Tampilkan postingan dengan label (U-28 Rachmat). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label (U-28 Rachmat). Tampilkan semua postingan

Maret 31, 2022

Cara Mengembangkan Kreativitas Diri

 

Cara Mengembangkan Kreativitas Diri

 

Oleh : Muhamad Rachmat Qidam (U-28 Rachmat)

 

I.Pendahulan

            Kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Bukan berarti harus sama sekali baru, tetapi dapat juga sebagai kombinasi dari unsur-unsur yang telah ada sebelumnya. Kreativitas dapat dikembangkan dan ditingkatkan sesuai kemampuan masing-masing individu. Kreativitas berarti berani untuk mengambil risiko, yaitu berani untuk mencoba hal-hal baru yang belum pernah dilakukan dan hasilnya belum jelas. Ini berarti harus lebih berani melakukan kekeliruan secara berlebihan. Dari itu kreativitas harus mempertimbangkan segala risiko dan konsekuensi dengan cermat terlebih dahulu.

Menurut Supriadi dalam Yeni Rachmawati (2005:15) mengutarakan bahwa kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan apa yang tealah ada. Kreativitas merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang mengimplikasikan terjadinya eskalasi dalam kemampuan berpikir, ditandai oleh suksesi, diskontinuitas, diferensiasi, dan integrasi antara tahap perkembangan. Kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan atau daya cipta (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1990: 456), kreativitas juga dapat bermakna sebagai kreasi terbaru dan orisinil yang tercipta, sebab kreativitas suatu proses mental yang unik untuk menghasilkan sesuatu yang baru, berbeda dan orisinil. Kreativitas merupakan kegiatan otak yang teratur komprehensif, imajinatif menuju suatu hasil yang orisinil.

II.Pembahasan

A.    Ciri-Ciri Kreativitas

Menurut Slameto (2003:17) dalam Supriadi mengatakan bahwa ciri-ciri kreativitas dapat dikelompokkan dalam dua kategori, kognitif dan non kognitif. Ciri kognitif diantaranya orisinilitas, fleksibelitas, kelancaran, dan elaborasi. Sedangkan ciri non kognitif diantaranya motivasi sikap dan kepribadian kreatif kreatif. Kedua ciri ini sama pentingnnya, kecerdasan yang tidak ditunjang dengan kepribadian kreatif tidak akan menghasilkan apapun.Kreativitas hanya dapat dilahirkan dari orang cerdas yang memiliki kondisi psikologi yang sehat. Kreativitas tidak hanya perbuatan otak saja namun variabel emosi dan kesehatan mental sangat berpengaruh terhadap lahirnya sebuah karya kreatif. Kecerdasan tanpa mental yang sehat sulit sekali dapat menghasilkan karya kreatif. Menurut Sri Narwati (2011:11) ciri-ciri guru kreatif adalah:

A. Guru yang fleksibel Kecerdasan majemuk, keragaman gaya belajar, dan perbedaan karakter siswa menuntut guru harus fleksibel. Guru harus luwes menghadapi segala perbedaan ini agar mampu menumbuhkan segala potensi siswa.

B. Guru yang optimis Guru harus optimis bahwa setiap siswa memanag memiliki potensi dan setiap anak adalah pribadi yang unik. Keyakinan guru bahwa interaksi yang menyenangkan dalam pembelajaran akan mampu memfasilitasi siswa berubah menjadi lebih baik dan akan berdampak pada perkembangan karakter siswa yang positif.

C. Guru yang respect Kita tidak bisa meminta siswa berlaku hormat, tetapi guru tidak memperlakukan siswa pula. Guru hendaknya senantiasa menumbuhkan rasa hormat di depan siswa sehingga mampu memacu siswa lebih mudah memahami materi pembelajaran sekaligus hal-hal lain yang dipelajarinya.

D. Guru yang cekatan Anak-anak yang selalu aktif dan dinamis harus diimbangi oleh guru yang aktif dan dinamis pula, sehingga bisa muncul saling pemahaman yang kuat dan akan berdampak positif bagi proses dan hasil pembelajaran.

E. Guru yang humor Humor-humor yang dimunculkan guru disela-sela pembelajaran tentunya akan menyegarkan suasana pemebelajaran yang membosankan. Dengan humorhumor yang segar akan membuat suasana pembelajaran menjadi menyenangkan

F. Guru yang inspiratif Fasilitasilah setiap siswa agar mampu menemukan hal-hal baru yang bermanfaat. Jadikanlah setiap siswa menjadi pribadi yang bermakna dengan menemukan sesuatu yang positif untuk perkembangan kepribadiannya.

