purba Plastik” yang berlokasi di Jl Djamin Ginting, Lau Cih, Medan. Gambar 3.1 Biji plastik yang siap dikirim ke pabrik Bahan baku usaha ini adalah sampah-sampah dari berbagai jenis plastik yang berasal dari lokasi tempat pembuangan akhir. Namun demikian sampah-sampah plastik yang berasal dari rumah tangga juga ditampung disini. Sampah-sampah plastic ini diolah menjadi biji plastic dan selanjutnya dikirim ke pabrik pengolahan untuk kemudian diproses labih lanjut (misalnya menjadi produk plastik yang kita gunakan sehari-hari). Pada usaha ini penyortiran dilakukan oleh ibu-ibu yang berdomisili di sekitar lokasi produksi. Sebelum bekerja di usaha Purba Plastik, ibu-ibu ini kesehariannya adalah seorang pemulung (nyeker). Ternyata bisnis yang dijalankan tersebut memberikan peluang kerja bagi masyarakat di lingkungan sekitar yang tentunya membawa dampak positif serta mampu mengurangi gundukan-gundukan sampah yang berada di tempat pembuangan akhir. Penyelesaian Masalah Sosial Melalui Inovasi Sosial Penyelesaian masalah sosial membutuhkan analisis yang cermat dan solusi yang rasional, mewakili aspirasi masyarakat, terintegrasi dan holistic sehingga menghasilkan sebuah gagasan atau ide yang lebih konprehensif dalam penyelesaian permasalahan-permasalahan sosial yang ada. Diantaranya kemiskinan, pendidikan dan pengangguran. Melalui terbentukya agen-agen perubahan yang melakukan percobaan terusmenerus dan berkelanjutan diharapkan dapat memberikan solusi terhadap masalah sosial. Seorang wirausaha sosial berperan dalam menyediakan lapangan kerja bagi para pencari kerja. Dengan terserapnya tenaga kerja diharapkan mampu mengurangi tingkat pengangguran serta memberikan pengaruh positif pada peningkatan pendapatan perkapita. 

 C. KESIMPULAN

Kewirausahaan sosial adalah tindakan berinovasi dan mengenali masalah sosial dengan menggunakan prinsip kewirausahaan. Modal dasar yang dibutuhkan untuk menjadi wirausahawan sosial adalah lebih kepada komitmen untuk membuat perubahan sosial berdasarkan tujuan mulia. Penguaha sosial harus memiliki trategi berdaarkan kekuatan sosial untuk menyebarkan pengaruhnya, penggunaan media sosial akan membantu organisasi maupun individu untuk menyebarkan permaalahan yang dialami masyarakat. Untuk itu pengusaha sosial berfokus pada pengalaman yang dialami masyarakat, sehingga sangat perlu untuk menjalin komunikasi serta mambangun empati melalui peritiwa yang dialami oleh masyarakat.

REFERENSI

MODUL 1 KEWIRAHUSAAN

Bornstein,D, 2004, How to Change the World: Social Entrepreneur and the Power of New Idea. Oxford; Oxford University Press Dees, J. G , 2001, The Meaning of Social Entrepreneurship Drucker, P.F , 1994, Innovation and Entrepreneurhip, New York: Harpercollins Publisher Helltrom, T, 2004, Innovation as Social Action., Denmark: Copenhagen Bussiness School Jain, Monika, 2012, Social Entrepreneurship – Using Business Methods to Solve Sosial Problems: The Case of Kotwara, Decision, Vol.39, No.3, Desember 2012 Mulgan, G., Tucker, S., Ali, R., and Sanders,B, 2007, Social Innovation: What It Is, Why It Matters and How It Can Be Accelerated. Oxford; Skoll Centre for Social Entrepreneurship, Said Business Scholl- University of Oxford Noruzi, M.R,Westover, J.H. dan Gholam,R.R, 2010, An Exploration of Social Entrepreneurship in the Entrepreneurhip Era. Asian Social Science Vol.6, No.6; June 2010 Saragih, Rintan, 2013. Berwirausaha Cerdas, Inspirasi bagi kaum muda, Yogyakarta;.Graha Ilmu. Saifan, S.A, 2012, Social Entrepreneurship: Definition and Boundaries. Teknology Innovation Management Review Wawan D., Hendrati,D,M., Anggraeni,P.,Grisns,A.,Indriyani, A, 2013, Inovasi dan Kewirausahaan Sosial. Panduan Dasar Menjadi Agen Perubahan, Bandung; Alfabeta