B. Tujuan Pengembangan Kreativitas

 Menurut Utami Munandar (2002:60) yang dituangkan pada salah satu bukunya Peningkatan Kreativitas Anak Usia Dini, ada alasan mengapa kreativitas penting untuk dimunculkan, dipupuk dan dikembangkan dalam diri anak, antara lain : Pertama, dengan berkreasi anak dapat mewujudkan dirinya. Perwujudan diri adalah salah satu kebutuhan pokok manusia. Kedua, kemampuan berpikir kreatif dapat melihat berbagai macam penyelesaian suatu masalah. Mengekspresikan pikiran-pikiran yang berbeda dari orang lain tanpa dibatasi pada hakikatnya akan mampu melahirkan berbagai macam gagasan. Ketiga, bersibuk secara kreatif akan memberikan kepuasan kepada individu tersebut. Hal ini penting untuk diperhatikan karena tingkat ketercapaian kepuasan seseorang akan mempengaruhi perkembangan sosial emosinya. Keempat, dengan kreativitas memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya. Gagasan-gagasan baru sebagai buah pemikiran kreatif akan sangat diperlukan untuk menghadapi masa depan yang penuh tantangan. Jadi tujuan mengembangkan kreativitas anak adalah sebagai berikut :

1. Mengenal cara mengekspresikan diri melalui hasil karya dengan menggunakan teknik-teknik yang dikuasainya.

2. Mengenalkan cara dalam menemukan alternatif pemecahan masalah.

3. Membuat anak memiliki sikap keterbukaan terhadap berbagai .

4. pengalaman dengan tingkat kelenturan dan toleransi yang sangat tinggi terhadap ketidakpastian.

5. Membuat anak memiliki kepuasan diri terhadap apa yang dilakukannya dan sikap menghargai hasil karya orang lain.

 6. Membuat anak kreatif, yaitu anak yang memiliki :

a. Kelancaran untuk mengemukakan gagasan

b. Kelenturan untuk mengemukakan berbagai alternatif pemecahan masalah

c. Orsinalitas dalam menghasilkan pemikiran-pemikiran

d. Elaborasi dalam gagasan

e. Keuletan dan kesabaran atau kegigihan dalam menghadapi rintangan dan situasi yang tidak menentu.

Strategi Pribadi, Pendorong, Proses, dan Produk (4P)

Menurut Utami Munandar (1995: 45) setiap orang pada dasarnya memiliki bakat kreatif dan kemampuan untuk mengungkapkan dirinya secara kreatif, meskipun masing-masing dalam bidang dan dalam kadar yang berbeda-beda. Yang terutama penting bagi dunia pendidikan ialah bahwa bakat tersebut dapat dan perlu dikembangkan dan ditingkatkan. Sehubungan dengan pengembangan kreativitas siswa, kita perlu meninjau empat aspek dari kreativitas, yaitu pribadi, pendorong, press, proses, proses, atau, dan produk (4P dari kreativitas)

a.       Pribadi

Kreativitas adalah ungkapan (ekspresi) dari keunikan individu dalam interaksi dengan lingkungannya. Ungkapan kreatif ialah yang mencerminkan orisinilitas dari individu tersebut. Dari ungkapan pribadi yang unik inilah dapt diharapkan timbulnya ide-ide baru dan produk-produk yang inovatif. Oleh karena itu pendidik haendaknya dapat menghargai keunikan pribadi dan bakat-bakat siswanya (jangan mengharapkan semua melakukan atau menghasilkan hal-hal yang sama, atau mempunyai minat yang sama). Guru hendaknya membantu siswanya menemukan bakat-bakatnya dan menghargainya.

b.      Pendorong (press)

 Bakat kreatif siswa akan terwujud jika ada dorongan dan dukungan dari lingkungannya, ataupun jika ada dorongan kuuat dalam dirinya sendiri ( motivasi internal) untuk menghasilkan sesuatu. Bakat kreatif dapat berkembang dalam lingkungan yang mendukung tetapi dapt pula terhambat dalam lingkungan yang tidak menunjang. Di dalam keluarga, di sekolah, di dalam lingkungan pekerjaan maupun di dalam masyarakat harus ada penghargaan dan dukungan terhadap sikap dan perilaku kreatif individu atau kelompok individu

c.       Proses

Untuk mengembangkan kreatif, anak perlu diberi kesempatan untuka bersibuk diri secara aktif. Pendidik hendaknya dapat merangsang untuk melibatkan dirinya dalam kegiatan kreatif, dengan membantu mengusahakan sarana dan prasarana yang diperlukan. Dalam hal ini yang penting ialah memberi kebebasan kepada anak untuk mengesprsikan dirinya secara aktif, tentu saja dengan persyaratan tidak merugikan orang lain atau lingkungan. Pertama-tama yang perlu ialah proses bersibuk diri secara kreatif tanpa perlu selalu atau terlalu cepat menuntut dihasilkannya produk-produk kreatif yang bermakna. Hal itu akan datang dengan sendirinya dalam iklim yang menunjang, menerima, dan menghargai. Perlu pula diingat bahwa kurikulum sekolah yang terlalu padat sehingga tidak ada peluang untuk kegiatan kreatif, dan jenis pekerjaan yang monoton, tidak menunjang siswa untuk mengungkapkan dirinya secara kreatif.

III. Kesimpulan

            Kreativitas berkarya diharapkan menumbuhkan jiwa kreatif dan selalu mencari hal yang baru (novelty). Pembelajaran model MUKIDI diharapkan menumbuhkan jiwa dan perilaku kreatif yang positif. Bentuk ini yang akhirnya harus dipertahankan demi kreativitas produk karya seni melalui percobaan (research based learning) ataupun project based learning senantiasa akan menggali ide dan mengembangkan potensi peserta didik. Terutama pada project based learning, diharapkan menemukan kerja kolaboratif dan menumbuhkan sikap toleransi diantara siswa.

IV. Daftar Pustaka

https://www.kajianpustaka.com/2020/07/kreativitas.html

https://eprints.uny.ac.id/9844/2/BAB%202%20-%2008108244084.pdf

file:///C:/Users/Lenovo/Downloads/21686-Article%20Text-43833-2-10-20180215.pdf

 

 

 

Maret 24, 2022

Membangun Keunggulan melalui Inovasi dan Kewirausahaan

 

Membangun Keunggulan melalui Inovasi dan Kewirausahaan

Oleh : Muhamad Rachmat Qidam (U-28 Rachmat)

PENDAHULUAN

Di era globalisasi yang diwarnai persaingan binis yang semakin ketat, telah menciptakan perubahan-perubahan dalam sistem kehidupan di berbagai bidang. Perubahan tersebut perlu direspon organisasi/perusahaan dengan strategi yang tepat untuk membangun keunggulan kompetitif. Menurut Porter (1990), setiap usaha harus mempunyai keunggulan kompetitif, agar dapat bertahan dan berjalan dengan baik. Mangkuprawira (2007) mengemukakan keunggulan kompetitif sebagai kemampuan perusahaan untuk memformulasi strategi pencapaian peluang profit melalui maksimisasi penerimaan dari investasi yang dilakukan. Sekurang-kurangnya ada dua prinsip pokok yang perlu dimiliki perusahaan untuk meraih keunggulan kompetitif yaitu adanya nilai pandang pelanggan dan keunikan produk.

Adapun kunci keberhasilan untuk mampu bertahan di tengah persaingan terletak pada kemampuan perusahaan dalam mengembangkan keunggulan kompetitifnya. Salah satu strategi perusahaan dalam mengembangkan keunggulan kompetitif yaitu melalui inovasi. Menurut Wahyono (2002) tujuan utama dari inovasi adalah untuk memenuhi permintaan pasar sehingga produk inovasi merupakan salah satu yang dapat digunakan sebagai keunggulan bersaing bagi perusahaan. Gray et al (2002) mengemukakan bahwa kemampuan inovasi dari suatu perusahaan akan menjamin kemampuan bersaing perusahaan. Pada umumnya pelanggan menginginkan produk yang inovatif sesuai dengan keinginan mereka. Sementara itu bagi perusahaan, keberhasilan dalam melakukan inovasi produk berarti perusahaan tersebut selangkah lebih maju dibandingkan pesaingnya.

Inovasi dan kewirausahaan dapat menjadi strategi organisasi/ perusahaan dalam membangun keunggulan kompetitif. Subjek yang menjadi fokus PEMBAHASAN pada makalah ini adalah bagaimana organisasi/perusahaan membangun keunggulan kompetitif melalui inovasi dan kewirausahaan. Makalah ini bertujuan untuk memahami inovasi dan kewirausahaan sebagai salah satu strategi dalam membangun keunggulan kompetitif.

PEMBAHASAN

 Keunggulan Kompetitif Konsep keunggulan bersaing banyak dikembangkan dari strategi generik yang dikemukakan Porter (1985). Ajaran Porter tentang strategi generik untuk keunggulan bersaing terdiri dari keunggulan biaya, differensiasi dan fokus kepada pelanggan masih relevan untuk tetap digunakan. Keunggulan bersaing adalah jantung kinerja perusahaan dalam persaingan pasar. Keunggulan bersaing pada dasarnya tumbuh dari nilai atau manfaat yang dapat diciptakan perusahaan bagi pembelinya. Bila perusahaan kemudian mampu menciptakan keunggulan melalui salah satu dari ketiga strategi generik yang dikemukakan oleh Porter tersebut, maka akan didapatkan keunggulan bersaing (Aaker, 1989). Menurut Ehmke (2008) “A competitive advantage is an advantage gained over competitors by offering customers greater value, either through lower prices or by providing additional benefits and service that justify similar, or possibly higher prices” .

Pendekatan lain menjelaskan bahwa pendekatan kolaboratif merupakan sumber keunggulan bersaing perusahaan. Pendekatan ini disebut sebagai “teori modal sosial”. Modal sosial yang dikemukakan oleh Timberlake (2005) merupakan sebuah konsep yang telah diterima sebagai suatu aset bernilai untuk melindungi dan mengamankan masyarakat, pemberdayaan organisasi, dan masyarakat. Modal sosial memainkan peranan penting dalam memenuhi kebutuhan organisasi dan memberikan kontribusi bagi keberlangsungan hidup organisasi di era persaingan global saat ini. Hal tersebut merupakan sarana manajemen dalam mencapai tujuan organisasi secara lebih efektif dan berbiaya rendah. Modal sosial memfasilitasi aktivitas berbagi pengetahuan (knowledge sharing), penciptaan nilai (value creation), keunggulan bersaing (competitive advantage), kinerja yang lebih baik, dan pengembangan organisasi (Abili dan Faraji, 2009).

Inovasi

 Inovasi merupakan inti dari kewirausahaan. Inovasi adalah hal yang perlu dimiliki dan dikembangkan dalam diri wirausaha untuk perkembangan dan kesuksesan sebuah usaha. Wirausaha melalui proses inovasi menciptakan nilai tambah atas barang dan jasa yang kemudian menciptakan berbagai keunggulan termasuk keunggulan kompetitif. Schumpeter dalam Dhewanto, dkk (2013), “inovasi memerlukan sebuah proses dan menghasilkan sesuatu dalam waktu yang bersamaan....”. Hills (2008) mengemukakan inovasi sebagai ide, praktek atau obyek yang dianggap baru oleh seorang individu atau unit pengguna lainnya. Sementara itu menurut Suryana (2003) inovasi sebagai kemampuan untuk menerapkan kreativitas dalam rangka memecahkan persoalan dan peluang untuk meningkatkan dan memperkaya kehidupan. Inovasi organisasi dapat diinterprestasikan secara luas dan bervariasi dengan berbagai cara. Inovasi merupakan pemberian solusi baru yang dapat memberikan nilai pada pelanggan. Inovasi sebagai fenomena psikologi dan sosial budaya, kedua aspek tersebut dapat merupakan kunci keberhasilan atau kegagalan suatu organisasi (Daghfous et al., 1999).

Tujuan utama dari proses inovasi adalah memberikan dan menyalurkan nilai pelanggan yang lebih baik. Inovasi dapat dipandang dengan pendekatan strukturalis dan pendekatan proses. Pendekatan strukturalis memandang inovasi sebagai suatu unit dengan parameter yang tetap seperti teknologi dan praktek manajemen, adapun pendekatan proses memandang inovasi sebagai suatu proses yang kompleks, yang sering melibatkan berbagai kelompok sosial dalam organisasi (Swan et al., 1999). Perusahaan dapat melakukan inovasi dalam bidang:

1. Inovasi produk (barang, jasa, ide dan tempat)

2. Inovasi manajemen (proses kerja, proses produksi, keuangan, pemasaran dan lain-lain).

3. Dalam melakukan inovasi perusahaan perlu memperhatikan prinsipprinsip.

4. Menganalisi peluang

5. Apa yang harus dilakukan untuk memuaskan peluang

6. Sederhana dan terarah

7. Dimulai dari yang kecil

8. Kepemimpinan

Menurut Larsen & Lewis (2007) salah satu karakter yang sangat penting dari wirausahawan adalah kemampuannya berinovasi. Tanpa adanya inovasi, perusahaan tidak akan dapat bertahan lama. Kemudian, Keeh, et.al (2007) menjelaskan inovasi sangat penting karena alasan berikut:

1. Teknologi berubah sangat cepat seiring adanya produk baru, proses dan layanan baru dari pesaing, dan ini mendorong usaha entrepreneurial untuk bersaing dan sukses. Yang harus dilakukan adalah menyesuaikan diri dengan inovasi teknologi baru.

2. Efek perubahan lingkungan terhadap siklus hidup produk semakin pendek, yang artinya bahwa produk atau layanan lama harus digantikan dengan yang baru dalam waktu cepat, dan ini bisa terjadi karena ada pemikiran kreatif yang me-nimbulkan inovasi.

3. Konsumen saat ini lebih pintar dan menuntut pemenuhan kebutuhan. Harapan dalam pemenuhan kebutuhan mengharap lebih dalam hal kualitas, pembaruan, dan harga. Oleh karena itu skill inovatif dibutuhkan untuk memuaskan kebutuhan konsumen sekaligus mempertahankan konsumen sebagai pelanggan.

4. Dengan pasar dan teknologi yang berubah sangat cepat, ide yang bagus dapat semakin mudah ditiru, dan ini membutuhkan metode penggunaan pro-duk, proses yang baru dan lebih baik, dan layanan yang lebih cepat secara kontinyu.

5. Inovasi bisa menghasilkan pertumbuhan lebih cepat, meningkatkan segmen pasar, dan mencipta-kan posisi korporat yang lebih baik.

 

PENUTUP

Kunci keberhasilan untuk mampu bertahan di tengah persaingan terletak pada kemampuan perusahaan dalam membangun keunggulan kompetitifnya. Inovasi dan kewirausahaan dapat menjadi strategi perusahaan dalam membangun keunggulan kompetitif. Inovasi produk untuk membangun keunggulan kompetitif antara lain melalui keunggulan produk, keunikan produk, dan biaya produk. Sementara itu kewirausahaan berupaya menciptakan nilai melalui pengenalan peluang usaha, memilih pengambilan resiko yang tepat sesuai dengan peluang yang ada, kemudian melalui keahlian komunikasi dan manajemen menggerakkan sumber daya manusia, keuangan, dan bahan yang dibutuhkan untuk keberhasilan usaha.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

https://www.jurnal.id/id/blog/strategi-bisnis-untuk-mencapai-keuntungan-maksimal/

https://majoo.id/blog/detail/pentingnya-kreativitas-dan-inovasi-dalam-memenuhi-kebutuhan-pasar

https://midtrans.com/id/blog/karakteristik-kewirausahaan

https://www.hashmicro.com/id/blog/kewirausahaan-adalah/

 

Maret 17, 2022

Kreativitas Kewirausahaan

 

Kreatifitas Dalam Wirausaha

Oleh : Muhamad Rachmat Qidam (U-28 Rachmat)

1.     Pendahuluan

Kreatifitas

Setiap individu pada zaman globalisasi ini dituntut untuk menciptakan sesuatu yang baru dengan tujuan, hal tersebut dapat memberikan manfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Oleh karena itu, indivdu dituntut untuk menjadi pribadi yang kreatif agar dapat bersaing di era globalisasi saat ini. Untuk menunjang pemahaman kita mengenai kreativitas, berikut disajikan beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian kreativitas.

Kreativitas merupakan daya menciptakan sesuatu yang menuntut pemusatan perhatian, kemauan, kerja keras dan ketekunan. Menurut Sulaiman Sahlan dan Maswan, kreativitas adalah ide atau gagasan dan kemampuan berpikir kreatif. Sementara itu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dimaksud dengan kreativitas ialah kemampuan untuk mencipta daya cipta.

Pendapat lain menyebutkan kreativitas itu adalah kemampuan untuk menciptakan suatu produk baru ini :

a)       Kreativitas  adalah  kemampuan  untuk   membuat   kombinasi-kombinasi   atau   melihat hubungan-hubungan baru antara unsure, data, variabel, yang sudah ada sebelumnya.

 

b)      Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya. Conny Semiawan (1984).

Dari definisi dan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa kreativitas merupakan kemampuan seseorang dalam menuangkan ide atau gagasan melalui proses berpikir kreatif untuk menciptakan sesuatu yang menuntut pemusatan, perhatian, kemauan, kerja keras dan ketekunan.

2.     Ciri-ciri Kreatifitas

Ciri-ciri

Ada beberapa ciri-ciri kreativitas yang dimiliki oleh individu yang kreatif. Guilford (dalam Munandar, 1992) membedakan antara ciri kognitf  (aptitude)  dan  ciri  afektif  (non- aptitude) yang berhubungan dengan kreativitas. Ciri-ciri kognitif (aptitude) ialah ciri-ciri yang berhubungan dengan kognisi, proses berpikir yang meliputi kelancaran, kelenturan (fleksibilitas) dan orisinilitas dalam bepikir dan elaboration (mengembangkan, memperkaya, memperinci) suatu gagasan. Sedangkan ciri-ciri afektif (non-aptitude) ialah ciri-ciri yang lebih berkaitan dengan sikap atau perasaan yang meliputi rasa ingin tahu, bersifat imajinatif, merasa

 

tertantang oleh kemajemukan, sifat berani mengambil resiko dan sifat menghargai. Kedua jenis ciri-ciri kreativitas itu diperlukan agar perilaku kreatif dapat terwujud.

Berikut ini ciri-ciri kognitf (aptitude) dan ciri-ciri afektif (non-aptitude) menurut Guilford (dalam Munandar, 1992) akan diuraikan lebih lanjut :

a.         Ciri-ciri Kognitif

Kreativitas yang berhubungan dengan kemampuan berpikir kreatif (divergen) dan memiliki lima  ciri   kognitif,   yaitu   kemampuan   berpikir   secara   lancar   (fluency),   berpikir luwes (flexibelity), orisinilitas (originality), kemampuan menilai (evaluation) dan kemampuan memperinci/mendalam (elaboration).

1)         Kemampuan berpikir lancar (fluency)

 

Merupakan kemampuan untuk melahirkan banyaknya ide dan gagasan, mengemukakan banyaknya cara untuk melakukan berbagai hal serta mencari banyak kemungkinan alternatif jawaban dan penyelesaian masalah.

 

2)         Kemampuan berpikir luwes atau fleksibel (flexibility)

Merupakan kemampuan untuk menggunakan bermacam-macam pendekatan dalam mengatasi persoalan, orang yang kreatif adalah orang yang kreatif dalam berpikir, mereka dapat dengan mudah meninggalkan cara berpikir yang lama dan menggantikan dengan cara berpikir yang baru. Diperlukan kemampuan untuk tidak terpaku pada pola pemikiran yang lama. Hal ini bisa dilakukan dengan fleksibilitas yang spontan dan adaptif. Fleksibilitas spontan adalah kemampuan untuk menyampaikan berbagai macam ide tentang apa saja tanpa rasa takut salah. Sedangkan fleksibilitas adaptif adalah kemampuan untuk menyampaikan berbagai macam ide tentang apa saja tetapi masih memperhatikan kebenaran ide tersebut. Ciri-ciri ini dapat dilihat pada sikap anak didik dalam memberikan macam-macam penafsiran (interpretasi) terhadap suatu gambar, cerita atau masalah, menerapkan suatu konsep dengan cara yang berbeda-beda, memberi pertimbangan terhadap situasi, yang berbeda dari yang diberikan orang lain, dalam membahas atau mendiskusikan suatu situasi selalu mempunyai posisi yang berbeda atau bertentangan dari mayoritas kelompok., jika diberikan suatu masalah biasanya memikirkan macam-macam cara yang berbeda-beda untuk menyelesaikannya, mampu mengubah arah berpikir secara spontan.

 

3)         Kemampuan berpikir orisinal (originality)

Merupakan kemampuan untuk melahirkan ide-ide atau gagasan-gagasan dan mebuat kombinasi-kombinasi yang sifatnya baru dan unik, menggunakan cara yang tidak lazim dalam mengungkapkan diri, dan mampu mencari berbagai kemungkinan pemecahan masalah

dengan cara-cara yang mungkin tidak terpikirkan oleh orang lain. Ciri-ciri ini dapat dilihat pada sikap anak didik dalam memikirkan masalah-masalah atau hal-hal yang tidak pernah terpikirkan oleh orang lain, mempertanyakan cara-cara yang lama dan berusaha memikirkan cara-cara yang baru, memiliki cara berpikir yang lain dari yang lain, setelah membaca atau mendengar gagasan-gagasan, bekerja untuk menemukan penyelesain yang baru, memberikan

warna-warna yang tegas dan berbeda dengan keadaan aslinya dalam menggambar atau sering mempertanyakan mengapa sesuatu hal harus dilakukan dengan suatu cara dan bukan dengan cara lain.

4)         Kemampuan menilai (evaluation)

 

Merupakan kemampuan untuk membuat penilaian sendiri dan menentukan apakah suatu pertanyaan benar, atau sutau tindakan itu bijaksana serta tidak hanya mencetuskan gagasan saja tetapi juga melaksanakannya. Ciri-ciri ini dapat dilihat pada sikap anak didik dalam memberi pertimbangan atas dasar sudut pandangnya sendiri, menentukan pendapat sendiri mengenai suatu hal, menganalisa masalah atau penyesalan secara kritis dengan selalu menanyakan ”Mengapa?”, mempunyai alasan rasional yang dapat dipertanggungjawabkan

untuk mencapai suatu keputusan, merancang suatu rencana kerja dari gagasan-gagasan yang tercetus, pada waktu tertentu tidak menghasilkan gagasan-gagasan tetapi menjadi peneliti atau penilai yang kritis, menentukan pendapat dan bertahan terhadapnya.

5)         Kemampuan memperinci (elaboration)

 

Merupakan kemampuan untuk memperkaya atau mengembangkan suatu ide, gagasan atau produk dan kemampuan untuk memperinci suatu obyek, gagasan, dan situasi sehingga tidak hanya menjadi lebih baik tetapi menjadi lebih menarik. Ciri-ciri ini dapat dilihat pada sikap anak didik dalam mencari arti yang lebih mendalam terhadap jawaban atau pemecahan masalah dengan melakukan langkah-langkah yang terperinci, mengembangkan atau memperkaya gagasan orang lain, mencoba atau menguji detil-detil untuk melihat arah yang akan ditempuh, mempunyai rasa keindahan yang kuat sehingga tidak puas dengan penampilan yang kosong atau sederhana, menambahkan garis-garis, warna-warna dan detil-detil (bagian-bagian) terhadap gambarnya sendiri atau gambar orang lain.

 

b.         Ciri-ciri afektif

Ciri-ciri afektif dari kreativitas merupakan ciri-ciri yang berhubungan dengan sikap mental atau perasaan individu. Ciri-ciri afketif ini saling berhubungan dan saling mempengaruhi dengan ciri-ciri kognitif. Kreativitas yang berkaitan dengan sikap dan perasaan seseorang. Ada beberapa ciri-ciri afektif, yaitu:

1)         Rasa ingin tahu.

 

Selalu terdorong untuk mengetahui lebih banyak, misalnya: selalu bertanya, memperhatikan banyak hal, peka dalam pengamatan dan ingin mengetahui atau meneliti. Ada beberapa perilaku peserta didik yang mencerminkan rasa ingin tahu, misalnya sering mempertanyakan segala sesuatu, senang menjajaki buku-buku, peta-peta, gambar-gambar, dan sebagainya untuk mencari gagasangagasan baru, menggunakan semua pancainderanya untuk mengenal, tidak takut menjajaki bidang-bidang baru, ingin mengamati perubahan-perubahan dari hal-hal atau kejadiankejadian.

2)         Bersifat imajinatif/fantasi

 

Mampu memperagakan atau membayangkan hal-hal yang tidak atau belum pernah terjadi dan menggunakan daya khayal namun dapat membedakan mana khayalan dan mana yang kenyataan. Perilaku yang terlihat pada siswa biasanya berupa memikirkan atau membayangkan hal-hal yang belum pernah terjadi, memikirkan bagaimana jika melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan orang lain, meramalkan apa yang akan dikatakan atau dilakukan orang lain, mempunyai firasat tentang sesuatu yang belum terjadi, melihat hal-hal dalam suatu gambar yang tidak dilihat orang lain, membuat cerita tentang tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi atau tentang kejadian-kejadian yang belum pernah

dialami.

 

3)         Merasa tertantang oleh kemajemukan

 

Mempunyai dorongan untuk mengatasi masalah-masalah yang sulit, merasa tertantang oleh situasi-situasi yang rumit serta lebih tertarik pada tugas-tugas yang sulit. Perilaku anak didik yang mencerminkan sikap tertantang oleh kemajemukan, adalah menggunakan gagasan atau masalah-masalah yang rumit, melibatkan diri dalam tugas-tugas yang majemuk, tertantang oleh situasi yang tidak dapat diramalkan keadaannya, mencari penyelesaian tanpa bantuan orang lain, tidak cenderung mencari jalan tergampang, berusaha terus-menerus agar berhasil, mencari

 

jawaban-jawaban yang lebih sulit atau rumit daripada menerima yang mudah, dan senang menjajaki jalan yang lebih rumit.

4)         Sifat berani mengambil risiko (tidak takut membuat kesalahan)

 

Berani mempunyai pendapat meskipun belum tentu benar, tidak takut gagal atau mendapat kritik dari orang lain. Perilaku anak didik yang memiliki sifat berani dalam mengambil risiko adalah berani mempertahankan gagasan-gagasan atau pendapatnya walaupun mendapatkan tantangan atau kritik, bersedia mengakui kesalahan-kesalahannya, berani menerima tugas yang sulit meskipun ada kemungkinan gagal, berani mengajukan pertanyaan atau mengemukakan masalah yang tidak dikemukakan orang lain, tidak mudah dipengaruhi orang lain, melakukan hal-hal yang diyakini, meskipun tidak disetujui sebagian orang, berani mencoba hal-hal baru, berani mengakui kegagalan dan berusaha lagi.

5)         Sifat menghargai

 

Kemampuan untuk dapat menghargai bimbingan dan pengarahan dalam hidup, menghargai kemampuan dan bakat-bakat sendiri yang sedang berkembang. Perilaku anak didik yang memiliki sifat menghargai adalah menghargai hak-hak sendiri dan orang lain, menghargai diri sendiri dan prestasi sendiri, menghargai makna orang lain, menghargai keluarga, sekolah lembaga pendidikan lainnya serta teman-teman, menghargai kebebasan tetapi tahu bahwa kebebasan menuntut tanggung jawab, tahu apa yang betul-betul penting dalam hidup, menghargai kesempatan-kesempatan yang diberikan, senang dengan penghargaan terhadap dirinya.

 

3.     Pengembangan

Berpikir Kreatif

Berpikir kreatif adalah menggunakan kemampuan berpikir kita untuk membuat hubungan yangan baru & hubungan yang lebih berguna dari informasi yang sebelumnya sudah kita ketahui. Jadi berpikir kreatif tidak selalu menghasilkan sesuatu yang betul-betul baru melainkan bisa menghubungkan hal-hal yang sudah kita ketahui menjadi pengertian yang lebih sempurna. Jika dilihat dari definisi ini sebenarnya semua orang adalah kreatif.

 

Proses Kreatif

Banyak orang berpikir bahwa kreatifitas bersifat impulsif. Tetapi hal itu tidak benar, orang- orang yang bekerja di bidang industri kreatif tahu betul hal itu. Kreatifitas memerlukan usaha.

 

 

Proses kreatif secara umum terbagi menjadi 4 tahap:

 

1.         Identifikasi data & masalah, dan mencari hubungan-hubungan yang mungkin terjadi.

2.         Mengkaji solusi yang mungkin.

3.         AHA

4.         Memeriksa kembali.

 

Petunjuk untuk Berpikir Kreatif

Prosedur dasar untuk berpikir kreatif adalah membiarkan pemikiran kita untuk menyebar ke segala arah (divergent thinking).

Agar berpikir ke segala arah bisa terjadi, ada beberapa petunjuk :

 

•           Jangan terlalu cepat mengambil keputusan.

•           Bangkitkan sejumlah besar ide-ide.

•           Menerima hal-hal yang tampaknya seperti tidak mungkin.

•           Membentuk hubungan.

 

Teknik berpikir kreatif

Ada beberapa teknik yang bisa digunakan untuk berpikir kreatif :

 

•           Brainstorming

•           Idea Writing

•           Mind Mapping

•           ANGLES ( Add, Not in order, Generalize, Lessen, Eliminate, Substitute)

•           Forcing New Connections

•           Relaxers Menggunakan Kreativitas

•           Praktekkan di dalam situasi personal

•           Catatlah penggunaannya

•           Gunakan segera

•           Mulailah dengan situasi yang tidak terlalu beresiko

•           Seringlah menggunakan teknik berpikir kreatif

•           Temukan tim pendukung

 

Asumsi Kreativitas

Terdapat enam asumsi kreativitas yang diangkat dari teori dan berbagai studi tentang kreativitas, yakni sebagai berikut.

a.         Setiap orang memiliki kemampuan kreatif dengan tingkat yang berbeda-beda tidak ada orang yang sama sekali tidak mempunyai kreativitas, seperti halnya tidak ada seorang pun manusia yang inteligensinya nol.

b.         Kreativitas dinyatakan dalam bentuk produk-produk kreatif, baik berupa benda maupun gagasan. Tinggi atau rendahnya kualitas karya kreatif seseorang dapat dinilai berdasarkan orisinalitas atau kebaruan karya itu dan sumbangannya secara konstruktif bagi perkembangan kebudayaan dan peradaban.

c.         Aktualisasi kreativitas merupakan hasil dari proses interaksi antara faktor-faktor psikologis (internal) dengan lingkungan (eksternal).

d.         Dalam diri seseorang dan lingkungannya terdapat faktor-faktor yang dapat menunjang atau justru menghambat perkembangan kreativitas.

e.         Kreativitas seseorang tidak berlangsung dalam kevakuman, melainkan didahului oleh hasil-hasil kreativitas orang-orang yang berkarya sebelumnya. Dapat dikatakan juga sebagai kemampuan seseorang menciptakan kombinasi baru dari hal yang telah ada sehinga menghasilkan sesuatu yang baru.

f.          Karya kreatif tidak lahir hanya karena kebetulan, melainkan melalui serangkaian proses kreatif yang menuntut kecakapan, keterampilan, dan motivasi yang kuat. Ada tiga factor yang menentukan prestasi kreatif seseorang, yaitu: motivasi atau komitmen yang tinggi, keterampilan dalam bidang yang ditekuni, dan kecakapan kreatif.

 

Namun jika dikerucutkan pada implementasi kehidupan sehari-hari maka dijabarkan seperti

 

•           Selalu mencari jawaban yang tertentu

Ketika ingin menciptakan sesuatu yg baru namun tetap dengan mindset atas pemikiran jawaban bahwa hal tersebut aneh dan buruk.

•           Selalu berpikir logis

Terpaku pada logika yang telah ada dan tidak ingin secara out of the box padahal kreativitas yang ingin diciptakan mungkin akan menjadi hal yang ditunggu-tunggu.

•           Mengikuti aturan secara kaku

Terlalu taat rules yg ada, itu sebenarnya baik namun untuk menciptakan sesuatu yang belum ada (baru) kita juga harus sedikit melenceng dari aturan (tetapi tetap kearah yg baik dan tidak merugikan pihak manapun).

•           Selalu berpikir praktis

Ingin semuanya lebih cepat selesai dengan jalan pintas. Padahal kreativitas tidaklah muncul dari sikap praktis yg cepat melainkan dengan konsep-konsep matang yang tentu diperhitungkan dimata pihak lain.

•           Selalu ingin menjadi spesialis

Menganggap hanya ahli dalam satu bidang. Pada kenyataanya keahlian seseorang bisa saja lebih dari satu (multi talenta) hanya saja orang tersebut menutup mata dan membatasi diri seakan tidak bisa dibidang lainnya. Melenceng dari jalur yang ada bisa menjadi nilai lebih jika dikembangkan.

•           Takut terlihat tolol

Ide-ide kreativitas yang antimainstream tentu akan asing dimata orang lain karena belum pernah terlihat dan dirasakan. Hal ini yg menjadi penghalang karena “malu” jika ide tersebut konyol dan gengsi jika terlihat bodoh.

•           Dihantui oleh sikap tidak kreatif

Merasa dirinya bukan seorang yg kreatif, tidak berbakat kreatif, dan selalu gagal berkreatifitas. Di kenyataannya, ini merupakan faktor penghambat internal diri karena belum pernah mencoba atau mungkin pernah namun gagal. Sebaiknya tetap harus berusaha dan jangan menyerah sampai menghasilkan sesuatu sesuai target diri.

 

Esensi kreativitas

 

o          Keputusan

Kreativitas lebih didasari dengan keputusan untuk melakukan sesuatu yg baru atau ide anti mainstream serta tidak terpaku pada penciptaan produk baru.

o          Intensional (Capturing)

Kreativitas dilakukan sesering mungkin tanpa terbatas tempat, waktu serta keadaan. Ide-ide tersebut jangan hanya lewat tetapi harus dilakukan dan dicatat setiap saat sehingga jika ada momen yg sesuai dapat berguna.

o          Identitas (Challanging)

Kreativitas yang terus menerus dilakukan akan menjadi image / melekat sebagai identitas bagi yang menjalankan. Sehingga ketika menghadapi sesuatu tantangan, kreativitas dapat menjadi solusi pemecah masalah.

 

Kesimpulan

Dalam berwirausaha dibutuhkan duet atau kombinasi utama dari Kreativitas dan Inovasi guna menjadi pihak yang berbeda serta berciri khas demi bersaing dengan para kompetitor. Hasil dari hal tersebut ialah sebuah pemikiran “One Step Ahead” atau satu langkah didepan dari para pesaing. Hal ini tentu menjadi sebuah pedoman dan keseharusan bagi para wirausahawan agar usaha yang dijalankan menjadi sukses dan terbranding dimata masyarakat.

 

 

REFRENSI

https://bbs.binus.ac.id/business-creation/2018/04/kreatif-dan-inovatif-dalam-berwirausaha/

https://www.daya.id/usaha/artikel-daya/pengembangan-diri/5-cara-meningkatkan-kreativitas-wirausaha-di-masa-pandemi

https://journal.unindra.ac.id/index.php/usaha/article/view/503